Teknikal
Teknikal.Net / Artikel / PER Forward vs Trailing: Mana yang Lebih Akurat Menilai Saham?

PER Forward vs Trailing: Mana yang Lebih Akurat Menilai Saham?

Apa Itu PER?

Sebelum mendalam, mari ingat rumus dasar PER:

PER = Harga Saham / Laba per Saham (EPS)

PER menjawab: “Berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal investasi jika laba perusahaan tidak berubah?”

Masalahnya: laba perusahaan berubah setiap tahun. Naik, turun, atau stagnan. Maka muncullah dua cara menghitung PER: menggunakan laba masa lalu atau perkiraan laba masa depan.


Apa Itu Trailing PER?

Trailing PER adalah PER yang dihitung menggunakan laba aktual yang sudah terjadi di masa lalu, biasanya 12 bulan terakhir.

Kata “trailing” berarti “melacak ke belakang”.

Rumus Trailing PER:

Trailing PER = Harga Saham Saat Ini / EPS 12 Bulan Terakhir

EPS 12 bulan terakhir bisa berupa:

  • Laba setahun penuh (jika laporan tahunan sudah keluar)
  • Laba 4 kuartal terakhir (TTM / Trailing Twelve Months)

Contoh Trailing PER:

Misalkan:

  • Harga saham PT ABC saat ini = Rp4.000
  • Laba per saham (EPS) tahun lalu (2024) = Rp200

Maka Trailing PER = 4.000 / 200 = 20x

Interpretasi: Berdasarkan laba tahun lalu, saham ini dihargai 20 kali lipat labanya.

Kelebihan Trailing PER:

KelebihanPenjelasan
Data riil, bukan perkiraanBerdasarkan laba yang sudah benar-benar terjadi.
ObjektifTidak bias oleh optimisme atau pesimisme analis.
Mudah didapatTersedia di semua laporan keuangan dan aplikasi saham.
Bisa diperbandingkanCocok untuk membandingkan PER historis perusahaan.

Kekurangan Trailing PER:

KekuranganPenjelasan
Melihat ke belakangTidak mencermikan prospek masa depan.
Bisa menyesatkan jika laba tidak stabilLaba tahun lalu sangat besar karena kejadian luar biasa (penjualan aset), padahal tahun ini normal.
Tidak relevan untuk perusahaan yang sedang berubah cepatPerusahaan teknologi yang labanya naik 100% per tahun, laba tahun lalu sudah tidak relevan.

Apa Itu Forward PER?

Forward PER adalah PER yang dihitung menggunakan perkiraan laba masa depan, biasanya untuk 12 bulan ke depan.

Kata “forward” berarti “ke depan”.

Rumus Forward PER:

Forward PER = Harga Saham Saat Ini / Perkiraan EPS 12 Bulan ke Depan

Perkiraan EPS biasanya berasal dari:

  • Proyeksi manajemen perusahaan (jika diberikan)
  • Konsensus analis (rata-rata proyeksi dari berbagai sekuritas)
  • Estimasi investor berdasarkan tren dan prospek bisnis

Contoh Forward PER:

Misalkan:

  • Harga saham PT ABC saat ini = Rp4.000
  • Perkiraan laba per saham (EPS) tahun depan (2025) = Rp250

Maka Forward PER = 4.000 / 250 = 16x

Interpretasi: Berdasarkan perkiraan laba tahun depan, saham ini dihargai 16 kali lipat laba yang diperkirakan.

Perhatikan: Trailing PER = 20x (menggunakan laba lalu Rp200), sedangkan Forward PER = 16x (menggunakan estimasi laba Rp250). Perbedaan ini penting.

Kelebihan Forward PER:

KelebihanPenjelasan
Melihat ke depanMencerminkan ekspektasi pasar terhadap prospek perusahaan.
Lebih relevan untuk perusahaan bertumbuhPerusahaan dengan pertumbuhan laba tinggi akan terlihat “mahal” di trailing PER tapi “wajar” di forward PER.
Membantu keputusan investasiInvestor membeli saham untuk masa depan, bukan masa lalu.

Kekurangan Forward PER:

KekuranganPenjelasan
Berdasarkan perkiraan, bukan faktaAnalis sering salah memprediksi laba. Bisa terlalu optimis atau terlalu pesimis.
Bisa biasPerusahaan atau analis mungkin sengaja membuat proyeksi terlalu tinggi untuk menarik investor.
Berubah-ubahBerubah setiap kali ada proyeksi baru, membuat perbandingan antar waktu sulit.
Tidak tersedia untuk semua sahamPerusahaan kecil jarang diteliti analis. Tidak ada konsensus Forward PER.

Perbedaan Utama dalam Satu Tabel

AspekTrailing PERForward PER
Dasar perhitunganLaba aktual masa lalu (12 bulan terakhir)Perkiraan laba masa depan (12 bulan ke depan)
Sifat dataFakta, riil, sudah terjadiEstimasi, proyeksi, belum terjadi
KeakuratanPasti (tidak berubah)Tidak pasti (bisa meleset)
Melihat keBelakangDepan
Cocok untukPerusahaan stabil, laba konsistenPerusahaan bertumbuh cepat
KetersediaanSelalu ada (dari laporan keuangan)Tidak selalu (butuh riset analis)
Rentan dimanipulasiRendah (audit laporan keuangan)Tinggi (bisa terlalu optimis)

Ilustrasi Perbedaan dengan Contoh Kasus

Kasus 1: Perusahaan Stabil (Laba Tidak Berubah Signifikan)

Perusahaan Telekomunikasi stabil (fiktif):

TahunLaba per Saham (EPS)
2024 (aktual)Rp500
2025 (perkiraan)Rp510

Harga saham saat ini = Rp10.000

Perhitungan:

  • Trailing PER = 10.000 / 500 = 20x
  • Forward PER = 10.000 / 510 = 19,6x

Hasil: Hampir sama. Perbedaan hanya 0,4x. Untuk perusahaan stabil, trailing dan forward PER tidak jauh berbeda.

Kasus 2: Perusahaan Bertumbuh Cepat (Laba Meningkat Drastis)

Perusahaan Teknologi Growth (fiktif):

TahunLaba per Saham (EPS)
2024 (aktual)Rp100
2025 (perkiraan)Rp200 (naik 100%)

Harga saham saat ini = Rp3.000

Perhitungan:

  • Trailing PER = 3.000 / 100 = 30x (terlihat mahal)
  • Forward PER = 3.000 / 200 = 15x (terlihat wajar)

Hasil: Perbedaan sangat besar. Trailing PER menunjukkan 30x (mahal), tapi Forward PER menunjukkan 15x (wajar). Mana yang lebih akurat? Tergantung apakah perkiraan laba Rp200 tercapai.

Analisis:

  • Jika laba benar naik jadi Rp200, Forward PER 15x adalah harga yang wajar untuk perusahaan bertumbuh.
  • Jika laba hanya naik jadi Rp150, Forward PER sebenarnya 20x (masih wajar).
  • Jika laba stagnan (tetap Rp100), Forward PER palsu, harga Rp3.000 sebenarnya mahal (PER 30x).

Kasus 3: Perusahaan Siklikal (Laba Naik Turun)

Perusahaan Batu Bara (fiktif):

TahunLaba per Saham (EPS)
2024 (aktual, harga batu bara tinggi)Rp1.000
2025 (perkiraan, harga batu bara turun)Rp400

Harga saham saat ini = Rp8.000

Perhitungan:

  • Trailing PER = 8.000 / 1.000 = 8x (terlihat sangat murah)
  • Forward PER = 8.000 / 400 = 20x (terlihat mahal)

Hasil: Perbedaan kontras. Trailing PER menunjukkan murah karena laba tahun lalu besar (sesaat). Forward PER menunjukkan mahal karena laba tahun depan diperkirakan turun drastis.

Analisis:

  • Investor yang hanya melihat Trailing PER (8x) akan mengira saham sangat murah, padahal bisa jadi jebakan.
  • Investor yang menggunakan Forward PER (20x) lebih berhati-hati karena sadar laba akan turun.
  • Untuk perusahaan siklikal, Forward PER lebih relevan.

Mana yang Lebih Penting?

Jawabannya: Keduanya penting. Gunakan secara bersamaan.

Kapan Trailing PER Lebih Berguna:

  1. Perusahaan dengan laba stabil dan dapat diprediksi (consumer goods, utilitas, telekomunikasi).
  2. Untuk perbandingan historis (lihat apakah PER saat ini lebih tinggi atau lebih rendah dari rata-rata 5 tahun terakhir).
  3. Saat Anda ragu dengan proyeksi analis (banyak proyeksi terlalu optimis).
  4. Untuk screening awal (filter saham dengan Trailing PER rendah).

Kapan Forward PER Lebih Berguna:

  1. Perusahaan dengan pertumbuhan laba tinggi (teknologi, startup yang sudah untung).
  2. Perusahaan siklus yang sedang di puncak atau palung (komoditas, properti).
  3. Saat ada perubahan besar dalam bisnis (restrukturasi, akuisisi besar).
  4. Untuk membandingkan dengan perusahaan sejenis (forward PER lebih mencerminkan ekspektasi pasar).

Rasio PER Forward vs PEG: Hubungan Penting

Ada satu rasio yang menggabungkan Forward PER dengan pertumbuhan laba, yaitu PEG (Price/Earnings to Growth).

PEG = Forward PER / Tingkat Pertumbuhan Laba (dalam persen)

Aturan umum:

  • PEG < 1 = Saham mungkin undervalued (pertumbuhan belum tercermin di harga)
  • PEG = 1 = Wajar
  • PEG > 1 = Mungkin overvalued

Contoh:

  • Forward PER = 15x
  • Pertumbuhan laba yang diperkirakan = 20% per tahun
  • PEG = 15 / 20 = 0,75 (menarik, karena harga belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan)

PEG sangat membantu menilai apakah Forward PER yang “kelihatan mahal” sebenarnya wajar karena pertumbuhannya tinggi.


Perangkap yang Sering Terjadi pada Pemula

Perangkap 1: Hanya Melihat Trailing PER yang Rendah

Kasus:
Trailing PER = 5x (terlihat sangat murah). Tapi laba tahun lalu besar karena menjual anak perusahaan (one-time gain). Tahun ini laba normal, jauh lebih kecil. Forward PER sebenarnya 25x.

Akibat: Anda membeli saham yang sebenarnya mahal, terjebak “value trap”.

Perangkap 2: Hanya Melihat Forward PER yang Rendah

Kasus:
Forward PER = 8x (terlihat murah). Tapi perkiraan laba yang digunakan adalah proyeksi optimis analis yang sering meleset. Kenyataannya, laba tidak pernah tumbuh secepat itu.

Akibat: Anda membeli berdasarkan janji yang tidak terpenuhi.

Perangkap 3: Membandingkan Trailing PER dengan Forward PER Perusahaan Lain

Tidak apples to apples. Pilih satu standar untuk semua saham yang dibandingkan.


Panduan Praktis untuk Pemula

Ikuti langkah berikut saat menganalisis PER:

Langkah 1: Cek Trailing PER dulu

  • Gunakan laba 12 bulan terakhir (TTM) atau laba tahun lalu.
  • Bandingkan dengan rata-rata historis perusahaan (5-10 tahun terakhir). Apakah lebih tinggi atau lebih rendah?
  • Bandingkan dengan rata-rata industri.

Langkah 2: Cari proyeksi laba tahun depan

  • Bisa dari laporan analis, riset sekuritas, atau buat estimasi sendiri jika sudah paham bisnisnya.
  • Jangan hanya mengandalkan satu sumber.

Langkah 3: Hitung Forward PER

  • Jika Forward PER > Trailing PER? Artinya laba diperkirakan turun.
  • Jika Forward PER < Trailing PER? Artinya laba diperkirakan naik.

Langkah 4: Evaluasi kewajaran proyeksi

  • Apakah target pertumbuhan laba masuk akal? Atau terlalu tinggi?
  • Cek histori akurasi proyeksi analis untuk saham tersebut.

Langkah 5: Gunakan PEG jika perlu

  • Untuk perusahaan bertumbuh, hitung PEG = Forward PER / pertumbuhan laba (persen).
  • PEG < 1 menarik, PEG 1-2 wajar, PEG > 2 mungkin mahal.

Contoh Analisis Lengkap

Misalkan Anda menganalisis dua saham fiktif:

Saham Cepat (Teknologi)Saham Stabil (Konsumen)
Harga sahamRp10.000Rp5.000
EPS tahun laluRp200Rp250
EPS perkiraan tahun depanRp300Rp260
Trailing PER50x20x
Forward PER33,3x19,2x
Pertumbuhan laba estimasi50%4%
PEG (Forward/pertumbuhan)0,674,8

Analisis Saham Cepat:

  • Trailing PER 50x terlihat sangat mahal.
  • Tapi Forward PER 33,3x (masih mahal, tapi lebih rendah).
  • PEG 0,67 (<1) artinya harga belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan 50%.
  • Kesimpulan: Bisa jadi menarik jika pertumbuhan tercapai. Risiko: proyeksi meleset.

Analisis Saham Stabil:

  • Trailing PER 20x (wajar untuk perusahaan stabil).
  • Forward PER 19,2x (hampir sama).
  • PEG 4,8 (>2) karena pertumbuhan rendah.
  • Kesimpulan: Wajar, tidak murah tidak mahal. Tidak ada diskon.

Keputusan:

  • Pemula konservatif mungkin pilih Saham Stabil (risiko rendah, lebih bisa diprediksi).
  • Pemula agresif yang percaya proyeksi mungkin pilih Saham Cepat (potensi lebih besar, tapi risiko tinggi).

Kapan Sebaiknya Pemula Menggunakan Forward PER?

Untuk pemula, disarankan:

Level PengalamanRekomendasi
Pemula total (0-6 bulan)Gunakan Trailing PER dulu. Hindari forward PER karena butuh kemampuan memprediksi.
Pemula lanjutan (6-12 bulan)Mulai pelajari forward PER, tapi hanya untuk perusahaan stabil.
Menengah (1-2 tahun)Gunakan keduanya, dengan penekanan pada trailing PER sebagai validasi forward PER.
Lanjutan (>2 tahun)Paham kapan masing-masing lebih relevan. Gunakan forward PER untuk growth stock.

Kesimpulan untuk Pemula

Trailing PER = Berdasarkan laba masa lalu (fakta, obyektif, tapi melihat ke belakang).

Forward PER = Berdasarkan perkiraan laba masa depan (lebih relevan untuk prospek, tapi bisa meleset).

Pesan penting:

  • Jangan hanya melihat satu jenis PER.
  • Bandingkan trailing PER dengan forward PER. Jika berbeda besar, cari tahu penyebabnya.
  • Untuk perusahaan stabil, kedua PER hampir sama → lebih mudah dianalisis.
  • Untuk perusahaan bertumbuh cepat, forward PER lebih penting tapi juga lebih berisiko.
  • Selalu cek asumsi di balik proyeksi laba (jangan mudah percaya estimasi optimis).
  • Kombinasikan dengan rasio lain (PBV, ROE, DER) dan analisis kualitatif.

Dengan memahami perbedaan PER forward dan trailing, Anda bisa menilai saham dengan lebih akurat dan tidak terjebak oleh angka yang menyesatkan. Selamat belajar dan tetap bijak dalam berinvestasi!

Artikel menarik lainnya:

  1. Morning Star: Bintang Fajar yang Menerangi Pembalikan Bullish
  2. Pengelolaan Ekspektasi Tahun Pertama Trading: Realita di Balik Mimpi Cepat Kaya
  3. Q Ratio dalam Merger dan Akuisisi: Alat Strategis Menilai Target
  4. Mengendalikan Emosi saat Pasar Crash: Tetap Hidup saat Semua Orang Panik
  5. Chaikin Volatility – Mengukur Kecepatan Perubahan Harga
  6. Current Ratio: Ukur Likuiditas Perusahaan
  7. Unique Three River: Pola Langka yang Menandai Titik Jenuh Penjualan
  8. Marubozu (Bullish & Bearish): Candlestik Tanpa Bayangan yang Menunjukkan Kekuatan Ekstrem
  9. In-Neck Line, Pembalikan dengan Sinyal yang Perlu Konfirmasi Ekstra
  10. Concealing Baby Swan, Formasi Pembalikan Bullish yang Unik

Teknikal

    Platform analisa teknikal saham harian.


  • Halaman Depan
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

  • Volume Spike
  • Top Win Rate
  • Top Profit
  • Top Gainer
  • Top Loser
  • Top Value
  • Top Volume
  • Top Frekuensi
  • Top Pembelian Asing

  • Top Penjualan Asing
  • Top Asing Net Buy
  • Top Asing Net Sell
  • Top Volume (Pasar Nego & Tunai)
  • Top Transaksi (Pasar Nego & Tunai)
  • Saham Termahal
  • Saham Termurah
  • Semua Saham

© 2025 Teknikal.Net - All rights reserved. Data provided for educational purposes only.
Dukung kami untuk mengelola website ini dengan membelikan secangkir kopi melalui Saweria. Terima kasih