Setelah mempelajari PBV (Price to Book Value), ada satu rasio lain yang tidak kalah penting dan paling sering digunakan oleh investor saham di seluruh dunia, yaitu PER atau Price to Earnings Ratio.
Jika PBV mengukur harga saham terhadap aset, maka PER mengukur harga saham terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Mari kita bahas dengan cara yang paling sederhana.
Apa Itu PER?
Price to Earnings Ratio (PER) adalah rasio yang membandingkan harga saham sebuah perusahaan dengan laba bersih yang dihasilkan perusahaan tersebut per lembar saham.
Sederhananya, PER menjawab pertanyaan: “Berapa tahun waktu yang dibutuhkan bagi perusahaan untuk mengembalikan investasi saya melalui laba yang dihasilkan, jika laba tersebut tidak berubah?”
- Price (Harga): Harga saham di pasar saat ini.
- Earnings (Laba): Laba bersih perusahaan per lembar saham (EPS/Earning per Share).
Rumus Mudah PER
Ada dua cara menghitung PER, keduanya sama-sama valid:
1. PER per Saham (paling umum)
PER = Harga Saham Saat Ini / Laba per Saham (EPS)
2. PER berdasarkan total perusahaan
PER = Kapitalisasi Pasar / Total Laba Bersih Tahunan
Contoh Supaya Lebih Paham
Misalkan:
- Harga saham PT ABC = Rp4.000 per lembar
- Laba per saham (EPS) PT ABC = Rp200 per lembar
Maka PER = 4.000 / 200 = 20x
Artinya: Dengan harga Rp4.000 dan laba Rp200 per tahun, Anda butuh 20 tahun untuk mendapatkan kembali modal Anda (jika laba tetap sama setiap tahun).
Makna Angka PER (Mudah Diingat)
Bagi pemula, ini patokan sederhana untuk membaca PER:
- PER rendah (misal 5x – 10x) : Harga saham relatif murah dibanding labanya. Bisa jadi saham undervalued atau perusahaan sedang tidak diminati pasar.
- PER sedang (misal 10x – 20x) : Wajar untuk perusahaan yang stabil dan bertumbuh.
- PER tinggi (misal di atas 25x – 30x) : Harga saham relatif mahal dibanding laba saat ini. Bisa jadi karena pasar mengharapkan pertumbuhan laba yang sangat tinggi di masa depan.
Catatan penting: Tidak ada angka PER yang “bagus” mutlak. PER 5 belum tentu bagus, PER 30 belum tentu jelek. Semua tergantung pada industri dan prospek perusahaan.
Contoh Perbandingan Sederhana
Bayangkan ada dua warung makan:
| Warung | Harga Jual | Laba per Tahun | PER |
|---|---|---|---|
| Warung A | Rp50 juta | Rp10 juta | 5x |
| Warung B | Rp200 juta | Rp5 juta | 40x |
- Warung A (PER 5x) : Lebih murah. Anda butuh 5 tahun untuk balik modal.
- Warung B (PER 40x) : Lebih mahal. Anda butuh 40 tahun untuk balik modal.
Tapi jangan buru-buru memilih Warung A. Bisa jadi Warung B punya lokasi strategis dan pelanggan yang terus bertambah, sehingga laba tahun depan bisa naik drastis. PER yang tinggi bisa saja wajar jika pertumbuhannya tinggi.
Jenis-Jenis PER yang Perlu Diketahui
Agar tidak bingung saat membaca berita saham, kenali dua jenis PER:
- PER Trailing (PER historis) : Dihitung dari laba 12 bulan terakhir yang sudah terjadi. Ini yang paling umum dan mudah ditemukan.
- PER Forward (PER proyeksi) : Dihitung dari perkiraan laba tahun depan. Biasa digunakan untuk menilai apakah saham masih murah jika pertumbuhan diperhitungkan.
Kelebihan PER untuk Pemula
- Mudah dipahami: Semakin kecil PER, secara teori semakin cepat balik modal.
- Tersedia luas: Hampir semua aplikasi saham dan laporan keuangan mencantumkan PER.
- Membandingkan saham sejenis: Sangat berguna untuk membandingkan mana yang lebih murah di antara dua perusahaan di industri yang sama.
Kekurangan dan Jebakan PER
- Tidak cocok untuk perusahaan rugi: Jika labanya negatif (rugi), EPS menjadi negatif, dan PER tidak terdefinisi atau tidak bermakna.
- Mengabaikan utang: Dua perusahaan dengan PER sama, tetapi yang satu punya utang besar dan yang lain tanpa utang, risikonya sangat berbeda.
- Bisa menyesatkan: PER rendah karena laba tinggi, tetapi laba tinggi itu berasal dari penjualan aset (tidak berkelanjutan). Ini jebakan klasik.
Tips Menggunakan PER untuk Pemula
Agar tidak salah langkah, ikuti panduan sederhana ini:
- Bandingkan dengan rata-rata industri : PER saham perbankan berbeda dengan PER saham teknologi. Jangan bandingkan apel dengan jeruk.
- Lihat tren beberapa tahun : Apakah PER semakin murah karena harga turun, atau karena laba naik? Keduanya berbeda maknanya.
- Kombinasikan dengan PBV dan ROE : PER rendah + PBV rendah + ROE tinggi = kombinasi menarik untuk diselidiki lebih lanjut.
Kesimpulan untuk Pemula
PER adalah alat ukur sederhana untuk menilai mahal atau murahnya harga saham terhadap laba perusahaan. Semakin kecil PER, secara kasar semakin cepat potensi balik modal. Namun, jangan pernah membeli atau menjual saham hanya karena PER-nya kecil atau besar.
Gunakan PER sebagai filter awal, lalu gali lebih dalam:
- Apakah laba perusahaan stabil atau naik turun?
- Apa penyebab PER rendah (apakah karena harga jatuh atau laba melonjak)?
- Bagaimana prospek bisnis ke depan?
Dengan memahami PER, Anda sudah memiliki salah satu senjata paling ampuh dalam investasi saham. Selamat belajar dan tetap bijak dalam berinvestasi!
Artikel menarik lainnya:
- Hammer (Bullish): Pola Satu Candlestick Andalan untuk Mendeteksi Pembalikan Harga
- Strategi Martingale di Saham: Bunuh Diri Finansial yang Berkedok Peluang
- Perbedaan Day Trader vs Investor: Dua Dunia, Dua Psikologi yang Berbeda
- Zig Zag – Menghilangkan Noise, Melihat Struktur dengan Lebih Jelas
- Coppock Curve: Sinyal Beli Legendaris untuk Menangkap Bottom Pasar
- CAC vs LTV: Rasio Paling Jujur untuk Menilai Saham Teknologi
- Rasio Likuiditas Cepat (Acid Test Ratio): Detektor Kebenaran Kemampuan Bayar Utang Perusahaan
- Reverse Stock Split: Tanda Bahaya atau Strategi?
- Mengenal ADX: Mengukur Kekuatan Tren dengan Plus DI dan Minus DI
- Chaikin Money Flow (CMF) – Mengukur Tekanan Beli dan Jual Secara Periodik