Teknikal
Teknikal.Net / Artikel / Biaya Transaksi Saham: Beli, Jual, dan Pajak — Panduan Lengkap Investor Pemula

Biaya Transaksi Saham: Beli, Jual, dan Pajak — Panduan Lengkap Investor Pemula

Banyak investor pemula yang fokus pada harga saham dan potensi keuntungan, tetapi lupa memperhitungkan biaya transaksi. Padahal, biaya-biaya ini bisa cukup signifikan dan memengaruhi keuntungan bersih Anda, terutama jika Anda sering melakukan trading (jual-beli) dalam jumlah kecil.

Artikel ini akan membahas secara lengkap semua biaya yang terkait dengan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), mulai dari saat beli, saat jual, hingga kewajiban pajak. Dengan memahami biaya ini, Anda bisa menghitung secara akurat berapa keuntungan riil yang Anda peroleh.

Mengapa Biaya Transaksi Saham Penting untuk Dipahami?

Bayangkan Anda membeli saham seharga Rp1.000.000 dan menjualnya di harga Rp1.100.000. Selisihnya Rp100.000 (10%) terlihat menguntungkan. Namun, setelah dipotong berbagai biaya, bisa jadi keuntungan bersih Anda hanya Rp80.000 atau bahkan lebih kecil. Jika Anda trading dalam jumlah kecil (misal 1-2 lot) dan sering keluar-masuk, biaya transaksi bisa menggerogoti hingga 30-50% dari keuntungan kotor Anda.

Memahami biaya transaksi membantu Anda:

  • Menentukan target harga jual yang realistis (setelah biaya).
  • Memilih frekuensi trading yang optimal (tidak terlalu sering jika biayanya besar).
  • Membandingkan biaya antar broker (karena komisi berbeda-beda).
  • Menghitung break-even point (harga minimal agar tidak rugi).

Jenis Biaya Transaksi Saham di Indonesia

Secara umum, biaya transaksi saham di BEI terbagi menjadi tiga kategori utama:

1. Biaya Beli Saham

Dibebankan saat Anda membeli saham.

2. Biaya Jual Saham

Dibebankan saat Anda menjual saham.

3. Pajak

Terdapat pajak yang dikenakan saat membeli (pajak pertambahan nilai atas jasa broker) dan saat menjual (pajak penghasilan final atas transaksi penjualan saham).

Berikut rincian masing-masing:


A. Biaya Saat Membeli Saham

Saat Anda membeli saham, ada dua komponen biaya utama:

1. Komisi Broker (Fee Broker)

Apa itu?
Komisi yang dibayarkan kepada perusahaan sekuritas (broker) atas jasa mereka memfasilitasi transaksi beli Anda. Setiap broker memiliki kebijakan komisi yang berbeda.

Besaran di Indonesia:

  • Broker konvensional (offline/telepon): 0,2% – 0,35% dari nilai transaksi.
  • Broker online (aplikasi trading): 0,1% – 0,2% dari nilai transaksi.
  • Broker dengan sistem fixed fee (biaya tetap): Misal Rp5.000 – Rp15.000 per transaksi, berapa pun nilai transaksinya (sangat menguntungkan untuk transaksi kecil).

Contoh perhitungan:
Anda membeli saham senilai Rp5.000.000 dengan broker yang mengenakan komisi 0,15%.
Komisi = 0,15% × Rp5.000.000 = Rp7.500.

Catatan: Beberapa broker memiliki komisi minimum (misal minimal Rp10.000 per transaksi). Jika 0,15% dari transaksi Anda hanya Rp3.000, Anda tetap akan dikenakan Rp10.000.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Komisi Broker

Apa itu?
PPN 11% (saat ini, bisa berubah sesuai kebijakan pemerintah) dikenakan atas jasa broker. PPN dihitung dari nilai komisi broker, bukan dari nilai transaksi saham.

Besaran: 11% × komisi broker.

Contoh (lanjutan):
Komisi broker = Rp7.500.
PPN = 11% × Rp7.500 = Rp825.

Total biaya beli = Komisi Broker + PPN
Rp7.500 + Rp825 = Rp8.325.


B. Biaya Saat Menjual Saham

Saat menjual saham, komponen biayanya lebih banyak:

1. Komisi Broker (Fee Broker) untuk Jual

Sama seperti saat beli, broker juga mengenakan komisi atas transaksi jual. Besaran biasanya sama persis dengan komisi beli (kecuali beberapa broker yang membedakan).

Contoh:
Nilai jual saham = Rp5.500.000.
Komisi broker (sama 0,15%) = 0,15% × Rp5.500.000 = Rp8.250.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Komisi Jual

Sama seperti beli, PPN 11% dikenakan atas komisi broker untuk transaksi jual.

PPN = 11% × Rp8.250 = Rp907,5 (dibulatkan Rp908).

3. Pajak Penghasilan (PPh) Final atas Penjualan Saham

Apa itu?
Pajak penghasilan yang dikenakan atas setiap transaksi penjualan saham di bursa. Pajak ini bersifat final (tidak perlu dihitung lagi di SPT Tahunan Anda, sudah lunas).

Besaran: 0,1% dari nilai transaksi jual (bukan dari keuntungan).

Penghitungan:
PPh Final = 0,1% × nilai jual saham.

Contoh (lanjutan):
Nilai jual = Rp5.500.000.
PPh Final = 0,1% × Rp5.500.000 = Rp5.500.

Khusus saham IPO (perdana): Terdapat tarif khusus untuk penjualan saham perdana di tahun pertama? Tidak. Aturan 0,1% tetap berlaku. Namun, untuk saham pendiri (founder shares) yang dijual di bursa, ada aturan tambahan (biasanya 0,1% + 0,5% untuk saham pendiri di tahun pertama, tetapi ini jarang untuk investor ritel).

Pengecualian: Jika Anda badan (PT/CV) atau investor asing, mungkin ada tarif berbeda (biasanya lebih tinggi). Untuk investor individu residen (WNI yang tinggal di Indonesia), tarif 0,1% final.

4. Biaya Lain: Biaya Kliring dan Penyimpanan (Tersembunyi)

Secara teknis, ada biaya kliring (KPEI) dan biaya penyimpanan (KSEI). Namun, biaya ini biasanya sudah termasuk dalam komisi broker dan tidak dipisahkan secara eksplisit untuk investor ritel. Jadi, Anda tidak perlu menghitung tambahan.

Sebagai informasi: Biaya kliring sekitar 0,01% – 0,03% dari nilai transaksi, dan biaya penyimpanan efek (untuk saham yang ditahan) biasanya beberapa ratus rupiah per bulan per jenis efek, tetapi broker menanggungnya atau membebankan dalam komisi.

Total biaya untuk transaksi jual = Komisi Jual + PPN komisi jual + PPh Final
Rp8.250 + Rp908 + Rp5.500 = Rp14.658.


C. Biaya Lain yang Jarang Diketahui

1. Biaya Transfer Dana (Deposit dan Withdrawal)

Sebagian besar broker tidak membebankan biaya transfer untuk menyetor dana ke RDN (melalui transfer bank biasa). Namun, untuk penarikan dana (withdrawal) dari RDN ke rekening pribadi, beberapa broker mengenakan biaya administrasi (biasanya Rp5.000 – Rp15.000 per penarikan). Ada juga broker yang gratis untuk penarikan di atas jumlah tertentu (misal di atas Rp1.000.000).

2. Biaya admin bulanan / tahunan

Sebagian besar broker saham di Indonesia TIDAK mengenakan biaya admin bulanan seperti rekening bank. Namun, beberapa broker sekuritas (terutama yang menyediakan riset premium) mungkin mengenakan biaya keanggotaan bulanan (misal Rp10.000 – Rp50.000). Pastikan Anda membaca syarat dan ketentuan sebelum membuka rekening.

3. Biaya atas dividen

Saat Anda menerima dividen, tidak ada biaya langsung dari KSEI atau broker. Namun, dividen dikenai pajak penghasilan final:

  • Untuk investor dengan NPWP: 10% dari dividen.
  • Untuk investor tanpa NPWP: 20% dari dividen.

Pajak ini otomatis dipotong oleh emiten (perusahaan) saat membagikan dividen. Anda menerima dividen bersih setelah pajak.

4. Biaya atas right issue / waran

Jika Anda mengikuti right issue (membeli saham baru dengan harga diskon), tidak ada biaya khusus selain komisi transaksi biasa saat Anda menjual saham hasil right issue nanti. Demikian pula dengan pelaksanaan waran (konversi waran ke saham) — ada biaya administrasi kecil (biasanya Rp10.000 – Rp50.000 per konversi, tergantung broker).


Ringkasan Tabel Biaya Transaksi Saham

Komponen BiayaArahBesaran (dari nilai transaksi)Pihak Penerima
Komisi broker (beli)Beli0,1% – 0,35% (tergantung broker)Broker sekuritas
PPN atas komisi broker (beli)Beli11% × komisi brokerPemerintah (via broker)
Komisi broker (jual)Jual0,1% – 0,35% (tergantung broker)Broker sekuritas
PPN atas komisi broker (jual)Jual11% × komisi brokerPemerintah (via broker)
PPh Final (penjualan saham)Jual0,1% × nilai jualPemerintah (via broker)
PPh Final (dividen)Saat terima dividen10% (dengan NPWP) / 20% (tanpa NPWP) × dividen brutoPemerintah (via emiten)

Catatan: PPN untuk komisi broker mengikuti tarif PPN yang berlaku saat ini (11% per April 2022, akan naik menjadi 12% pada 2025 sesuai UU HPP). Pastikan menggunakan tarif terbaru.


Contoh Perhitungan Lengkap: Satu Siklus Beli-Jual

Mari kita buat simulasi lengkap dari pembelian hingga penjualan saham.

Data awal:

  • Investor: Budi (WNI, punya NPWP).
  • Broker: Sekuritas Online dengan komisi 0,15% untuk beli dan jual (minimum Rp10.000 per transaksi).
  • Tarif PPN: 11%.
  • Tarif PPh Final penjualan saham: 0,1%.

Langkah 1: Membeli Saham

Budi membeli 10 lot (1.000 lembar) saham PT ABC dengan harga Rp1.500 per lembar.

  • Nilai transaksi beli = 1.000 × Rp1.500 = Rp1.500.000
  • Komisi broker (beli) = 0,15% × Rp1.500.000 = Rp2.250 → karena masih di bawah minimum Rp10.000, Budi dikenakan Rp10.000
  • PPN atas komisi = 11% × Rp10.000 = Rp1.100

Total biaya beli = Rp1.500.000 (harga saham) + Rp10.000 (komisi) + Rp1.100 (PPN) = Rp1.511.100

Dana yang harus disiapkan Budi: Rp1.511.100


Langkah 2: Menahan Saham (Tidak Ada Biaya)

Budi menahan saham selama 3 bulan. Tidak ada biaya bulanan.


Langkah 3: Menjual Saham

Beberapa bulan kemudian, harga saham PT ABC naik menjadi Rp1.800 per lembar. Budi menjual seluruh 1.000 lembar.

  • Nilai transaksi jual = 1.000 × Rp1.800 = Rp1.800.000
  • Komisi broker (jual) = 0,15% × Rp1.800.000 = Rp2.700 → masih di bawah minimum Rp10.000, dikenakan Rp10.000
  • PPN atas komisi jual = 11% × Rp10.000 = Rp1.100
  • PPh Final (0,1%) = 0,1% × Rp1.800.000 = Rp1.800

Total potongan saat jual = Rp10.000 (komisi) + Rp1.100 (PPN) + Rp1.800 (PPh) = Rp12.900

Dana bersih yang diterima Budi = Rp1.800.000 – Rp12.900 = Rp1.787.100


Langkah 4: Menghitung Keuntungan Bersih

  • Total dana keluar (beli) = Rp1.511.100
  • Total dana masuk (jual bersih) = Rp1.787.100
  • Keuntungan bersih = Rp1.787.100 – Rp1.511.100 = Rp276.000

Keuntungan kotor (tanpa biaya) = (Rp1.800 – Rp1.500) × 1.000 = Rp300.000
Keuntungan bersih (setelah biaya) = Rp276.000

Biaya total yang dibayar = Rp300.000 – Rp276.000 = Rp24.000 (terdiri dari biaya komisi + PPN + PPh).

Persentase biaya terhadap keuntungan kotor = Rp24.000 / Rp300.000 = 8%.
Ini lumayan besar. Jika Budi hanya untung Rp100.000 kotor, biaya bisa mencapai 24% dari keuntungan.


Dampak Biaya Transaksi Terhadap Strategi Trading

1. Trading Frekuensi Tinggi (Day Trading / Scalping)

Jika Anda melakukan puluhan transaksi beli-jual dalam sehari, biaya komisi dan PPh bisa sangat besar. Contoh:

  • 20 transaksi (10 kali beli + 10 kali jual) per hari.
  • Rata-rata nilai transaksi Rp2.000.000.
  • Komisi 0,15% per transaksi (dengan minimum Rp10.000).

Maka per transaksi: biaya komisi + PPN + PPh sekitar Rp16.000 – Rp20.000.
20 transaksi = Rp320.000 – Rp400.000 biaya per hari. Dalam sebulan (20 hari trading) = Rp6,4 juta – Rp8 juta hanya untuk biaya. Keuntungan trading Anda harus di atas itu untuk impas.

Solusi: Gunakan broker dengan komisi fixed fee (misal Rp5.000 – Rp10.000 per transaksi tanpa persentase) atau broker dengan komisi persentase sangat rendah (0,05% – 0,1%) jika nilai transaksi Anda besar.

2. Investasi Jangka Panjang (Buy and Hold)

Untuk investasi jangka panjang (menahan saham bertahun-tahun), biaya transaksi hanya terjadi dua kali (sekali beli, sekali jual). Dampaknya terhadap keuntungan total relatif kecil (biasanya <5% dari total nilai investasi, apalagi jika nilai investasi besar).

Namun, jangan lupa pajak dividen 10% per tahun. Jika saham Anda memberi dividen 5% per tahun, pajak 10% dari dividen itu berarti “kehilangan” 0,5% per tahun. Dalam 10 tahun, ini bisa mengurangi return total beberapa persen.

3. Trading dengan Modal Kecil (1-2 lot)

Ini adalah kelompok yang paling rentan terhadap biaya transaksi. Contoh:

  • Beli 1 lot saham Rp1.000.000.
  • Komisi minimum Rp10.000 (sudah 1% dari nilai transaksi!).
  • PPN komisi Rp1.100, total biaya beli = 1,11%.
  • Saat jual, komisi lagi Rp10.000 + PPN Rp1.100 + PPh 0,1% (Rp1.000 jika harga jual sama) → total biaya jual sekitar 1,21%.
  • Total biaya bolak-balik = 2,32% dari nilai investasi.

Artinya, Anda harus mendapatkan keuntungan minimal 2,32% hanya untuk impas (tidak rugi). Jika Anda hanya profit 1%, Anda tetap rugi bersih.

Solusi untuk modal kecil: Cari broker dengan fixed fee rendah (misal Rp5.000 per transaksi) atau broker yang menghapus komisi minimum. Hindari trading terlalu sering.


Cara Memilih Broker Berdasarkan Biaya Transaksi

Tidak semua broker cocok untuk semua investor. Pilih berdasarkan profil Anda:

Untuk Trader Aktif (Banyak Transaksi, Nilai per Transaksi Sedang/Besar)

  • Cari broker dengan komisi persentase rendah (0,05% – 0,1%).
  • Pastikan tidak ada komisi minimum yang terlalu tinggi (atau minimal rendah).
  • Contoh: Beberapa broker online menawarkan 0,1% tanpa minimum.

Untuk Trader Modal Kecil (Nilai per Transaksi < Rp5 Juta)

  • Cari broker dengan fixed fee (Rp5.000 – Rp10.000 per transaksi). Ini lebih murah daripada 0,15% yang menghasilkan Rp7.500 – Rp15.000 per transaksi.
  • Hindari broker dengan komisi minimum tinggi (Rp20.000 – Rp50.000).

Untuk Investor Jangka Panjang (Frekuensi Rendah, Nilai Besar)

  • Komisi persentase tidak terlalu berpengaruh karena hanya 2 kali transaksi.
  • Pilih broker dengan reputasi baik dan layanan riset/akses yang memadai, meskipun komisinya sedikit lebih tinggi (0,2%).

Biaya Tersembunyi: Apa yang Tidak Ditulis di Brosur Broker?

Selain komisi dan pajak, perhatikan hal-hal berikut:

1. Selisih Harga (Spread) Bukan Biaya, Tapi…

Spread (beda harga beli dan jual) bukan biaya yang dikenakan broker, tetapi biaya implisit. Misal harga bid (beli) Rp1.000, ask (jual) Rp1.010. Anda beli di Rp1.010 dan jika langsung jual, hanya dapat Rp1.000. Spread 1% ini adalah “biaya” yang harus Anda tanggung.

2. Biaya Inaktivitas

Beberapa broker mengenakan biaya bulanan jika Anda tidak bertransaksi dalam jangka waktu tertentu (misal 6 bulan tidak ada aktivitas). Biaya ini biasanya Rp10.000 – Rp20.000 per bulan. Bacalah syarat dan ketentuan.

3. Biaya Penutupan Rekening

Tidak umum, tetapi beberapa broker mengenakan biaya admin jika Anda menutup rekening efek (biasanya Rp50.000 – Rp100.000).


Tips Mengoptimalkan Biaya Transaksi

  1. Hitung break-even price sebelum memutuskan jual.
    Gunakan rumus:
    Harga jual minimal = Harga beli × (1 + (Total biaya beli+jual dalam persen))
    Dengan biaya total sekitar 0,3% – 0,5% (untuk transaksi besar) hingga 2-3% (untuk transaksi kecil).
  2. Gabungkan order beli/jual jika Anda ingin membeli beberapa saham sekaligus. Daripada beli 5 saham berbeda dengan 5 kali transaksi (5 biaya komisi), lebih baik beli sekaligus dalam satu order jika memungkinkan? Tidak bisa karena beda saham. Tapi untuk saham yang sama, beli sekaligus tidak dipecah.
  3. Hindari trading terlalu sering jika modal kecil. Biaya akan menghabiskan keuntungan.
  4. Gunakan limit order (pesan dengan harga tertentu) daripada market order, untuk mengontrol harga beli/jual dan mengurangi slippage (yang juga biaya implisit).
  5. Pilih broker dengan biaya transparan. Jangan tergiur komisi super rendah tetapi kemudian ada biaya admin bulanan atau biaya penarikan yang tinggi.
  6. Manfaatkan program loyalitas broker (cashback, komisi lebih rendah untuk volume tinggi). Untuk trader besar, negosiasikan komisi.
  7. Setor dana sekaligus besar, jangan bertahap kecil, untuk menghindari biaya transfer penarikan yang banyak (jika ada).

Perbandingan Biaya Antar Broker (Ilustrasi)

BrokerKomisi beli/jualMinimum komisiPPNPPh FinalBiaya bulananCocok untuk
Broker A (full service)0,30%Rp25.00011%0,1%Tidak adaInvestor korporasi, nilai besar
Broker B (online)0,15%Rp10.00011%0,1%Tidak adaInvestor ritel umum
Broker C (fixed fee)Rp5.000 per transaksiTidak ada (fixed)11% dari Rp5.0000,1%Tidak adaTrader kecil & aktif
Broker D (premium)0,10%Rp15.00011%0,1%Rp20.000 (jika tidak transaksi > 3 bulan)Trader besar

Catatan: Angka di atas hanya ilustrasi. Setiap broker dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu cek website broker terbaru sebelum membuka rekening.


Kesalahan Umum Terkait Biaya Transaksi

1. Hanya Fokus pada Komisi Broker, Lupa PPN dan PPh

Banyak investor mengira “komisi saya 0,1%, jadi biaya hanya 0,1%”. Padahal setelah ditambah PPN 11% dari komisi dan PPh 0,1% untuk jual, total biaya menjadi sekitar 0,1% (beli) + 0,011% (PPN beli) + 0,1% (jual) + 0,011% (PPN jual) + 0,1% (PPh) = 0,322% untuk satu siklus (beli lalu jual). Angka ini 3 kali lipat dari asumsi awal.

2. Trading dengan Uang Pas-pasan tanpa Memperhitungkan Biaya

Anda memiliki Rp1.000.000 dan ingin membeli saham Rp1.000 per lembar (1.000 lembar = 10 lot). Tanpa biaya, cukup Rp1.000.000. Dengan biaya beli 0,3%, Anda butuh tambahan Rp3.000. Jika tidak menyiapkan, order gagal.

3. Tidak Memanfaatkan Tax Loss Harvesting

Jika Anda rugi, tetap bayar biaya transaksi (komisi, PPN, PPh) saat jual. Tidak ada pengurangan pajak atas kerugian (di Indonesia, capital loss tidak bisa dikompensasikan untuk mengurangi pajak capital gain lainnya, karena PPh final 0,1% sudah dikenakan setiap transaksi jual tanpa melihat untung-rugi).

4. Sering Ganti Broker Hanya karena Komisi Lebih Rendah

Pindah broker butuh waktu, tenaga, dan mungkin biaya transfer aset. Hitung dulu apakah selisih komisi cukup signifikan untuk menutup biaya dan waktu yang dikeluarkan.


Glosarium Biaya Transaksi

  • Komisi Broker: Imbalan jasa broker untuk memfasilitasi transaksi jual-beli.
  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai): Pajak atas jasa broker (11%).
  • PPh Final 0,1%: Pajak penghasilan final atas transaksi penjualan saham di bursa.
  • PPh Dividen 10%: Pajak final atas dividen (dipotong emiten).
  • Settlement: Proses penyelesaian transaksi (perpindahan dana dan efek).
  • RDN (Rekening Dana Nasabah): Rekening penampung dana untuk transaksi saham.
  • Spread: Selisih harga beli (bid) dan harga jual (ask) — bukan biaya eksplisit, tetapi biaya implisit.

Kesimpulan

Biaya transaksi saham terdiri dari komisi broker (beli dan jual), PPN 11% atas komisi broker, dan PPh Final 0,1% atas nilai jual (khusus untuk penjualan). Saat menerima dividen, ada pajak final 10% (dengan NPWP) atau 20% (tanpa NPWP).

Total biaya satu siklus beli lalu jual (tanpa dividen) berkisar antara 0,3% hingga 0,6% dari nilai transaksi untuk investor dengan nilai transaksi besar, dan bisa mencapai 2-3% untuk investor dengan transaksi kecil (1-2 lot) karena komisi minimum.

Memahami biaya-biaya ini sangat penting karena:

  • Memengaruhi perhitungan keuntungan bersih.
  • Menentukan strategi trading yang tepat (frekuensi, modal minimal, pemilihan broker).
  • Membantu Anda membandingkan broker secara objektif.

Pesan akhir: Jangan hanya mencari “komisi rendah”, tetapi hitung total biaya keseluruhan (termasuk PPN, PPh, dan komisi minimum). Pilih broker yang sesuai dengan profil trading Anda. Dan yang terpenting, pastikan potensi keuntungan Anda secara signifikan lebih besar dari total biaya transaksi. Selamat berinvestasi dengan cerdas!

Artikel menarik lainnya:

  1. Ribuan Skenario Masa Depan: Analisis Monte Carlo untuk Proyeksi Laba dalam Investasi Saham
  2. Goodwill & Intangible Asset: Aset Tak Terlihat yang Bisa Menjebak Investor
  3. Risk Based Capital (RBC): Alat Ukur Ketahanan Finansial Emiten Asuransi
  4. Rebalancing Tanpa Jual Beli: Memanfaatkan Aliran Dividen untuk Menjaga Keseimbangan Portofolio
  5. Satellite Portfolio: Menambah Power dengan Small Cap dan Komoditas
  6. Volume Weighted Average Price (VWAP) – Acuan Harga Wajar Versi Institutional
  7. Perbedaan Trading Saham Reguler vs Cash Market: Panduan Lengkap untuk Pemula
  8. Dollar Cost Averaging (DCA): Strategi Disiplin Mengakumulasi Saham Tanpa Perlu Tebak Waktu
  9. Dua Wajah Riset: Membandingkan Kapitalisasi vs Beban Langsung R&D dalam Analisis Saham
  10. Mengendalikan Euforia saat Pasar Bullish Ekstrem: Saat Bahagia Justru Berbahaya

Teknikal

    Platform analisa teknikal saham harian.


  • Halaman Depan
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

  • Volume Spike
  • Top Win Rate
  • Top Profit
  • Top Gainer
  • Top Loser
  • Top Value
  • Top Volume
  • Top Frekuensi
  • Top Pembelian Asing

  • Top Penjualan Asing
  • Top Asing Net Buy
  • Top Asing Net Sell
  • Top Volume (Pasar Nego & Tunai)
  • Top Transaksi (Pasar Nego & Tunai)
  • Saham Termahal
  • Saham Termurah
  • Semua Saham

© 2025 Teknikal.Net - All rights reserved. Data provided for educational purposes only.
Dukung kami untuk mengelola website ini dengan membelikan secangkir kopi melalui Saweria. Terima kasih