Saat pertama kali membuka aplikasi trading saham, mata Anda akan disuguhi berbagai istilah asing yang bertebaran di layar. Dua yang paling membingungkan biasanya adalah Bid dan Offer (atau Ask), lalu diikuti oleh Last dan Volume. Memahami keempat istilah ini bukanlah pilihan, melainkan keharusan mutlak sebelum Anda melakukan transaksi jual beli saham yang sebenarnya.
Artikel ini akan membahas secara mendalam arti dari Bid, Offer, Last, dan Volume, bagaimana cara membacanya, serta strategi sederhana menggunakan keempat istilah ini untuk mengambil keputusan yang lebih cerdas di pasar saham.
Bagian 1: Bid (Harga Beli Tertinggi)
Apa Itu Bid?
Bid adalah harga tertinggi yang bersedia dibayarkan oleh seorang pembeli untuk membeli suatu saham pada saat itu juga. Singkatnya, ini adalah tawaran harga beli terbaik dari para calon pembeli yang sedang menunggu di pasar.
Bayangkan Anda sedang berada di pasar loak. Sebuah tas dijual dengan harga Rp 100.000, tetapi ada seorang pembeli lain yang berteriak, “Saya mau beli tas ini seharga Rp 95.000!” Teriakan itulah yang disebut sebagai Bid. Di pasar saham, Bid dikumpulkan dari semua investor yang memasang order beli, dan yang tertinggi akan tampil di layar Anda.
Bagaimana Cara Membaca Bid?
Dalam aplikasi trading, Bid biasanya ditampilkan sebagai:
Bid: 9.000 (50 lot)
Artinya:
- 9.000 = Harga tertinggi yang ditawarkan pembeli adalah Rp 9.000 per lembar saham.
- 50 lot = Pada harga Rp 9.000 tersebut, ada permintaan pembelian sebanyak 50 lot (1 lot = 100 lembar, jadi 50 lot = 5.000 lembar saham).
Mengapa Bid Penting?
- Ini adalah harga jual Anda: Jika Anda ingin menjual saham dengan segera (menggunakan market order), Anda akan menjualnya di harga Bid. Semakin tinggi angka Bid, semakin menguntungkan bagi Anda sebagai penjual.
- Menunjukkan minat beli: Jika angka Bid terus naik dan volumenya besar, itu pertanda banyak pembeli antusias, yang biasanya akan mendorong harga naik.
- Sebagai patokan order limit: Jika Anda ingin memasang order beli, jangan pasang di atas Bid kecuali Anda benar-benar ingin membeli cepat. Pasang di angka yang sama atau sedikit di bawahnya.
Bagian 2: Offer / Ask (Harga Jual Terendah)
Apa Itu Offer?
Offer (atau sering disebut Ask) adalah harga terendah yang diminta oleh seorang penjual untuk menjual sahamnya pada saat itu juga. Kebalikan dari Bid, ini adalah tawaran harga jual termurah dari para penjual yang antre.
Masih dengan analogi pasar loak, saat penjual tas memasang harga Rp 100.000, tetapi ada pembeli yang hanya mau Rp 95.000, si penjual mungkin akan berteriak, “Baiklah, saya lepas Rp 98.000!” Itulah Offer: harga jual terendah yang bersedia diterima penjual.
Bagaimana Cara Membaca Offer?
Dalam aplikasi trading, Offer biasanya tampil bersebelahan dengan Bid:
Offer: 9.050 (20 lot)
Artinya:
- 9.050 = Harga terendah yang diminta penjual adalah Rp 9.050 per lembar.
- 20 lot = Pada harga Rp 9.050 tersebut, ada penawaran jual sebanyak 20 lot (2.000 lembar).
Mengapa Offer Penting?
- Ini adalah harga beli Anda: Jika Anda ingin membeli saham dengan segera (market order), Anda harus membayar di harga Offer. Semakin rendah angka Offer, semakin murah bagi Anda sebagai pembeli.
- Menunjukkan tekanan jual: Jika angka Offer turun terus atau volumenya membengkak, itu pertanda banyak penjual saling memotong harga, yang biasanya akan menekan harga turun.
- Patokan order jual: Jika Anda ingin memasang order jual, jangan pasang di bawah Offer kecuali Anda terdesak. Pasang di angka yang sama atau sedikit di atasnya.
Bagian 3: Spread (Selisih Bid dan Offer)
Spread adalah selisih antara harga Bid dan harga Offer. Meskipun sering tidak ditampilkan secara eksplisit, Spread adalah salah satu indikator paling penting dari likuiditas suatu saham.
Cara Menghitung Spread
Spread = Harga Offer – Harga Bid
Contoh:
- Bid = 9.000, Offer = 9.050 → Spread = 50 poin.
Makna Spread:
| Spread | Likuiditas | Contoh Saham |
|---|---|---|
| Kecil (10-25 poin) | Sangat likuid | Blue chip (BBCA, TLKM, ASII) |
| Sedang (25-100 poin) | Cukup likuid | Second liner menengah |
| Besar (>100 poin) | Tidak likuid | Saham kecil, gorengan |
Tips untuk pemula: Sebisa mungkin bertransaksi di saham dengan spread kecil. Spread yang besar adalah biaya tersembunyi. Jika Anda membeli di Offer 9.050 dan langsung menjual di Bid 9.000, Anda sudah rugi 50 poin (sekitar 0,55%) hanya karena spread, belum lagi biaya transaksi.
Bagian 4: Last (Harga Transaksi Terakhir)
Apa Itu Last?
Last adalah harga dari transaksi terakhir yang benar-benar terjadi antara pembeli dan penjual. Berbeda dengan Bid dan Offer yang merupakan “tawaran”, Last adalah “realita” yang sudah terjadi.
Dalam pasar loak, Last adalah harga final saat pembeli dan penjual bersepakat. Misalnya setelah tawar-menawar, transaksi terjadi di Rp 9.025. Angka Rp 9.025 itulah Last.
Bagaimana Cara Membaca Last?
Di aplikasi trading, Last biasanya ditampilkan dalam ukuran huruf paling besar, sering disertai perubahan warna:
Last: 9.025 (+25)
Artinya:
- Harga transaksi terakhir adalah Rp 9.025.
- (+25) artinya naik 25 poin dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya.
Hubungan Last dengan Bid dan Offer
Dalam kondisi pasar normal, Last akan selalu berada di antara Bid dan Offer, atau tepat di salah satunya.
- Jika Last mendekati Bid: Artinya transaksi terakhir terjadi karena ada penjual yang “menyerah” dan menjual di harga bid. Ini sinyal negatif, tekanan jual tinggi.
- Jika Last mendekati Offer: Artinya transaksi terakhir terjadi karena pembeli yang “kejar” dan membeli di harga offer. Ini sinyal positif, tekanan beli tinggi.
- Jika Last = Bid: Artinya transaksi terakhir terjadi karena seller memenuhi order buyer di harga bid (seller agresif menjual).
- Jika Last = Offer: Artinya transaksi terakhir terjadi karena buyer memenuhi order seller di harga offer (buyer agresif membeli).
- Jika Last di antara Bid dan Offer: Artinya ada kesepakatan di harga tengah (biasanya karena kedua pihak menggunakan limit order yang bertemu).
Bagian 5: Volume (Jumlah Saham yang Diperdagangkan)
Apa Itu Volume?
Volume adalah jumlah total lembar saham yang sudah berpindah tangan dalam suatu periode perdagangan (biasanya satu hari). Volume menunjukkan seberapa aktif suatu saham diperdagangkan.
Di pasar loak, Volume adalah jumlah total tas yang berhasil dijual hari itu. Jika 1.000 tas laku, maka volumenya 1.000 unit.
Cara Membaca Volume
Volume biasanya ditampilkan dalam bentuk angka besar atau grafik batang di bagian bawah halaman saham.
Contoh: Volume 25.000.000 artinya 25 juta lembar saham sudah berpindah tangan. Beberapa aplikasi menampilkan dalam lot (1 lot = 100 lembar). Maka 25.000.000 lembar = 250.000 lot.
Makna Volume yang Tinggi vs Rendah
| Kondisi | Interpretasi |
|---|---|
| Volume tinggi + Harga naik | Sangat bullish. Banyak pembeli masuk dengan keyakinan kuat. Tren naik cenderung berlanjut. |
| Volume tinggi + Harga turun | Sangat bearish. Banyak penjual keluar dengan panik. Tren turun cenderung berlanjut. |
| Volume rendah + Harga naik | Kenaikan tanpa dukungan. Rawan koreksi karena sedikit pembeli saja bisa mengerek harga. |
| Volume rendah + Harga turun | Penurunan tanpa kepanikan. Bisa jadi hanya koreksi kecil, tetapi juga bisa berlanjut. |
Volume vs Nilai (Value)
Jangan tertukar antara Volume dan Value:
- Volume = Jumlah lembar (unit).
- Value = Total uang yang berpindah (dalam rupiah). Value = Volume × Harga rata-rata.
Contoh: Volume 10 juta lembar di harga Rp 1.000 memiliki value Rp 10 miliar, berbeda dengan volume 10 juta lembar di harga Rp 10.000 yang valuenya Rp 100 miliar.
Bagian 6: Keempat Istilah dalam Satu Layar Nyata
Mari kita lihat contoh tampilan aplikasi trading dari sebuah saham fiktif, PT Makmur Jaya (kode: MKMR):
┌─────────────────────────────────────┐ │ MKMR │ │ Last: 1.500 (+25 / +1,69%) │ │ Volume: 75.000.000 lembar │ │ Value: Rp 112,5 Miliar │ │ │ │ Bid: 1.495 (120 lot) │ │ Offer: 1.505 (80 lot) │ │ Spread: 10 poin │ └─────────────────────────────────────┘
Analisis singkat:
- Last di 1.500 berarti transaksi terakhir terjadi di harga ini.
- Spread 10 poin sangat kecil → saham likuid, baik untuk trading.
- Bid di 1.495 dengan 120 lot → banyak pembeli antre di harga 1.495.
- Offer di 1.505 dengan 80 lot → ada 8.000 lembar siap dijual di 1.505.
- Volume 75 juta cukup tinggi → pergerakan hari ini didukung partisipasi luas.
Apa yang bisa dilakukan trader?
- Jika ingin beli cepat, Anda harus bayar di 1.505 (offer).
- Jika ingin jual cepat, Anda akan dapat di 1.495 (bid).
- Jika tidak terburu-buru, pasang limit beli di 1.495 atau 1.500, atau limit jual di 1.505 atau 1.510.
- Volume besar + spread kecil + last di tengah menunjukkan pasar sehat, tidak dominan satu pihak.
Bagian 7: Kesalahan Umum Pemula
Kesalahan 1: Hanya Melihat Last, Mengabaikan Bid dan Offer
Banyak pemula melihat Last lalu langsung pasang order pasar tanpa memperhatikan bid/offer. Akibatnya, mereka membeli di Offer yang lebih tinggi atau menjual di Bid yang lebih rendah dari ekspektasi.
Solusi: Selalu lihat Bid dan Offer sebelum bertransaksi.
Kesalahan 2: Mengira Volume Kecil Itu Baik
Pemula sering mengira volume kecil berarti “sepi pesaing”. Padahal volume kecil artinya likuiditas buruk. Anda mungkin sulit menjual kembali saat butuh uang, atau harus memotong harga sangat dalam.
Solusi: Prioritaskan saham dengan volume harian di atas 10 juta lembar untuk pemula.
Kesalahan 3: Terpaku pada Spread Kecil tetapi Mengabaikan Biaya
Spread 10 poin memang kecil. Namun di saham berharga Rp 200, spread 10 poin = 5%! Itu sangat besar.
Solusi: Hitung persentase spread = (Spread ÷ Harga) × 100%. Idealnya di bawah 0,5%.
Kesalahan 4: Salah Membaca Satuan (Lembar vs Lot)
Beberapa aplikasi menampilkan volume dalam lot, beberapa dalam lembar. Kesalahan membaca bisa membuat Anda mengira order 1 lot sebagai 1 lembar.
Solusi: Pastikan Anda tahu satuan yang digunakan aplikasi Anda. Di BEI, 1 lot = 100 lembar.
Bagian 8: Strategi Sederhana Menggunakan Bid, Offer, Last, dan Volume
Strategi 1: Scalping (Keuntungan Tipis Cepat)
Cari saham dengan spread sangat kecil (10-20 poin) dan volume besar. Beli di Bid saat bid naik, atau jual di Offer saat offer turun. Keuntungan diambil dari selisih kecil yang berulang.
Strategi 2: Konfirmasi Breakout
Saat harga menembus level resistance: pastikan volume melonjak (minimal 1,5x volume rata-rata) dan Last menembus offer dengan tegas. Jika volume rendah, breakout palsu.
Strategi 3: Menentukan Harga Order Limit
- Order Beli: Pasang di harga Bid saat ini (atau 1-2 poin di atasnya jika ingin sedikit prioritas).
- Order Jual: Pasang di harga Offer saat ini (atau 1-2 poin di bawahnya jika ingin cepat laku).
Strategi 4: Mendeteksi Manipulasi
Jika Bid dan Offer sangat jauh (spread besar) tetapi tiba-tiba Last melonjak tanpa volume wajar, hati-hati itu bisa sinyal manipulasi (mark up palsu).
Kesimpulan
Bid, Offer, Last, dan Volume adalah fondasi pemahaman teknis yang paling dasar namun paling krusial bagi setiap trader pemula. Keempat istilah ini ibarat spedometer, indikator bensin, dan lampu peringatan di dashboard mobil Anda. Tanpa memahaminya, Anda akan mengemudi di pasar saham secara buta.
Ringkasan cepat:
- Bid: Harga terbaik yang bisa Anda dapatkan saat menjual segera.
- Offer/Ask: Harga termahal yang harus Anda bayar saat membeli segera.
- Last: Harga transaksi nyata terakhir yang terjadi.
- Volume: Seberapa ramai suatu saham diperdagangkan.
- Spread: Biaya tersembunyi dari ketidakcocokan bid dan ask.
Sebelum Anda melakukan transaksi sungguhan, luangkan waktu untuk mengamati keempat istilah ini pada berbagai saham. Gunakan mode “paper trading” atau akun demo jika tersedia. Setelah benar-benar paham, barulah mulai dengan nominal kecil.
Ingatlah pepatah di kalangan trader profesional: “Bid dan Ask adalah tempat transaksi terjadi. Last hanyalah kenangan. Volume adalah bukti.” Selamat belajar dan semoga sukses di perjalanan trading Anda!
Artikel menarik lainnya:
- Mengenal ADX: Mengukur Kekuatan Tren dengan Plus DI dan Minus DI
- Saham vs Judi: Perbedaan Fatal yang Wajib Anda Pahami
- Factor Investing: Pendekatan Sistematis untuk Mendapatkan Kelebihan Return
- Regret Aversion: Ketika Ketakutan Akan Penyesalan Melumpuhkan Keputusan Investasi Anda
- Accumulation/Distribution Line (A/D Line) – Mengukur Aliran Uang yang Sebenarnya
- Loss Aversion: Mengapa Cut Loss Terasa Lebih Sulit daripada Membeli
- Climax Volume: Volume Ekstrim di Ujung Tren sebagai Tanda Kelelahan
- Island Gap: Ketika Harga Terdampar Sendirian Sebelum Berbalik Arah
- The Outside Bar: Mirip Engulfing tapi dalam Konteks Swing Trading
- Qstick: Mengukur Kekuatan Sebenarnya dari Setiap Periode Perdagangan