Dua kalimat berikut menyampaikan informasi yang sama persis, tetapi menghasilkan reaksi yang sangat berbeda:
Kalimat A: “Dari 100 orang yang membeli saham ini, 80 orang mendapatkan keuntungan.”
Kalimat B: “Dari 100 orang yang membeli saham ini, 20 orang mengalami kerugian.”
Kalimat mana yang membuat Anda lebih tertarik untuk membeli?
Jika Anda memilih Kalimat A, selamat. Anda merespons secara normal. Padahal kedua kalimat itu menyampaikan fakta yang identik: tingkat keberhasilan 80%. Hanya cara penyajiannya yang berbeda.
Inilah yang disebut framing bias—kecenderungan manusia untuk mengambil keputusan berbeda tergantung pada bagaimana suatu informasi disajikan (dibingkai), meskipun informasi tersebut secara substansi setara.
Apa Itu Framing Bias?
Framing bias adalah bias kognitif di mana seseorang bereaksi secara berbeda terhadap suatu pilihan tergantung pada apakah pilihan tersebut disajikan dalam kerangka keuntungan (positive frame) atau kerangka kerugian (negative frame).
Konsep ini pertama kali dibuktikan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam eksperomen terkenal mereka tentang “penyakit Asia” (Asian Disease Problem). Mereka menunjukkan bahwa orang cenderung memilih opsi yang dibingkai sebagai “menyelamatkan nyawa” (positive frame) dan menolak opsi yang dibingkai sebagai “mengakibatkan kematian” (negative frame), padahal secara matematis kedua opsi itu setara.
Dalam dunia saham, framing bias terjadi ketika investor membuat keputusan berbeda hanya karena informasi disajikan dengan sudut pandang yang berbeda—meskipun fakta dasarnya sama.
Mekanisme Framing Bias di Pasar Saham
Framing bias bekerja karena otak kita tidak memproses informasi secara netral. Setiap informasi datang dengan “bungkusan” emosi tergantung pada kata-kata yang digunakan, urutan penyajian, atau konteksnya.
1. Positive Frame vs Negative Frame
Informasi yang sama bisa dibingkai secara positif (menekankan apa yang bisa didapat) atau negatif (menekankan apa yang bisa hilang). Karena manusia secara alami lebih takut kehilangan daripada senang mendapatkan (loss aversion), framing negatif cenderung lebih kuat pengaruhnya.
2. Loss Frame vs Gain Frame
Kerangka “potensi kerugian” biasanya lebih membangkitkan emosi dan mendorong tindakan (biasanya tindakan menghindar) dibandingkan kerangka “potensi keuntungan”.
3. Presentasi Persentase vs Absolut
Informasi yang sama bisa terasa berbeda jika disajikan dalam persentase versus angka absolut. Contoh: “Naik 0,5%” terdengar kecil, tapi “naik Rp50.000.000” terdengar besar, meskipun keduanya bisa merujuk pada hal yang sama tergantung konteksnya.
Contoh Framing Bias dalam Keputusan Saham
Contoh 1: Peluang Keuntungan
Framing Positif: “Jika Anda membeli saham ini, peluang Anda untuk profit dalam setahun adalah 70%.”
Framing Negatif: “Jika Anda membeli saham ini, peluang Anda untuk rugi dalam setahun adalah 30%.”
Kedua kalimat ini setara secara matematis. Namun penelitian menunjukkan bahwa investor lebih cenderung membeli saham ketika disajikan dengan framing positif (menekankan peluang untung) dibandingkan framing negatif (menekankan peluang rugi), meskipun faktanya sama.
Dampaknya: Manajer investasi, broker, atau influencer yang paham framing bias akan selalu menyajikan informasi dengan framing positif untuk mendorong Anda membeli.
Contoh 2: Keputusan Cut Loss
Framing sebagai “Pengamanan”: “Dengan cut loss sekarang, Anda mengamankan sisa modal 90% Anda dari risiko kerugian lebih besar.”
Framing sebagai “Realisasi Kerugian”: “Dengan cut loss sekarang, Anda mengakui kerugian 10% dari investasi Anda.”
Investor cenderung lebih menerima cut loss ketika disajikan dengan framing pertama (mengamankan modal) dibandingkan framing kedua (mengakui kerugian). Padahal tindakannya sama persis.
Dampaknya: Cara Anda membingkai keputusan cut loss dalam pikiran sendiri sangat mempengaruhi seberapa mudah Anda melakukannya.
Contoh 3: Evaluasi Kinerja Portofolio
Framing Jangka Pendek: “Portofolio Anda turun 5% dalam seminggu terakhir.”
Framing Jangka Panjang: “Portofolio Anda masih naik 20% dalam setahun terakhir.”
Investor yang hanya melihat framing jangka pendek cenderung panik dan menjual. Investor yang melihat framing jangka panjang cenderung tenang dan bertahan. Padahal kedua fakta itu benar secara simultan.
Dampaknya: Cara Anda “memilih” untuk membingkai kinerja portofolio sangat menentukan apakah Anda akan mengambil keputusan yang terburu-buru atau tetap pada rencana jangka panjang.
Contoh 4: Risiko vs Imbal Hasil
Framing sebagai “Potensi Kenaikan”: “Saham ini berpotensi naik 100% dalam setahun.”
Framing sebagai “Potensi Penurunan”: “Saham ini berpotensi turun 50% dalam setahun.”
Investor cenderung lebih tertarik pada saham yang disajikan dengan framing pertama, meskipun potensi kerugian yang sama besarnya (atau lebih besar) tidak disajikan dengan proporsional.
Dampaknya: Informasi sepihak (hanya potensi naik, tidak potensi turun) adalah bentuk framing bias yang sengaja digunakan untuk memanipulasi keputusan Anda.
Studi Kasus: Kekuatan Framing dalam Aksi Korporasi
Sebuah perusahaan publik mengumumkan dua berita berikut secara bersamaan:
Berita 1: “Perusahaan membukukan kerugian bersih Rp50 miliar pada kuartal ini akibat depresiasi rupiah.”
Berita 2: “Perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan 30% year-on-year, mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.”
Berita mana yang lebih Anda perhatikan? Mana yang lebih mempengaruhi keputusan Anda?
Investor yang kena framing bias akan terpaku pada Berita 1 (kerugian) dan menjual sahamnya. Investor yang lebih netral akan melihat bahwa kerugian bersih disebabkan oleh faktor eksternal (depresiasi rupiah) sementara operasional inti perusahaan (pendapatan) sebenarnya tumbuh kuat.
Dalam kasus ini, urutan penyajian berita juga penting. Jika Berita 1 disampaikan lebih dulu, mayoritas investor akan memiliki kesan negatif yang sulit dihilangkan oleh Berita 2 (primacy effect). Jika Berita 2 disampaikan lebih dulu, kesan positif akan lebih dominan.
Pelajaran: Jangan biarkan framing dari perusahaan atau media menentukan keputusan Anda. Biasakan membaca laporan keuangan secara utuh dan objektif.
Bentuk Lain Framing Bias
1. Framing Waktu (Temporal Framing)
Informasi tentang imbal hasil jangka panjang sering dibingkai dalam angka tahunan yang kecil (misal: “return 8% per tahun”) sehingga terasa tidak menarik, sementara biaya atau kerugian jangka pendek yang kecil (misal: “kalah Rp100.000 hari ini”) terasa besar.
Padahal, secara substansi, return tahunan 8% bisa sangat besar efeknya dalam 20 tahun (hampir 4x lipat), sementara kerugian harian Rp100.000 dalam setahun hanya Rp36,5 juta.
2. Framing Sosial (Social Framing)
Informasi sering dibingkai dengan konteks sosial: “Sebanyak 70% investor profesional memilih saham ini.” Ini memicu herding behavior. Informasi yang sama tanpa konteks sosial (“Saham ini memiliki rasio keuangan X, Y, Z”) tidak akan seefektif itu.
3. Framing Nama (Label Framing)
Istilah “saham blue chip” terdengar aman dan berkualitas, sementara “saham second liner” terdengar lebih berisiko. Padahal, tidak semua blue chip selalu bagus, dan tidak semua second liner selalu buruk. Label membingkai persepsi Anda sebelum Anda melihat faktanya.
4. Framing Angka (Numerical Framing)
“Diskon 50%” terdengar lebih besar dari “diskon Rp10.000 untuk produk Rp20.000”, padahal sama. Di pasar saham, “saham ini sudah turun 50% dari harga tertingginya” terdengar murah, padahal belum tentu murah secara fundamental.
Dampak Framing Bias dalam Investasi
| Dampak | Penjelasan |
|---|---|
| Keputusan tidak konsisten | Keputusan berubah hanya karena cara informasi disajikan, bukan karena perubahan fakta. |
| Mudah dimanipulasi | Pialang, manajer investasi, dan influencer bisa membingkai informasi untuk mendorong perilaku yang menguntungkan mereka. |
| Reaksi berlebihan terhadap berita | Berita yang dibingkai secara sensasional (baik positif maupun negatif) memicu overreaction. |
| Membeli di puncak | Framing “potensi kenaikan” yang agresif mendorong pembelian di harga tinggi. |
| Panik selling di dasar | Framing “risiko kerugian” yang dramatis mendorong penjualan di harga rendah. |
| Tidak melihat gambaran utuh | Framing membuat Anda hanya fokus pada satu aspek informasi dan mengabaikan yang lain. |
Strategi Mengalahkan Framing Bias
Mengalahkan framing bias berarti melatih diri untuk selalu melihat informasi dari berbagai sudut pandang sebelum memutuskan.
1. Latih Diri untuk “Reframing”
Setiap kali Anda menerima informasi dalam satu bingkai (frame), paksakan diri untuk membingkai ulang (reframe) informasi tersebut dalam bingkai yang berlawanan.
Contoh:
- Rekomendasi saham dengan framing: “Saham ini berpotensi naik 30%.”
- Tanyakan: “Jika dibingkai sebagai potensi turun, berapa risikonya? Apa bukti bahwa saham ini tidak akan turun?”
Latihan reframing membuat Anda melihat kedua sisi dari setiap informasi.
2. Tanyakan: “Apa Sisi Sebaliknya?”
Ini adalah pertanyaan ajaib yang membongkar framing bias. Setiap kali Anda mendengar atau membaca suatu analisis, tanyakan: “Apa sisi sebaliknya dari informasi ini? Bagaimana jika framing-nya dibalik?”
Jika seseorang berkata, “Saham ini sudah turun 40%, jadi murah,” tanyakan: “Atau jangan-jangan saham ini turun 40% karena fundamentalnya memang buruk, dan masih akan turun lagi?”
3. Gunakan Data Mentah, Bukan Ringkasan
Hindari keputusan berdasarkan ringkasan atau kesimpulan orang lain. Selalu minta data mentah atau setidaknya laporan lengkap. Data mentah memungkinkan Anda membuat framing sendiri, daripada menerima framing yang sudah jadi dari orang lain.
4. Tetapkan Kriteria Sebelum Melihat Framing
Ini adalah senjata paling ampuh. Tentukan kriteria investasi Anda sebelum Anda melihat informasi dari sumber mana pun. Contoh kriteria: PER di bawah rata-rata industri, pertumbuhan laba di atas 15%, rasio utang di bawah 40%.
Ketika kriteria sudah ditetapkan, framing tidak akan mudah menggoyahkan keputusan Anda. Anda tinggal cek: apakah saham ini memenuhi kriteria saya atau tidak. Selesai.
5. Waspadai Framing dalam Judul Berita
Judul berita saham hampir selalu dibingkai untuk menarik perhatian. “Harga Saham XYZ Melambung 20%!” terdengar lebih menarik daripada “Harga Saham XYZ Kembali ke Level 3 Bulan Lalu”. Padahal bisa jadi dua judul untuk berita yang sama.
Baca isi berita secara lengkap. Abaikan judul yang sensasional.
6. Bandingkan Framing dari Beberapa Sumber
Jangan hanya membaca satu analisis tentang suatu saham. Baca analisis dari berbagai sumber dengan sudut pandang berbeda. Bandingkan bagaimana mereka membingkai informasi yang sama. Ini akan membuat Anda sadar bahwa framing itu subjektif, dan Anda tidak harus terpaku pada satu frame tertentu.
7. Gunakan Perspektif Probabilitas, Bukan Kepastian
Framing bias sering memanfaatkan kata-kata yang menunjukkan kepastian (“pasti naik”, “dijamin profit”, “tidak mungkin turun”) atau sebaliknya (“pasti rugi”, “tidak ada harapan”).
Gantikan kata-kata itu dengan bahasa probabilitas: “kemungkinan”, “cenderung”, “berdasarkan data historis, probabilitas adalah X%”. Bahasa probabilitas membuat Anda lebih kritis dan tidak mudah terjebak framing.
Latihan Sederhana: Uji Kerentanan Anda
Baca dua pernyataan berikut, lalu jawab apakah Anda akan mengambil tindakan yang sama atau berbeda:
Skenario 1:
“Saham PT Maju Jaya memiliki probabilitas 90% untuk memberikan return positif tahun ini.”
Skenario 2:
“Saham PT Maju Jaya memiliki probabilitas 10% untuk memberikan return negatif tahun ini.”
Apakah Anda sama-sama tertarik membeli di kedua skenario? Jika berbeda, maka Anda rentan terhadap framing bias.
Skenario 3:
“Jika Anda tidak cut loss sekarang, Anda berisiko kehilangan 30% dari portofolio Anda.”
Skenario 4:
“Jika Anda cut loss sekarang, Anda mengamankan 70% portofolio Anda untuk peluang lain.”
Apakah Anda sama-sama bersedia cut loss di kedua skenario? Jika berbeda, framing bias sedang bekerja.
Penutup: Lepaskan Bingkai, Lihat Substansi
Framing bias adalah salah satu bias paling halus karena kita sering tidak menyadari bahwa cara informasi disajikan mempengaruhi kita. Kita merasa keputusan kita rasional dan berdasar fakta, padahal fakta yang sama dengan bingkai berbeda bisa menghasilkan keputusan yang bertolak belakang.
Investor yang bijak tahu bahwa bingkai adalah bungkus, substansi adalah isi. Mereka tidak akan membeli produk hanya karena bungkusnya menarik, dan tidak akan menolak hanya karena bungkusnya jelek. Mereka membuka bungkusnya, memeriksa isinya, lalu memutuskan.
Lain kali ketika Anda menerima informasi tentang saham—dari berita, media sosial, rekomendasi teman, atau laporan analis—tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah ini fakta atau ini bingkai? Bagaimana jika informasi ini disajikan dengan cara yang berlawanan? Apakah saya akan mengambil keputusan yang sama?”
Kemampuan untuk melihat melampaui bingkai adalah salah satu ciri investor dewasa. Ia tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata bombastis, tidak panik oleh judul sensasional, dan tidak tertipu oleh presentasi yang dibuat-buat.
Karena pada akhirnya, pasar saham tidak peduli bagaimana Anda membingkai keputusan Anda. Pasar hanya peduli pada substansi dari keputusan itu. Maka jadilah investor yang peduli pada substansi, bukan bingkai.
Artikel menarik lainnya:
- Rasio Enterprise Value terhadap Pendapatan (EV/Sales): Ukuran Terbaik untuk Saham yang Belum Untung
- Mengukur Amarah dan Keserakahan Pasar: Memahami CNN Fear & Greed Index
- Reverse Stock Split: Tanda Bahaya atau Strategi?
- Strategi Barbell: Keseimbangan Ekstrem untuk Hasil Optimal
- Lifecycle Fund: Solusi Otomatis untuk Investasi Pensiun Tanpa Ribet
- Satellite Portfolio: Menambah Power dengan Small Cap dan Komoditas
- Seasonal Pattern: Januari, Ramadhan, dan Efek Kalender dalam Saham
- NPL (Non Performing Loan): Mengukur Risiko Kredit Macet Sebelum Membeli Saham Bank
- Point and Figure – Trading dengan Kolom X dan O yang Tak Lekang Waktu
- Core Portfolio: Kombinasi Saham Blue Chip dan Obligasi untuk Fondasi Investasi yang Kokoh