Saat Anda membeli dan menjual saham, pertanyaan pertama yang muncul biasanya: “Berapa sih untung atau rugi saya?” Aplikasi trading memang sudah menampilkan informasi ini secara otomatis. Namun, memahami cara menghitung secara manual sangat penting. Mengapa? Karena Anda akan lebih paham komponen biaya, tidak mudah tertipu tampilan angka, dan bisa melakukan simulasi “bagaimana jika” sebelum benar-benar bertransaksi.
Artikel ini akan membahas secara lengkap cara menghitung profit/loss (keuntungan/kerugian) saham secara manual, lengkap dengan rumus, contoh kasus, dan berbagai skenario (kepemilikan tunggal, rata-rata harga, jual sebagian, dividen, dll).
Istilah Dasar yang Harus Dipahami
Sebelum masuk ke rumus, pahami dulu istilah-istilah berikut:
| Istilah | Arti |
|---|---|
| Nilai Beli (Total Cost) | Harga beli per lembar × jumlah lembar + biaya beli (komisi + PPN). |
| Nilai Jual (Total Proceeds) | Harga jual per lembar × jumlah lembar – biaya jual (komisi + PPN + PPh final). |
| Profit/Loss (P/L) | Nilai jual bersih – Nilai beli bersih. Jika positif = untung, negatif = rugi. |
| Return (%) | (P/L ÷ Nilai beli) × 100%. |
| Average Cost (Harga Rata-rata) | Total biaya pembelian (termasuk biaya) ÷ total lembar yang dimiliki. |
| Realized Profit/Loss | Keuntungan/kerugian dari saham yang sudah benar-benar dijual. |
| Unrealized Profit/Loss | Keuntungan/kerugian dari saham yang masih dimiliki (belum dijual). |
Komponen Biaya yang Perlu Dihitung
Ingat kembali biaya transaksi dari artikel sebelumnya:
Saat Beli:
- Harga saham × jumlah lembar = nilai transaksi bruto.
- Komisi broker (bisa persentase atau minimum).
- PPN = 11% × komisi broker.
Saat Jual:
- Harga saham × jumlah lembar = nilai transaksi bruto.
- Komisi broker (bisa persentase atau minimum).
- PPN = 11% × komisi broker.
- PPh Final = 0,1% × nilai transaksi jual.
Rumus Dasar Menghitung Profit/Loss
Rumus untuk Satu Transaksi Beli dan Satu Transaksi Jual (Semua Lembar Terjual)
Langkah 1: Hitung Total Biaya Beli
Total Biaya Beli = (Harga Beli per Lembar × Jumlah Lembar) + Komisi Beli + (11% × Komisi Beli)
Langkah 2: Hitung Total Hasil Jual Bersih
Total Hasil Jual Bersih = (Harga Jual per Lembar × Jumlah Lembar) - Komisi Jual - (11% × Komisi Jual) - (0,1% × Nilai Transaksi Jual)
Langkah 3: Hitung Profit/Loss
Profit/Loss = Total Hasil Jual Bersih - Total Biaya Beli
Langkah 4: Hitung Persentase Return
Return (%) = (Profit/Loss ÷ Total Biaya Beli) × 100%
Contoh Kasus 1: Satu Kali Beli, Satu Kali Jual (Semua Lembar)
Data:
- Investor: Ani (punya NPWP)
- Broker: Komisi 0,15%, minimum Rp10.000
- PPN: 11%
- PPh Final: 0,1%
Transaksi Beli:
- Tanggal 1 Maret: Beli 500 lembar saham PT XYZ dengan harga Rp2.000 per lembar.
- Jumlah lembar = 500
- Nilai transaksi beli = 500 × Rp2.000 = Rp1.000.000
- Komisi beli = 0,15% × Rp1.000.000 = Rp1.500 → kurang dari minimum Rp10.000, jadi dikenakan Rp10.000
- PPN komisi = 11% × Rp10.000 = Rp1.100
- Total biaya beli = Rp1.000.000 + Rp10.000 + Rp1.100 = Rp1.011.100
Transaksi Jual:
- Tanggal 1 Juni: Jual semua 500 lembar dengan harga Rp2.500 per lembar.
- Nilai transaksi jual = 500 × Rp2.500 = Rp1.250.000
- Komisi jual = 0,15% × Rp1.250.000 = Rp1.875 → masih di bawah minimum Rp10.000, dikenakan Rp10.000
- PPN komisi = 11% × Rp10.000 = Rp1.100
- PPh Final = 0,1% × Rp1.250.000 = Rp1.250
- Total potongan jual = Rp10.000 + Rp1.100 + Rp1.250 = Rp12.350
- Total hasil jual bersih = Rp1.250.000 – Rp12.350 = Rp1.237.650
Hitung Profit/Loss:
Profit/Loss = Rp1.237.650 - Rp1.011.100 = Rp226.550 (UNTUNG) Return (%) = (Rp226.550 ÷ Rp1.011.100) × 100% = 22,41%
Verifikasi cepat (tanpa biaya detail):
- Keuntungan kotor harga = (Rp2.500 – Rp2.000) × 500 = Rp250.000
- Biaya total = (biaya beli Rp11.100) + (biaya jual Rp12.350) = Rp23.450
- Keuntungan bersih = Rp250.000 – Rp23.450 = Rp226.550 ✓
Contoh Kasus 2: Beli Bertahap (Multiple Buys) Sebelum Jual
Skenario yang lebih realistis: Anda membeli saham yang sama beberapa kali di harga berbeda, lalu menjual sebagian atau seluruhnya.
Data:
- Investor: Budi
- Broker: Komisi 0,2%, minimum Rp15.000
- PPN: 11%
- PPh Final: 0,1%
Transaksi Beli (akumulasi):
| Tanggal | Lembar | Harga per Lembar | Nilai Bruto | Komisi | PPN Komisi | Total Biaya |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 Apr | 200 | Rp1.000 | Rp200.000 | Rp15.000 (min) | Rp1.650 | Rp216.650 |
| 15 Apr | 300 | Rp1.200 | Rp360.000 | Rp15.000 (min) | Rp1.650 | Rp376.650 |
| 30 Apr | 500 | Rp1.100 | Rp550.000 | Rp15.000 (min) | Rp1.650 | Rp566.650 |
Total keseluruhan:
- Total lembar = 200 + 300 + 500 = 1.000 lembar
- Total biaya beli = Rp216.650 + Rp376.650 + Rp566.650 = Rp1.159.950
- Harga rata-rata per lembar (average cost) = Rp1.159.950 ÷ 1.000 = Rp1.159,95 (dibulatkan menjadi Rp1.160 untuk perhitungan sederhana)
Transaksi Jual (seluruhnya):
- Tanggal 15 Mei: Jual semua 1.000 lembar dengan harga Rp1.500 per lembar.
- Nilai transaksi jual = 1.000 × Rp1.500 = Rp1.500.000
- Komisi jual = 0,2% × Rp1.500.000 = Rp3.000 → kurang dari minimum Rp15.000, dikenakan Rp15.000
- PPN komisi = 11% × Rp15.000 = Rp1.650
- PPh Final = 0,1% × Rp1.500.000 = Rp1.500
- Total potongan jual = Rp15.000 + Rp1.650 + Rp1.500 = Rp18.150
- Hasil jual bersih = Rp1.500.000 – Rp18.150 = Rp1.481.850
Profit/Loss:
Profit/Loss = Rp1.481.850 - Rp1.159.950 = Rp321.900 (UNTUNG) Return (%) = (Rp321.900 ÷ Rp1.159.950) × 100% = 27,75%
Cara lain (menggunakan harga rata-rata):
- Harga rata-rata beli (setelah biaya) = Rp1.159,95 per lembar
- Harga jual bersih per lembar (setelah biaya jual) = Rp1.500 – (Rp18.150 ÷ 1.000) = Rp1.500 – Rp18,15 = Rp1.481,85
- Keuntungan per lembar = Rp1.481,85 – Rp1.159,95 = Rp321,90
- Total keuntungan = 1.000 × Rp321,90 = Rp321.900 ✓
Contoh Kasus 3: Jual Sebagian Saham (Partial Sell)
Ini adalah skenario yang paling sering membingungkan investor pemula. Ketika Anda memiliki saham yang dibeli di harga berbeda, lalu menjual sebagian, metode apa yang digunakan untuk menghitung profit/loss?
Di Indonesia (dan umumnya di bursa global), aturan yang paling umum digunakan adalah FIFO (First In, First Out) — saham yang pertama kali dibeli dianggap yang pertama kali dijual. Namun, untuk keperluan pajak dan pelaporan, investor bisa menggunakan metode rata-rata (average cost) jika tidak ditentukan lain. Aplikasi broker biasanya menggunakan metode rata-rata tertimbang.
Kita akan gunakan metode rata-rata karena paling sederhana untuk perhitungan manual.
Data dari Kasus 2:
- Total beli = 1.000 lembar dengan total biaya Rp1.159.950
- Harga rata-rata per lembar = Rp1.159,95
Skenario: Budi hanya menjual 400 lembar (bukan seluruhnya).
- Harga jual = Rp1.500 per lembar.
Langkah 1: Hitung proporsi biaya beli untuk 400 lembar.
Biaya beli yang terpakai untuk 400 lembar = 400 × Rp1.159,95 = Rp463.980
Langkah 2: Hitung hasil jual bersih untuk 400 lembar.
- Nilai transaksi jual (400 lembar) = 400 × Rp1.500 = Rp600.000
- Komisi jual = 0,2% × Rp600.000 = Rp1.200 → kurang dari minimum Rp15.000, dikenakan Rp15.000 (perhatikan: komisi minimum dikenakan per transaksi, bukan per lembar!)
- PPN komisi = 11% × Rp15.000 = Rp1.650
- PPh Final = 0,1% × Rp600.000 = Rp600
- Total potongan jual = Rp15.000 + Rp1.650 + Rp600 = Rp17.250
- Hasil jual bersih = Rp600.000 – Rp17.250 = Rp582.750
Langkah 3: Hitung profit/loss untuk penjualan 400 lembar.
Profit/Loss (realized) = Rp582.750 - Rp463.980 = Rp118.770 (UNTUNG) Return (%) = (Rp118.770 ÷ Rp463.980) × 100% = 25,60%
Langkah 4: Hitung sisa saham yang masih dimiliki.
- Sisa lembar = 1.000 – 400 = 600 lembar
- Sisa total biaya = Rp1.159.950 – Rp463.980 = Rp695.970
- Harga rata-rata sisa per lembar = Rp695.970 ÷ 600 = Rp1.159,95 (sama, karena metode rata-rata)
Jika nanti menjual 600 sisanya di harga lebih tinggi, perhitungan diulang dengan harga rata-rata yang sama (karena tidak ada pembelian baru).
Contoh Kasus 4: Jual Sebagian dengan Metode FIFO (First In, First Out)
Beberapa investor lebih suka FIFO karena lebih mencerminkan aliran fisik (saham yang pertama dibeli dianggap pertama dijual). Ini juga metode yang umum untuk pelaporan pajak di beberapa negara.
Data pembelian (dari Kasus 2):
| Urutan | Tanggal | Lembar | Harga per Lembar (belum termasuk biaya) | Total Biaya (setelah komisi & PPN) | Rata-rata per lembar (setelah biaya) |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 (terlama) | 1 Apr | 200 | Rp1.000 | Rp216.650 | Rp1.083,25 |
| 2 | 15 Apr | 300 | Rp1.200 | Rp376.650 | Rp1.255,50 |
| 3 (terbaru) | 30 Apr | 500 | Rp1.100 | Rp566.650 | Rp1.133,30 |
Skenario: Jual 400 lembar di harga Rp1.500.
Dengan FIFO, 400 lembar yang dijual berasal dari:
- 200 lembar dari pembelian pertama (1 April) + 200 lembar dari pembelian kedua (15 April).
Hitung biaya beli yang dijual:
- 200 lembar pertama (1 April) = Rp216.650
- 200 lembar kedua (dari pembelian 15 April) = (200 ÷ 300) × Rp376.650 = 0,6667 × Rp376.650 = Rp251.100 (dibulatkan)
Total biaya beli untuk 400 lembar (FIFO) = Rp216.650 + Rp251.100 = Rp467.750
Hasil jual bersih (sama seperti di kasus 3):
- Hasil jual bersih 400 lembar = Rp582.750
Profit/Loss (FIFO) = Rp582.750 – Rp467.750 = Rp115.000
Sisa saham setelah FIFO:
- Dari pembelian 15 April tersisa 100 lembar (300 – 200) dengan sisa biaya = Rp376.650 – Rp251.100 = Rp125.550
- Dari pembelian 30 April: 500 lembar utuh dengan biaya Rp566.650
- Total sisa lembar = 100 + 500 = 600 lembar
- Total sisa biaya = Rp125.550 + Rp566.650 = Rp692.200
- Harga rata-rata sisa = Rp692.200 ÷ 600 = Rp1.153,67
Perhatikan: Dengan FIFO, profit yang direalisasikan (Rp115.000) berbeda dengan metode rata-rata (Rp118.770). Selisihnya kecil karena perbedaan alokasi biaya. Untuk investor ritel individu, aplikasi broker biasanya menggunakan rata-rata. Namun, Anda bisa memilih metode yang konsisten untuk catatan pribadi.
Contoh Kasus 5: Menghitung Unrealized Profit/Loss (Saham yang Masih Ditahan)
Anda belum menjual saham, tetapi ingin tahu berapa untung/rugi jika dijual di harga pasar saat ini.
Data:
- Sama seperti Kasus 2 (1.000 lembar dengan total biaya Rp1.159.950).
- Harga pasar saat ini (misal untuk perhitungan unrealized) = Rp1.350 per lembar.
Langkah: Hitung “seolah-olah” dijual di harga Rp1.350.
- Nilai transaksi jual (simulasi) = 1.000 × Rp1.350 = Rp1.350.000
- Komisi jual simulasi = 0,2% × Rp1.350.000 = Rp2.700 → dikenakan minimum Rp15.000
- PPN komisi = 11% × Rp15.000 = Rp1.650
- PPh Final = 0,1% × Rp1.350.000 = Rp1.350
- Total potongan jual simulasi = Rp15.000 + Rp1.650 + Rp1.350 = Rp18.000
- Hasil jual bersih simulasi = Rp1.350.000 – Rp18.000 = Rp1.332.000
Unrealized Profit/Loss = Rp1.332.000 – Rp1.159.950 = Rp172.050 (UNTUNG)
Unrealized Return (%) = (Rp172.050 ÷ Rp1.159.950) × 100% = 14,83%
Catatan: Unrealized ini belum dijamin menjadi realized sampai Anda benar-benar menjual. Harga pasar bisa berubah.
Kasus Khusus: Loss (Rugi) dan Implikasinya
Contoh:
- Beli 1.000 lembar saham PT XYZ dengan total biaya Rp1.500.000 (setelah komisi).
- Jual seluruhnya dengan harga Rp1.200 per lembar.
- Nilai jual bruto = 1.000 × Rp1.200 = Rp1.200.000
- Komisi jual (0,2%, min Rp15.000) = Rp15.000
- PPN komisi = Rp1.650
- PPh Final = 0,1% × Rp1.200.000 = Rp1.200
- Hasil jual bersih = Rp1.200.000 – Rp15.000 – Rp1.650 – Rp1.200 = Rp1.182.150
Profit/Loss = Rp1.182.150 – Rp1.500.000 = -Rp317.850 (RUGI)
Return = -21,19%
Penting untuk diingat: Di Indonesia, kerugian (capital loss) tidak bisa digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak dari sumber lain. PPh Final 0,1% tetap dikenakan saat jual, meskipun Anda rugi. Jadi Anda tetap membayar pajak meskipun mengalami kerugian.
Menghitung Profit/Loss dengan Adanya Dividen
Dividen menambah total return Anda, tetapi tidak mengubah keuntungan/kerugian dari selisih harga jual-beli (capital gain/loss). Untuk menghitung total return (termasuk dividen):
Rumus Total Return (termasuk dividen):
Total Return (Rp) = (Hasil Jual Bersih + Total Dividen Bersih) - Total Biaya Beli Total Return (%) = (Total Return ÷ Total Biaya Beli) × 100%
Contoh:
- Dari Kasus 1 (Ani): Profit/Loss dari jual-beli = Rp226.550
- Selama memegang saham, Ani menerima dividen bersih (setelah pajak 10%) sebesar Rp50.000.
- Maka Total Return = Rp226.550 + Rp50.000 = Rp276.550
- Total Return (%) = (Rp276.550 ÷ Rp1.011.100) × 100% = 27,35% (sebelumnya 22,41% tanpa dividen)
Catatan: Dividen dihitung sebagai sudah bersih (setelah dipotong pajak 10% jika punya NPWP, atau 20% jika tidak punya NPWP). Anda tidak perlu menghitung ulang pajak dividen.
Template/Worksheet Manual Sederhana untuk Catatan Pribadi
Anda bisa membuat catatan transaksi di Excel atau buku tulis dengan format seperti ini:
Untuk Setiap Transaksi Beli:
| Tanggal | Kode Saham | Lembar | Harga/Lembar | Nilai Bruto | Komisi | PPN | Total Biaya |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Untuk Setiap Transaksi Jual:
| Tanggal | Kode Saham | Lembar | Harga/Lembar | Nilai Bruto | Komisi | PPN | PPh | Hasil Bersih |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Ringkasan Portofolio per Saham:
| Kode Saham | Total Lembar | Total Biaya Beli | Harga Rata-rata | Harga Pasar Saat Ini | Nilai Pasar | Unrealized P/L | Unrealized Return (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Ringkasan Realized P/L per Tahun:
| Tahun | Total Realized Profit | Total Realized Loss | Net Realized P/L | Total Dividen Diterima | Total Return (inkl. dividen) |
|---|---|---|---|---|---|
Perhitungan Cepat Tanpa Detail Biaya (Estimasi)
Terkadang Anda hanya ingin perkiraan cepat. Gunakan asumsi rata-rata:
- Asumsi biaya total (beli + jual) = 0,5% dari nilai transaksi untuk transaksi besar (di atas Rp10 juta).
- Asumsi biaya total = 1-2% untuk transaksi kecil (di bawah Rp5 juta tergantung komisi minimum).
Rumus estimasi profit bersih:
Estimasi Profit Bersih ≈ (Harga Jual - Harga Beli) × Jumlah Lembar - (0,5% × Nilai Jual)
Contoh: Beli 10.000 lembar di Rp1.000, jual di Rp1.100.
- Profit kotor = (1.100 – 1.000) × 10.000 = Rp1.000.000
- Estimasi biaya = 0,5% × (10.000 × 1.100) = 0,5% × Rp11.000.000 = Rp55.000
- Estimasi profit bersih = Rp1.000.000 – Rp55.000 = Rp945.000
Ini cukup akurat untuk transaksi besar. Untuk transaksi kecil, gunakan 1-2% biaya.
Perbedaan Antara “Return” dan “Yield”
Jangan tertukar antara return (keuntungan dari kenaikan harga) dengan yield (imbal hasil dari dividen).
- Return (capital gain) = (Harga jual – harga beli) ÷ harga beli × 100% (belum termasuk biaya).
- Dividend Yield = (Dividen per lembar ÷ harga beli) × 100%.
- Total Return = Capital Gain + Dividend Yield (dalam persen).
Contoh:
- Beli saham di Rp1.000, jual di Rp1.100 → capital gain = 10%.
- Selama periode itu, terima dividen Rp50 per lembar → dividend yield = (50 ÷ 1.000) × 100% = 5%.
- Total return = 10% + 5% = 15% (belum termasuk biaya).
Kesalahan Umum dalam Menghitung Profit/Loss
1. Lupa Memasukkan Biaya Transaksi
Banyak investor melihat selisih harga lalu menganggap itulah keuntungan. Padahal biaya komisi, PPN, dan PPh final bisa mengurangi keuntungan secara signifikan.
2. Mengabaikan Komisi Minimum
Untuk transaksi kecil (1-5 lot), komisi minimum bisa membuat biaya transaksi menjadi persentase yang sangat besar. Jangan menggunakan asumsi 0,15% jika transaksi Anda hanya Rp1 juta.
3. Tidak Menghitung Ulang Harga Rata-rata Setelah Jual Sebagian
Jika Anda menjual sebagian saham, rata-rata biaya untuk sisa saham harus dihitung ulang (kecuali menggunakan FIFO dengan pelacakan terpisah). Jangan menggunakan rata-rata awal.
4. Mencampur Realized dan Unrealized
Jangan menganggap keuntungan yang belum direalisasi (masih di atas kertas) sebagai uang tunai yang bisa dibelanjakan. Harga bisa turun kapan saja.
5. Tidak Memperhitungkan Pajak Dividen
Dividen kotor mungkin terlihat besar, tetapi setelah dipotong pajak 10% (atau 20% tanpa NPWP), jumlah yang masuk ke rekening Anda lebih kecil.
6. Mengabaikan Inflasi untuk Jangka Panjang
Jika Anda memegang saham 5 tahun dan mendapat return 30% (rata-rata 6% per tahun), setelah inflasi 3% per tahun, return riil Anda hanya sekitar 3% per tahun. Untuk perhitungan sederhana, mungkin tidak perlu, tetapi untuk evaluasi investasi jangka panjang, pertimbangkan inflasi.
Studi Kasus Lengkap: Semua Skenario dalam Satu Investasi
Investor: Citra
- Broker: Komisi 0,18%, minimum Rp12.000
- PPN: 11%, PPh Final: 0,1%
- Punya NPWP (pajak dividen 10%)
Riwayat Transaksi:
| Tanggal | Aksi | Kode | Lembar | Harga/Lembar |
|---|---|---|---|---|
| 1 Jan 2023 | Beli | BBRI | 500 | Rp4.000 |
| 15 Mar 2023 | Beli | BBRI | 300 | Rp4.500 |
| 20 Jun 2023 | Beli | BBRI | 200 | Rp5.000 |
| 1 Jul 2023 | Terima dividen | BBRI | – | Rp150 per lembar (bruto) |
| 15 Okt 2023 | Jual | BBRI | 600 | Rp6.000 |
| 20 Des 2023 | Jual | BBRI | 400 | Rp5.500 |
Hitung profit/loss total!
Langkah 1: Hitung setiap transaksi beli (termasuk biaya)
Beli 1 (1 Jan 2023):
- Nilai bruto = 500 × Rp4.000 = Rp2.000.000
- Komisi = 0,18% × Rp2.000.000 = Rp3.600 → dikenakan minimum Rp12.000
- PPN = 11% × Rp12.000 = Rp1.320
- Total biaya = Rp2.000.000 + Rp12.000 + Rp1.320 = Rp2.013.320
Beli 2 (15 Mar 2023):
- Nilai bruto = 300 × Rp4.500 = Rp1.350.000
- Komisi = 0,18% × Rp1.350.000 = Rp2.430 → dikenakan minimum Rp12.000
- PPN = Rp1.320
- Total biaya = Rp1.350.000 + Rp12.000 + Rp1.320 = Rp1.363.320
Beli 3 (20 Jun 2023):
- Nilai bruto = 200 × Rp5.000 = Rp1.000.000
- Komisi = minimum Rp12.000
- PPN = Rp1.320
- Total biaya = Rp1.000.000 + Rp12.000 + Rp1.320 = Rp1.013.320
Total beli = 500 + 300 + 200 = 1.000 lembar
Total biaya beli = Rp2.013.320 + Rp1.363.320 + Rp1.013.320 = Rp4.389.960
Harga rata-rata = Rp4.389.960 ÷ 1.000 = Rp4.389,96 per lembar
Langkah 2: Dividen (1 Juli 2023)
- Dividen bruto per lembar = Rp150
- Total dividen bruto = 1.000 × Rp150 = Rp150.000
- Pajak dividen (10%) = Rp15.000
- Dividen bersih diterima = Rp135.000
Langkah 3: Penjualan 600 lembar (15 Okt 2023) dengan metode RATA-RATA
Biaya beli proporsi untuk 600 lembar = 600 × Rp4.389,96 = Rp2.633.976
Nilai jual bruto = 600 × Rp6.000 = Rp3.600.000
Komisi jual = 0,18% × Rp3.600.000 = Rp6.480 → minimum Rp12.000
PPN komisi = 11% × Rp12.000 = Rp1.320
PPh Final = 0,1% × Rp3.600.000 = Rp3.600
Total potongan = Rp12.000 + Rp1.320 + Rp3.600 = Rp16.920
Hasil jual bersih = Rp3.600.000 – Rp16.920 = Rp3.583.080
Realized profit (penjualan 600 lembar) = Rp3.583.080 – Rp2.633.976 = Rp949.104
Langkah 4: Sisa setelah penjualan 600 lembar
- Sisa lembar = 1.000 – 600 = 400 lembar
- Sisa biaya = Rp4.389.960 – Rp2.633.976 = Rp1.755.984
- Harga rata-rata sisa = Rp1.755.984 ÷ 400 = Rp4.389,96 (sama)
Langkah 5: Penjualan 400 lembar sisanya (20 Des 2023)
Biaya beli = Rp1.755.984
Nilai jual bruto = 400 × Rp5.500 = Rp2.200.000
Komisi jual = 0,18% × Rp2.200.000 = Rp3.960 → minimum Rp12.000
PPN komisi = Rp1.320
PPh Final = 0,1% × Rp2.200.000 = Rp2.200
Total potongan = Rp12.000 + Rp1.320 + Rp2.200 = Rp15.520
Hasil jual bersih = Rp2.200.000 – Rp15.520 = Rp2.184.480
Realized profit (penjualan 400 lembar) = Rp2.184.480 – Rp1.755.984 = Rp428.496
Langkah 6: Total keseluruhan
- Realized profit dari jual-beli = Rp949.104 + Rp428.496 = Rp1.377.600
- Dividen bersih diterima = Rp135.000
- Total return (termasuk dividen) = Rp1.377.600 + Rp135.000 = Rp1.512.600
Total modal awal (total biaya beli) = Rp4.389.960
Total return (%) = (Rp1.512.600 ÷ Rp4.389.960) × 100% = 34,46%
Investasi Rp4,39 juta menghasilkan total keuntungan bersih Rp1,51 juta (34,46%) dalam waktu kurang dari 1 tahun. Cukup baik.
Kesimpulan
Menghitung profit/loss saham secara manual tidaklah sulit jika Anda memahami komponen biaya dan mengikuti langkah-langkah sistematis:
- Hitung total biaya beli (harga saham × jumlah lembar + komisi + PPN komisi).
- Hitung total hasil jual bersih (harga jual × jumlah lembar – komisi – PPN – PPh Final 0,1%).
- Kurangkan (hasil jual bersih – biaya beli) untuk mendapatkan profit/loss.
- Tambahkan dividen bersih jika ada, untuk total return.
- Untuk pembelian bertahap, hitung harga rata-rata tertimbang (atau gunakan FIFO jika diinginkan).
- Untuk penjualan sebagian, hitung proporsi biaya beli yang dialokasikan ke lembar yang dijual (metode rata-rata atau FIFO).
Dengan kemampuan ini, Anda tidak akan bergantung sepenuhnya pada tampilan aplikasi trading. Anda bisa melakukan simulasi “bagaimana jika” sebelum mengambil keputusan, serta memeriksa kembali apakah broker Anda menghitung dengan benar.
Pesan terakhir: Catat setiap transaksi Anda dalam spreadsheet atau buku catatan. Dokumentasi yang rapi akan sangat membantu saat menghitung pajak (jika diperlukan) dan mengevaluasi kinerja investasi Anda secara keseluruhan. Selamat berinvestasi dan semoga keuntungan selalu menyertai.
Artikel menarik lainnya:
- Golden Butterfly Portfolio: Strategi Investasi Saham yang Seimbang untuk Semua Musim
- PER Forward vs Trailing: Mana yang Lebih Akurat Menilai Saham?
- Fibonacci Time Zone – Kapan Waktu yang Tepat untuk Pergerakan Besar?
- Apa Itu Cum Date dan Ex Date Dividen? Wajib Tahu Sebelum Bagi Hasil
- Membangun Portofolio dengan ETF Saham: Praktis, Murah, dan Modern
- Chaikin Volatility – Mengukur Kecepatan Perubahan Harga
- Rasio Buyback Yield: Saat Perusahaan Menjadi Pembeli Saham Paling Setia
- Combined Ratio: Tolok Ukur Sejati Profitabilitas Asuransi Umum
- On Balance Volume (OBV) – Pola Divergence dan Trendline Break
- Pola Nen STAR: Formasi Harmonic Modern dengan Akurasi Tinggi