Teknikal
Teknikal.Net / Artikel / Net Current Asset Value (NCAV): Strategi “Saham Murni” ala Benjamin Graham

Net Current Asset Value (NCAV): Strategi “Saham Murni” ala Benjamin Graham

Anda mungkin pernah mendengar nama Benjamin Graham. Beliau adalah guru dari Warren Buffett dan dianggap sebagai bapak value investing. Salah satu strategi legendarisnya adalah membeli saham dengan harga di bawah Net Current Asset Value (NCAV).

Strategi ini sangat sederhana di konsep, tapi sangat efektif di masa lalu. Bahkan Warren Buffett menyebutnya sebagai “strategi membeli uang Rp1 hanya dengan Rp50”.

Mari kita pahami apa itu NCAV dan bagaimana menerapkannya.


Apa Itu Net Current Asset Value (NCAV)?

Net Current Asset Value (NCAV) adalah nilai aset lancar bersih perusahaan setelah dikurangi semua utang (kewajiban).

Sederhananya, NCAV menjawab pertanyaan: “Jika perusahaan dilikuidasi (dibubarkan) hari ini, berapa nilai aset lancar yang tersisa untuk pemegang saham setelah semua utang dibayar?”

Rumus NCAV:

NCAV = Aset Lancar – Total Utang (Kewajiban)

Apa itu Aset Lancar?

  • Kas dan setara kas
  • Piutang usaha (yang bisa ditagih)
  • Persediaan (bahan baku, barang jadi)
  • Investasi jangka pendek
  • Aset lancar lainnya

Apa itu Total Utang?

  • Utang jangka pendek (jatuh tempo <1 tahun)
  • Utang jangka panjang (jatuh tempo >1 tahun)
  • Kewajiban lainnya

NCAV per Saham:

NCAV per Saham = NCAV / Jumlah Saham Beredar


Konsep Dasar Strategi Graham

Strategi klasik Benjamin Graham (versi paling konservatif):

Beli saham ketika harga saham ≤ 2/3 dari NCAV per Saham

Atau dengan kata lain:

Harga Saham < 0,67 x NCAV per Saham

Contoh:

  • NCAV per saham = Rp1.000
  • Harga saham saat ini = Rp600
  • Rasio harga/NCAV = 600/1.000 = 0,6x (atau 60%)

Artinya: Anda membeli perusahaan dengan harga hanya 60% dari nilai aset lancar bersihnya.

Mengapa ini menarik?

  • Aset lancar (terutama kas dan piutang) relatif mudah dinilai dan dicairkan.
  • Dalam teori likuidasi, nilai aset lancar biasanya mendekati nilai bukunya (tidak seperti mesin atau gedung yang nilainya bisa anjlok).
  • Dengan membeli di bawah NCAV, Anda mendapatkan “margin of safety” yang sangat besar.

Ilustrasi Sederhana: Toko Kelontong

Bayangkan sebuah toko kelontong (perusahaan) memiliki:

Neraca (disederhanakan):

Aset LancarNilaiUtangNilai
KasRp10 jutaUtang ke supplierRp5 juta
PiutangRp5 jutaUtang bankRp10 juta
Persediaan barangRp20 jutaTotal UtangRp15 juta
Total Aset LancarRp35 juta

Perhitungan NCAV:

  • NCAV = Aset Lancar – Total Utang
  • NCAV = Rp35 juta – Rp15 juta = Rp20 juta

Jika jumlah saham = 1 juta lembar:

  • NCAV per saham = Rp20 juta / 1 juta = Rp20 per saham

Strategi Graham (harga diskon 2/3):

  • Harga maksimal yang direkomendasikan = 2/3 x Rp20 = Rp13,3 per saham

Jika harga saham saat ini Rp12 per saham, maka saham ini masuk kriteria Graham.


Mengapa Strategi NCAV Bisa Berhasil?

Logika di balik strategi ini:

  1. Aset lancar lebih “aman” daripada aset tetap. Kas bernilai 100% di likuidasi. Piutang mungkin 80-90%. Persediaan mungkin 50-80%. Tapi rata-rata masih tinggi.
  2. Utang harus dibayar penuh dalam likuidasi. Dengan membeli di bawah NCAV, Anda sudah memiliki “bantalan” (margin of safety) yang sangat tebal.
  3. Jika perusahaan tidak dilikuidasi, nilai aset lancar bisa terus menghasilkan laba. Harga yang sangat murah memberikan potensi capital gain ketika pasar menyadari nilai sesungguhnya.
  4. Diversifikasi (membeli banyak saham NCAV) menghasilkan return yang luar biasa dalam studi historis. Graham menemukan bahwa portofolio saham NCAV menghasilkan return 20-30% per tahun dalam jangka panjang.

Contoh Kasus: Saham dengan Harga di Bawah NCAV

Perusahaan “Murah Abadi” (fiktif):

KomponenNilai
KasRp50 M
PiutangRp30 M
PersediaanRp40 M
Total Aset LancarRp120 M
Utang jangka pendekRp20 M
Utang jangka panjangRp30 M
Total UtangRp50 M
NCAVRp70 M
Jumlah saham100 juta lembar
NCAV per sahamRp700
Harga saham saat iniRp400
Rasio Harga/NCAV0,57x (57%)

Analisis:

  • Harga saham Rp400 hanya 57% dari NCAV per saham Rp700
  • Memenuhi kriteria Graham (harga < 2/3 NCAV)
  • Margin of safety = 43% (karena beli di diskon 43% dari nilai aset lancar bersih)

Apa yang bisa terjadi?

  1. Skenario likuidasi: Jika perusahaan dibubarkan, aset lancar mungkin dicairkan 80-90% dari nilai buku. Katakanlah 85% x Rp120M = Rp102M. Setelah bayar utang Rp50M, tersisa Rp52M, atau Rp520 per saham. Investor beli di Rp400 masih untung Rp120 per saham (30%).
  2. Skenario normal: Perusahaan terus beroperasi, suatu saat pasar menyadari bahwa saham ini terlalu murah. Harga naik ke nilai wajarnya (misal Rp700-1.000).
  3. Skenario terburuk: Perusahaan rugi terus, aset tergerus. Tapi karena beli di diskon besar, kemungkinan rugi permanen kecil.

Kriteria Lengkap Strategi NCAV ala Graham

Benjamin Graham tidak asal membeli semua saham dengan harga di bawah NCAV. Ada kriteria tambahan:

Kriteria Wajib:

  1. Harga saham ≤ 2/3 NCAV per saham (atau lebih konservatif: ≤ 50% NCAV)
  2. Perusahaan tidak sedang dalam kebangkrutan (masih beroperasi normal)
  3. Likuiditas memadai (aset lancar > utang lancar, setidaknya current ratio > 1)

Kriteria Tambahan (disarankan):

  1. Tidak ada utang besar yang mengancam (DER wajar)
  2. Riwayat laba stabil (meskipun tidak wajib untuk strategi NCAV murni)
  3. Dividen pernah dibayar (opsional, tanda perusahaan serius)
  4. Harga mendekati nilai terendah dalam 2-3 tahun terakhir (bukan sedang memuncak)

Cara Menemukan Saham dengan Harga di Bawah NCAV

Di era digital seperti sekarang, saham dengan harga di bawah NCAV sangat jarang ditemukan, terutama di pasar maju seperti AS. Tapi di pasar berkembang seperti Indonesia, kadang masih bisa ditemukan, terutama di:

  • Sektor properti yang sedang lesu
  • Perusahaan kecil yang kurang likuid (tidak banyak dilirik analis)
  • Perusahaan yang sedang kena sentimen negatif sementara (bukan fundamental rusak)

Langkah-langkah screening:

Langkah 1: Hitung NCAV per Saham

Data dari laporan keuangan terbaru (neraca):

  • Aset lancar (current assets) – total utang (total liabilities) = NCAV
  • Bagi dengan jumlah saham beredar

Langkah 2: Bandingkan dengan Harga Saham

Cari saham dengan rasio Harga / NCAV < 0,67 (atau lebih rendah lebih baik).

Langkah 3: Verifikasi Kualitas Aset Lancar

Periksa komponen aset lancar:

  • Kas dan setara kas: paling aman (nilai 100%)
  • Piutang: selidiki umur piutang (banyak yang >1 tahun? bahaya)
  • Persediaan: apakah mudah dijual? (persediaan barang usang nilainya bisa 0)

Langkah 4: Cek Utang

Pastikan tidak ada utang jangka pendek yang mengancam likuiditas.

Langkah 5: Pastikan Perusahaan Tidak Akan Bangkrut dalam Waktu Dekat

  • Current ratio > 1 (aset lancar > utang lancar)
  • Arus kas operasi tidak negatif terus menerus

Kelemahan dan Kritik terhadap Strategi NCAV

Meskipun legendaris, strategi NCAV memiliki kelemahan di zaman modern:

1. Sangat Jarang Ditemukan

Di pasar efisien seperti AS, saham dengan harga di bawah NCAV hampir tidak ada kecuali perusahaan sedang sekarat. Di Indonesia pun semakin langka.

2. Bisa Jadi “Value Trap” (Jebakan)

Harga murah di bawah NCAV bisa jadi karena:

  • Aset lancar tidak senilai itu (piutang macet, persediaan basi/usang)
  • Perusahaan sedang rugi besar dan akan menggerus aset lancar dengan cepat
  • Ada potensi litigasi atau kewajiban tidak tercatat yang besar

3. Membutuhkan Kesabaran Ekstrem

Saham NCAV bisa bertahun-tahun tidak dihargai pasar. Harga bisa tetap rendah atau bahkan lebih rendah. Butuh kesabaran luar biasa.

4. Tidak Cocok untuk Pemula Tanpa Riset

Asumsinya sederhana, tapi risetnya rumit. Menilai kualitas piutang dan persediaan butuh pengalaman.


Contoh Perbandingan: NCAV vs PBV

Pemula sering bingung antara NCAV dan PBV (Price to Book Value). Ini perbedaannya:

AspekNCAVPBV
KomponenHanya aset lancarSemua aset (lancar + tetap)
DikurangiTotal utangHanya dikurangi utang? Tidak, ekuitas sudah aset-utang
Konservatif?Sangat konservatif (aset tetap diabaikan)Kurang konservatif (aset tetap termasuk)
Kriteria GrahamHarga < 2/3 NCAVHarga < PBV 1,0 (kurang ketat)
KetersediaanSangat jarangLebih sering

Contoh:

  • NCAV per saham = Rp500 (hanya aset lancar bersih)
  • Harga saham = Rp400 → memenuhi NCAV
  • PBV mungkin 0,8x (karena ada aset tetap)
  • Tapi PBV 0,8x belum tentu memenuhi NCAV karena NCAV lebih ketat

Evolusi Strategi: Dari NCAV ke “Net-Net Working Capital”

Istilah Net-Net Working Capital (NNWC) sering digunakan sebagai pengembangan NCAV oleh investor modern.

Rumus NNWC (lebih konservatif):

NNWC = Kas + 75% Piutang + 50% Persediaan – Total Utang

Mengapa 75% dan 50%? Karena dalam likuidasi:

  • Piutang biasanya hanya tertagih 75-90%
  • Persediaan biasanya hanya laku 50-80% (tergantung jenis)

Kriteria Graham versi konservatif modern:

Harga saham < 2/3 NNWC per saham

Ini lebih sulit dipenuhi, tapi lebih aman.


Contoh Perhitungan NNWC

Perusahaan “NetNet” (fiktif):

KomponenNilaiFaktor LikuidasiNilai Likuidasi
KasRp50 M100%Rp50 M
PiutangRp30 M75%Rp22,5 M
PersediaanRp40 M50%Rp20 M
Total Aset Lancar (disesuaikan)Rp92,5 M
Total UtangRp50 M100%Rp50 M
NNWCRp42,5 M
Jumlah saham100 juta
NNWC per sahamRp425

Bandingkan dengan:

  • NCAV per saham (asli) = Rp700 (dari contoh sebelumnya)
  • NNWC per saham = Rp425 (lebih konservatif)
  • Harga saham = Rp400

Analisis:

  • Harga Rp400 vs NCAV Rp700 → memenuhi kriteria (0,57x)
  • Harga Rp400 vs NNWC Rp425 → tidak memenuhi (karena 400/425 = 0,94x > 0,67x)

Jadi, tergantung seberapa konservatif Anda.


Panduan untuk Pemula yang Ingin Mencoba NCAV

Jika Anda tertarik dengan strategi ini, ikuti panduan berikut:

1. Gunakan Sebagai Pelengkap, Bukan Satu-Satunya Strategi

Jangan hanya mengandalkan NCAV. Kombinasikan dengan analisis fundamental lain.

2. Filter Awal dengan NCAV (versi longgar)

Gunakan batasan: Harga < NCAV (bukan 2/3). Sudah cukup menarik.

3. Periksa Kualitas Aset Lancar

Jangan asal beli. Periksa:

  • Apakah piutang banyak yang sudah lama? (umur piutang > 1 tahun berbahaya)
  • Apakah persediaan mudah dijual? (makanan kadaluarsa? elektronik ketinggalan zaman?)
  • Apakah ada aset lancar yang “aneh”? (investasi pada perusahaan afiliasi yang nilainya tidak jelas)

4. Pastikan “Mengapa” Ini Bisa Terjadi

Tanyakan: Kenapa harga bisa serendah ini?

  • Jawaban bagus: Karena pasar sedang lesu secara umum, atau sektor ini sedang tidak populer.
  • Jawaban buruk: Karena perusahaan sedang sekarat dan asetnya tidak bernilai.

5. Diversifikasi

Jangan pasang semua dana di satu saham NCAV. Beli 10-20 saham NCAV sekaligus (seperti yang dilakukan Graham). Dengan diversifikasi, risiko gagal satu saham tertutup oleh keberhasilan lainnya.

6. Sabar

Saham NCAV butuh waktu. Bisa 2-3 tahun baru pasar menyadari nilainya. Jual ketika harga sudah mendekati atau melebihi NCAV (atau naik 50-100% dari harga beli).


Kesimpulan untuk Pemula

Net Current Asset Value (NCAV) adalah strategi value investing paling konservatif yang diajarkan Benjamin Graham: beli saham dengan harga di bawah nilai aset lancar bersih perusahaan.

Pesan penting:

  • NCAV = Aset Lancar – Total Utang
  • Kriteria Graham: Harga saham ≤ 2/3 NCAV per saham
  • Logika: Anda membeli perusahaan dengan diskon besar dari nilai aset yang paling likuid.
  • Di zaman modern, saham seperti ini sangat jarang ditemukan di pasar besar.
  • Jika ditemukan, jangan asal beli. Periksa kualitas aset lancar (piutang macet? persediaan basi?).
  • Diversifikasi dan bersabar. Strategi ini untuk investor jangka panjang (2-5 tahun).
  • Untuk pemula, mulailah dengan versi longgar (harga < NCAV) sebagai screening awal, lalu pelajari lebih dalam.

Strategi NCAV adalah salah satu fondasi value investing. Meskipun tidak mudah diterapkan di era modern, memahaminya akan mengubah cara Anda memandang “saham murah”. Selamat belajar dan tetap bijak dalam berinvestasi!

Artikel menarik lainnya:

  1. Faktor Kelelahan Keputusan: Mengapa Semakin Banyak Anda Trading, Semakin Buruk Keputusan yang Diambil
  2. Rasio LTV/CAC: Ukuran Paling Jujur Kesehatan Saham Digital
  3. Pengertian PER (Price to Earnings Ratio) Sederhana untuk Pemula
  4. Rasio Biaya Sewa terhadap EBITDA: Mengungkap Beban Tersembunyi yang Sering Diabaikan Investor
  5. Triple Top: Tiga Puncak yang Menandai Berakhirnya Tren Naik
  6. Exhaustion Gap: Tanda Terakhir Sebelum Tren Berbalik Arah
  7. PEG Ratio: Ketika PER Bertemu Pertumbuhan Laba
  8. Waktu Trading: Pre-opening, Regular, Pre-closing – Panduan Lengkap untuk Pemula
  9. Saham vs Judi: Perbedaan Fatal yang Wajib Anda Pahami
  10. Fear of Missing Out Saat IPO Meledak: Ketika Ketakutan Ketinggalan Kereta Menghancurkan Portofolio

Teknikal

    Platform analisa teknikal saham harian.


  • Halaman Depan
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

  • Volume Spike
  • Top Win Rate
  • Top Profit
  • Top Gainer
  • Top Loser
  • Top Value
  • Top Volume
  • Top Frekuensi
  • Top Pembelian Asing

  • Top Penjualan Asing
  • Top Asing Net Buy
  • Top Asing Net Sell
  • Top Volume (Pasar Nego & Tunai)
  • Top Transaksi (Pasar Nego & Tunai)
  • Saham Termahal
  • Saham Termurah
  • Semua Saham

© 2025 Teknikal.Net - All rights reserved. Data provided for educational purposes only.
Dukung kami untuk mengelola website ini dengan membelikan secangkir kopi melalui Saweria. Terima kasih