Teknikal
Teknikal.Net / Artikel / Panduan Praktis: Cara Membaca Harga Saham di Aplikasi Trading untuk Pemula

Panduan Praktis: Cara Membaca Harga Saham di Aplikasi Trading untuk Pemula

Anda sudah membuka rekening efek dan mengunduh aplikasi trading. Begitu masuk ke halaman utama, Anda langsung disambut oleh deretan angka, warna hijau-merah, singkatan aneh, dan grafik yang naik turun. Bagi pemula, tampilan ini bisa sangat membingungkan. Apakah semua angka itu penting? Apa bedanya harga bid dan ask? Mengapa ada volume yang sangat besar?

Jangan khawatir. Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah untuk membaca semua informasi penting tentang harga saham di aplikasi trading. Setelah membaca artikel ini, Anda tidak akan lagi merasa buta saat membuka aplikasi saham favorit Anda.

Bagian 1: Halaman Ringkasan Saham (Watchlist)

Saat pertama membuka aplikasi, biasanya Anda akan melihat daftar saham yang sedang Anda pantau atau saham-saham yang populer. Setiap baris mewakili satu saham dengan kolom-kolom informasi sebagai berikut:

1. Kode Saham (Ticker)

Ini adalah singkatan unik yang mengidentifikasi perusahaan. Contoh:

  • BBCA = Bank Central Asia
  • TLKM = Telkom Indonesia
  • ASII = Astra International

Kode saham selalu terdiri dari huruf kapital, biasanya 2-4 huruf. Setiap perusahaan hanya memiliki satu kode yang tidak pernah berubah.

2. Harga Terakhir (Last Price)

Ini adalah harga transaksi terakhir yang terjadi untuk saham tersebut. Angka ini adalah yang paling besar dan paling mencolok di aplikasi. Harga terakhir menjadi acuan dasar berapa nilai saham saat ini.

Contoh: Jika Anda melihat “BBCA Rp 9.250”, artinya transaksi terakhir saham BBCA terjadi di harga Rp 9.250 per lembar.

3. Perubahan Hari Ini (Change)

Kolom ini menunjukkan selisih antara harga terakhir dengan harga penutupan hari sebelumnya. Biasanya disajikan dalam dua format:

  • Nominal: Misalnya “+50” atau “-75”
  • Persentase: Misalnya “+0,54%” atau “-0,80%

Warna juga memberi makna:

  • Hijau: Harga naik (positif)
  • Merah: Harga turun (negatif)
  • Biru atau Abu-abu: Harga tidak berubah (stagnan)

Contoh: TLKM di Rp 3.900 dengan perubahan +100 (+2,63%) artinya dari hari sebelumnya yang ditutup di Rp 3.800, sekarang naik Rp 100 atau 2,63%.

4. Harga Pembukaan (Open)

Harga pertama kali saat saham diperdagangkan pada sesi pembukaan (biasanya pukul 09.00 WIB atau 09.30 WIB tergantung bursa). Angka ini penting untuk melihat apakah saham dibuka lebih tinggi atau lebih rendah dari penutupan kemarin.

5. Harga Tertinggi Hari Ini (High)

Angka tertinggi yang pernah dicapai saham tersebut selama sesi perdagangan hari ini. Ini memberi gambaran tentang seberapa kuat tekanan beli yang terjadi.

6. Harga Terendah Hari Ini (Low)

Angka terendah yang pernah dicapai saham selama sesi perdagangan hari ini. Ini menunjukkan seberapa dalam tekanan jual yang terjadi.

7. Volume Perdagangan (Volume)

Jumlah total lembar saham yang sudah berpindah tangan hari ini. Satuan bisa dalam “lot” (1 lot = 100 lembar) atau langsung dalam lembar. Contoh:

  • Volume 50.000.000 artinya 50 juta lembar saham diperdagangkan.
  • Semakin besar volume, semakin likuid saham tersebut.

8. Nilai Perdagangan (Value)

Total nilai uang yang berpindah tangan dari seluruh transaksi saham tersebut. Rumusnya: Volume × Harga rata-rata. Biasanya dinyatakan dalam miliaran atau triliun rupiah.

Bagian 2: Halaman Detail Saham (Stock Quote)

Ketika Anda mengklik satu kode saham, Anda akan masuk ke halaman yang lebih detail. Inilah halaman terpenting sebelum Anda memutuskan membeli atau menjual.

1. Grafik Harga (Price Chart)

Grafik menunjukkan pergerakan harga saham dalam rentang waktu tertentu. Aplikasi biasanya menyediakan pilihan periode:

  • 1 Hari (1D): Grafik intraday dengan candle per menit atau per 5 menit.
  • 1 Minggu (1W): Pergerakan harian selama seminggu.
  • 1 Bulan (1M): Pergerakan harian selama sebulan.
  • 3 Bulan (3M), 1 Tahun (1Y), 5 Tahun (5Y): Pergerakan jangka panjang.

Candlestick adalah bentuk grafik paling umum. Setiap “lilin” (candle) mewakili periode waktu tertentu:

  • Badan lilin (body): Rentang antara harga pembukaan dan penutupan.
  • Sumbu atas (upper wick): Harga tertinggi dalam periode itu.
  • Sumbu bawah (lower wick): Harga terendah dalam periode itu.
  • Warna hijau/putih: Harga penutupan lebih tinggi dari pembukaan (naik).
  • Warna merah/hitam: Harga penutupan lebih rendah dari pembukaan (turun).

2. Harga Bid, Ask, dan Last

Ini adalah tiga angka paling krusial saat Anda akan melakukan order.

  • Bid (Harga Beli Tertinggi): Harga tertinggi yang bersedia dibayar oleh pembeli di pasar saat ini. Ini adalah harga di mana Anda bisa menjual saham Anda secara instan.
  • Ask (Harga Jual Terendah): Harga terendah yang diminta oleh penjual di pasar saat ini. Ini adalah harga di mana Anda bisa membeli saham secara instan.
  • Last: Harga transaksi terakhir yang benar-benar terjadi.

Contoh tampilan:

Bid: 9.000 (10 lot) | Ask: 9.050 (5 lot) | Last: 9.025

Artinya:

  • Ada pembeli yang rela beli di harga 9.000 sebanyak 10 lot.
  • Ada penjual yang minta jual di harga 9.050 sebanyak 5 lot.
  • Transaksi terakhir terjadi di harga 9.025.

Spread adalah selisih antara Bid dan Ask. Dalam contoh di atas, spread = 50 poin. Spread yang kecil (misal 10-20 poin) menandakan saham likuid. Spread besar (ratusan poin) menandakan saham tidak likuid.

3. Rasio Penting (Key Ratios)

Aplikasi modern biasanya menampilkan beberapa rasio keuangan ringkas:

  • PER (Price to Earnings Ratio): Rasio harga terhadap laba per saham. PER rendah (<10-15) bisa berarti saham murah. PER tinggi (>25) bisa berarti mahal atau punya prospek tinggi.
  • PBV (Price to Book Value): Rasio harga terhadap nilai buku perusahaan. PBV <1 sering dianggap sangat murah.
  • Dividend Yield (DY): Persentase dividen dibanding harga saham. DY 3-5% cukup menarik.
  • Market Cap (Kapitalisasi Pasar): Nilai total perusahaan di pasar. = harga saham × jumlah saham beredar.

4. Volume dan Bar Order

Selain volume total, aplikasi biasanya menampilkan volume order yang terdiri dari:

  • Volume Beli (Bid Volume): Jumlah total lot yang ditawarkan pembeli di berbagai level harga.
  • Volume Jual (Ask Volume): Jumlah total lot yang ditawarkan penjual di berbagai level harga.

Jika volume beli jauh lebih besar dari volume jual, ada kecenderungan harga akan naik. Sebaliknya, jika volume jual lebih besar, harga cenderung turun.

Bagian 3: Cara Membaca Kondisi Pasar (Market Depth)

Fitur Market Depth atau “dominan harga” memperlihatkan tawaran beli dan jual pada berbagai level harga, tidak hanya yang teratas. Ini memberi gambaran tentang support (harga di mana banyak pembeli siap membeli) dan resistance (harga di mana banyak penjual siap menjual).

Contoh Market Depth:

Harga Beli (Bid)VolumeHarga Jual (Ask)Volume
9.00050 lot9.05020 lot
8.975100 lot9.10080 lot
8.950200 lot9.150150 lot
8.90060 lot9.20040 lot

Interpretasi:

  • Ada dukungan kuat (support) di level 8.950 dengan akumulasi 200 lot. Jika harga turun ke sana, banyak pembeli siap masuk.
  • Ada hambatan (resistance) di level 9.150 dengan tekanan jual 150 lot. Harga sulit tembus ke atas sebelum kelebihan jual itu terserap.

Pemahaman market depth membantu Anda menentukan harga order yang realistis. Jangan pasang order beli di 9.050 jika tidak ada penjual di level itu.

Bagian 4: Memahami Waktu dan Sesi Perdagangan

Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki aturan waktu tertentu. Aplikasi trading akan menunjukkan status pasar:

Sesi Pre-opening (08.50 – 09.00 WIB)

Investor bisa memasukkan order, tetapi belum ada transaksi. Harga pembukaan (Open) ditentukan pada akhir sesi ini berdasarkan mekanisme lelang.

Sesi I (09.00 – 12.00 WIB)

Perdagangan reguler berlangsung. Harga bisa bergerak cepat.

Istirahat (12.00 – 13.30 WIB)

Tidak ada transaksi. Order tetap masuk antrean.

Sesi II (13.30 – 15.00 WIB)

Perdagangan dilanjutkan, seringkali lebih volatil karena banyak aksi menjelang penutupan.

Pre-closing (15.00 – 15.05 WIB)

Penentuan harga penutupan (Close) melalui mekanisme lelang.

Setelah 15.05 WIB

Tidak ada transaksi. Harga terakhir menjadi harga penutupan hingga sesi berikutnya.

Selama waktu istirahat atau setelah bursa tutup, Anda tidak bisa melakukan transaksi jual-beli, meskipun aplikasi tetap menampilkan harga dan Anda bisa memasukkan order untuk sesi berikutnya.

Bagian 5: Istilah Order yang Perlu Dipahami

Saat Anda akan membeli atau menjual, aplikasi akan menanyakan jenis order. Dua yang paling umum:

1. Order Pasar (Market Order)

Anda membeli atau menjual segera di harga pasar terbaik yang tersedia saat itu.

  • Jika Anda memilih order beli pasar, sistem akan membeli di harga Ask (harga jual terendah).
  • Jika Anda memilih order jual pasar, sistem akan menjual di harga Bid (harga beli tertinggi).
  • Kelebihan: Cepat, pasti terisi.
  • Kekurangan: Harga tidak pasti karena bisa bergerak saat order diproses.

2. Order Limit (Limit Order)

Anda menentukan sendiri harga maksimal (untuk beli) atau harga minimal (untuk jual).

  • Contoh: Pasang order limit beli BBCA di harga 9.000. Artinya Anda hanya mau beli jika harganya ≤ 9.000.
  • Contoh: Pasang order limit jual BBCA di harga 9.500. Artinya Anda hanya mau jual jika harganya ≥ 9.500.
  • Kelebihan: Anda tahu pasti harga transaksi.
  • Kekurangan: Order mungkin tidak pernah terisi jika harga target terlalu jauh dari pasar.

Pemula disarankan menggunakan limit order agar tidak membeli terlalu mahal atau menjual terlalu murah akibat fluktuasi sesaat.

Bagian 6: Contoh Praktis Membaca Satu Layar

Bayangkan Anda membuka saham TLKM di aplikasi dan melihat data berikut:

text
TLKM
Last: 3.900
Change: +100 (+2,63%)
Open: 3.800
High: 3.950
Low: 3.780
Volume: 85.000.000
Value: Rp 327.000.000.000

Bid: 3.890 (50 lot)
Ask: 3.910 (30 lot)

PER: 18,5x
PBV: 3,2x
Dividend Yield: 3,8%
Market Cap: Rp 385 Triliun

Apa arti semua itu?

  • Harga terakhir Rp 3.900, naik Rp 100 atau 2,63% dari kemarin.
  • Pergerakan hari ini: dari pembukaan Rp 3.800, sempat menyentuh tertinggi Rp 3.950 dan terendah Rp 3.780 (+150 dari terendah).
  • Volume 85 juta lembar menunjukkan saham ini sangat likuid.
  • Bid di 3.890 dan Ask di 3.910 berarti spread 20 poin. Cukup kecil.
  • Jika ingin beli cepat, Anda harus membayar 3.910. Jika ingin jual cepat, Anda bisa menjual di 3.890.
  • PER 18,5x tergolong wajar untuk perusahaan telekomunikasi.
  • Dividend Yield 3,8% cukup menarik, di atas deposito beberapa bank.

Dari sini, Anda bisa memutuskan: apakah ingin order limit beli di 3.890 (agar harga lebih murah) atau beli langsung di ask 3.910 jika khawatir saham terus naik.

Kesimpulan

Membaca harga saham di aplikasi trading bukanlah ilmu roket. Dengan memahami delapan komponen utama (kode saham, harga terakhir, perubahan, open, high, low, volume, dan nilai) ditambah dengan bid, ask, serta market depth, Anda sudah menguasai 90% informasi yang diperlukan untuk bertransaksi.

Kuncinya adalah jangan terburu-buru. Awali dengan mempelajari satu layar saham dari perusahaan yang Anda kenal (misalnya bank favorit atau produk yang sering Anda gunakan). Amati pergerakannya selama beberapa hari tanpa melakukan transaksi. Setelah merasa nyaman dengan semua angka dan istilah, Anda bisa mulai dengan order limit nominal kecil.

Ingatlah: aplikasi trading hanyalah alat. Data harga yang Anda baca adalah cerminan dari psikologi kolektibu ribuan investor lain. Semakin mahir Anda membaca “bahasa” harga saham, semakin baik keputusan investasi yang akan Anda buat. Selamat belajar dan bertransaksi!

Artikel menarik lainnya:

  1. Rasio FCF to Equity (FCFE): Uang Tunai yang Benar-Benar Bisa Diterima Pemegang Saham
  2. Ladder Bottom: Pola Tangga yang Membawa Harga Naik dari Jurang
  3. Book Building dan Masa Penawaran IPO: Cara Menentukan Harga Saham Perdana
  4. Upside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bullish yang Jarang Dikenal
  5. Strategi Martingale di Saham: Bunuh Diri Finansial yang Berkedok Peluang
  6. Rasio PBV Antar Sektor: Mengapa Bank dan Teknologi Tidak Bisa Dibandingkan secara Langsung
  7. Golden Butterfly Portfolio: Strategi Investasi Saham yang Seimbang untuk Semua Musim
  8. Valuasi Saham Batu Bara dengan Harga Komoditas: Ekstrem, Volatil, dan Penuh Peluang
  9. High Node dan Low Node: Membaca Peta Kepadatan Volume untuk Menangkap Pergerakan Harga
  10. Biaya Transaksi Saham: Beli, Jual, dan Pajak — Panduan Lengkap Investor Pemula

Teknikal

    Platform analisa teknikal saham harian.


  • Halaman Depan
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

  • Volume Spike
  • Top Win Rate
  • Top Profit
  • Top Gainer
  • Top Loser
  • Top Value
  • Top Volume
  • Top Frekuensi
  • Top Pembelian Asing

  • Top Penjualan Asing
  • Top Asing Net Buy
  • Top Asing Net Sell
  • Top Volume (Pasar Nego & Tunai)
  • Top Transaksi (Pasar Nego & Tunai)
  • Saham Termahal
  • Saham Termurah
  • Semua Saham

© 2025 Teknikal.Net - All rights reserved. Data provided for educational purposes only.
Dukung kami untuk mengelola website ini dengan membelikan secangkir kopi melalui Saweria. Terima kasih