Teknikal
Teknikal.Net / Artikel / Pivot Point – Lima Metode Menghitung Level Support dan Resistance Harian

Pivot Point – Lima Metode Menghitung Level Support dan Resistance Harian

Dalam trading saham, salah satu pertanyaan paling umum yang muncul setiap pagi adalah: Di mana level support dan resistance untuk hari ini?

Ada banyak cara untuk menjawab pertanyaan ini, mulai dari garis tren, moving average, hingga indikator kompleks seperti Fibonacci retracement. Namun, ada satu metode yang paling tua, paling sederhana, tetapi masih digunakan secara luas oleh trader profesional hingga saat ini: Pivot Point.

Pivot Point adalah level-level yang dihitung berdasarkan data harga hari sebelumnya (high, low, close). Level-level ini berfungsi sebagai support dan resistance potensial untuk hari berikutnya. Seiring waktu, metodologi dasar ini berkembang menjadi beberapa varian, masing-masing dengan filosofi dan karakteristik unik.

Apa Itu Pivot Point?

Pivot Point (PP) adalah harga rata-rata dari high, low, dan close hari sebelumnya. Dari PP ini, dihitung beberapa level support (S1, S2, S3, dst.) di bawahnya dan beberapa level resistance (R1, R2, R3, dst.) di atasnya.

Filosofi dasar: Pasar cenderung menghormati level-level yang dihitung dari aktivitas hari sebelumnya. Level-level ini menjadi “self-fulfilling prophecy” karena banyak trader menggunakannya.

Lima Metode Pivot Point

Terdapat lima metode Pivot Point yang populer. Masing-masing memiliki rumus perhitungan dan karakteristik berbeda.


1. Pivot Point Standard (Klasik)

Ini adalah metode paling dasar dan paling banyak digunakan. Dikenal juga sebagai Floor Trader Pivots.

Rumus:

text
Pivot Point (PP) = (High + Low + Close) / 3
Resistance 1 (R1) = (2 x PP) - Low
Resistance 2 (R2) = PP + (High - Low)
Resistance 3 (R3) = High + 2 x (PP - Low)
Support 1 (S1) = (2 x PP) - High
Support 2 (S2) = PP - (High - Low)
Support 3 (S3) = Low - 2 x (High - PP)

Karakteristik:

AspekKeterangan
Cocok untukSemua instrumen, semua timeframe
Tingkat kesulitanSangat mudah
Jumlah levelPP, R1-R3, S1-S3 (7 level)
Keakuratan untuk sahamBaik (blue chip)

Kelebihan:

  • Paling sederhana dan intuitif
  • Banyak digunakan, sehingga level-levelnya dihormati pasar
  • Mudah dihitung manual

Kekurangan:

  • Terlalu umum, tidak menyesuaikan dengan karakteristik saham spesifik
  • Level R3 dan S3 jarang tercapai

Cara menggunakan:

  • Harga di atas PP → bias bullish (cari peluang beli)
  • Harga di bawah PP → bias bearish (cari peluang jual atau hindari beli)
  • S1, S2 sebagai target saat posisi jual atau area beli
  • R1, R2 sebagai target saat posisi beli atau area jual

2. Pivot Point Fibonacci

Metode ini menggabungkan Pivot Point klasik dengan rasio Fibonacci (38.2%, 61.8%, 100%, dst.). Hasilnya adalah level-level yang lebih halus dan seringkali lebih akurat untuk saham yang memiliki kecenderungan bergerak dalam proporsi Fibonacci.

Rumus:

text
Pivot Point (PP) = (High + Low + Close) / 3
Resistance 1 (R1) = PP + (0.382 x (High - Low))
Resistance 2 (R2) = PP + (0.618 x (High - Low))
Resistance 3 (R3) = PP + (1.000 x (High - Low))
Resistance 4 (R4) = PP + (1.382 x (High - Low))
Resistance 5 (R5) = PP + (1.618 x (High - Low))
Support 1 (S1) = PP - (0.382 x (High - Low))
Support 2 (S2) = PP - (0.618 x (High - Low))
Support 3 (S3) = PP - (1.000 x (High - Low))
Support 4 (S4) = PP - (1.382 x (High - Low))
Support 5 (S5) = PP - (1.618 x (High - Low))

Karakteristik:

AspekKeterangan
Cocok untukSaham yang mengikuti pola Fibonacci
Tingkat kesulitanSedang
Jumlah levelPP, R1-R5, S1-S5 (11 level)
Keakuratan untuk sahamBaik untuk saham trending

Kelebihan:

  • Lebih banyak level, sehingga lebih presisi
  • Rasio Fibonacci dikenal secara luas dan dihormati pasar
  • Level 0.618 dan 1.618 sering menjadi titik balik yang akurat

Kekurangan:

  • Terlalu banyak level bisa membingungkan
  • Tidak semua saham menghormati Fibonacci

Cara menggunakan:

  • Fokus pada level 0.382, 0.618, dan 1.000 (yang setara dengan range harian)
  • Level 1.382 dan 1.618 biasanya untuk ekstensi (target lanjutan)
  • Sama seperti metode standar, harga di atas PP mengindikasikan bullish bias

3. Pivot Point Woodie

Woodie dikembangkan oleh trader kenamaan Larry Woodie. Metode ini memberikan bobot yang berbeda pada perhitungan PP, dengan fokus yang lebih besar pada harga penutupan (close).

Rumus:

text
Pivot Point (PP) = (High + Low + (2 x Close)) / 4
Resistance 1 (R1) = (2 x PP) - Low
Resistance 2 (R2) = PP + (High - Low)
Support 1 (S1) = (2 x PP) - High
Support 2 (S2) = PP - (High - Low)

Catatan: Woodie tidak menggunakan R3 dan S3 seperti metode standar.

Karakteristik:

AspekKeterangan
Cocok untukTrader yang percaya close lebih penting dari high/low
Tingkat kesulitanSedang
Jumlah levelPP, R1-R2, S1-S2 (5 level)
Keakuratan untuk sahamBaik di saham dengan volatilitas moderat

Kelebihan:

  • Memberi bobot lebih pada harga penutupan (yang dianggap paling penting oleh banyak trader)
  • Lebih sedikit level (tidak sampai R3/S3), lebih fokus
  • Sering lebih responsif terhadap perubahan sentimen

Kekurangan:

  • Kurang populer dibanding standar, sehingga mungkin kurang dihormati pasar
  • Tidak memiliki level ekstensi (R3/S3) untuk pergerakan liar

Cara menggunakan:

  • Woodie PP cenderung lebih dekat ke harga close, sehingga lebih sensitif
  • Cocok untuk saham yang pergerakannya sangat dipengaruhi oleh sentimen penutupan
  • Strategi breakout: saat harga menembus R1 atau S1, sering berlanjut ke R2/S2

4. Pivot Point Camarilla

Camarilla dikembangkan oleh trader obligasi Nick Scott pada tahun 1980-an. Metode ini sangat populer di kalangan trader intraday karena level-levelnya yang sangat presisi, terutama untuk reversal (pembalikan arah).

Keunikan Camarilla: Ia mengasumsikan bahwa harga cenderung kembali ke PP (mean reversion) setelah mencapai level ekstrem R3/S3 atau R4/S4.

Rumus (dengan faktor kunci 1.1, 1.2, 1.3, 1.4):

text
Pivot Point (PP) = (High + Low + Close) / 3
Resistance 1 (R1) = Close + (High - Low) x 1.1 / 12
Resistance 2 (R2) = Close + (High - Low) x 1.2 / 12
Resistance 3 (R3) = Close + (High - Low) x 1.3 / 12
Resistance 4 (R4) = Close + (High - Low) x 1.4 / 12
Support 1 (S1) = Close - (High - Low) x 1.1 / 12
Support 2 (S2) = Close - (High - Low) x 1.2 / 12
Support 3 (S3) = Close - (High - Low) x 1.3 / 12
Support 4 (S4) = Close - (High - Low) x 1.4 / 12

Karakteristik:

AspekKeterangan
Cocok untukRange market, saham dengan volatilitas terbatas
Tingkat kesulitanSedang-Tinggi
Jumlah levelPP, R1-R4, S1-S4 (9 level)
Keakuratan untuk sahamBaik untuk saham yang tidak trending

Kelebihan:

  • Sangat presisi untuk range market
  • Level R3/S3 dan R4/S4 sering menjadi titik balik yang akurat
  • Cocok untuk strategi fade (mean reversion)

Kekurangan:

  • Kurang efektif di pasar trending kuat
  • Membutuhkan disiplin tinggi (entry di level ekstrem terasa berlawanan dengan tren)

Cara menggunakan Camarilla (yang paling khas):

  • Strategi fade (reversal): Beli di S3 atau S4, jual di R3 atau R4, target ke PP atau R1/S1.
  • Strategi breakout: Jika harga menembus R4 atau S4 dengan volume tinggi, itu menandakan breakout luar biasa yang bisa berlanjut. Namun ini jarang terjadi.

Aturan emas Camarilla: 90% waktu, harga akan bergerak antara S3 dan R3. Hanya 10% waktu yang menembus ke R4/S4.


5. Pivot Point DeMark

DeMark dikembangkan oleh Tom DeMark, salah satu analisis teknikal paling terkenal di dunia (pencipta indikator TD Sequential). Metode ini paling berbeda karena perhitungan PP-nya bergantung pada hubungan antara harga pembukaan (open) dan harga penutupan (close).

Rumus (kondisional):

Aturan 1 – Jika Close < Open (harga turun):

text
X = High + (2 x Low) + Close

Aturan 2 – Jika Close > Open (harga naik):

text
X = (2 x High) + Low + Close

Aturan 3 – Jika Close = Open:

text
X = High + Low + (2 x Close)

Setelah X ditemukan:

text
Pivot Point (PP) = X / 4
Resistance 1 (R1) = X / 2 - Low
Support 1 (S1) = X / 2 - High

Catatan: DeMark hanya memberikan satu level support dan satu level resistance (plus PP). Beberapa variasi memberikan level kedua, tetapi versi asli hanya S1, PP, R1.

Karakteristik:

AspekKeterangan
Cocok untukTrader yang percaya hubungan open-close sangat penting
Tingkat kesulitanTinggi (ada percabangan kondisi)
Jumlah levelPP, R1, S1 (3 level)
Keakuratan untuk sahamBervariasi, baik untuk saham dengan gap signifikan

Kelebihan:

  • Memperhitungkan harga pembukaan (open), yang diabaikan metode lain
  • Adaptif (rumus berubah berdasarkan kondisi open vs close)
  • Sangat populer di kalangan trader profesional

Kekurangan:

  • Hanya memberikan 3 level (kurang untuk pergerakan jauh)
  • Perbedaan hasil bisa signifikan antar varian DeMark

Cara menggunakan:

  • S1 dan R1 cenderung lebih “berat” dibanding metode lain
  • Harga di atas PP cenderung menyentuh R1
  • Harga di bawah PP cenderung menyentuh S1
  • Cocok untuk stop loss placement (letakkan stop sedikit di luar S1 atau R1)

Perbandingan Kelima Metode

MetodeLevelBerbasisCocok untukKompleksitas
Standard7HLCSemua kondisiSangat Rendah
Fibonacci11HLC + RasioSaham trendingRendah
Woodie5HLC + bobot closeVolatilitas moderatSedang
Camarilla9HLC + faktor 1.1-1.4Range marketSedang
DeMark3HLO + kondisiGap & pembalikanTinggi

Metode Mana yang Paling Baik?

Tidak ada jawaban tunggal. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut panduan memilih:

Gaya TradingRekomendasi Metode
Trader pemulaStandard (paling mudah, paling populer)
Trader yang percaya FibonacciFibonacci
Trader yang fokus pada harga closeWoodie
Trader range market (sideways)Camarilla
Trader gap dan pembalikanDeMark
Trader profesional (mencari edge)Kombinasi 2-3 metode

Rekomendasi untuk pemula di saham Indonesia: Mulailah dengan Pivot Point Standard. Setelah paham, coba bandingkan dengan Fibonacci. Jangan gunakan kelima metode sekaligus—akan membingungkan.

Cara Praktis Menggunakan Pivot Point

Terlepas dari metode yang dipilih, prinsip penggunaan Pivot Point relatif sama:

1. Menentukan Bias Harian

Harga di atas PP → Bullish bias (cenderung naik hari ini)
Harga di bawah PP → Bearish bias (cenderung turun hari ini)

2. Support dan Resistance Dinamis

  • S1 → Support pertama (paling sering disentuh)
  • S2 → Support kedua (lebih kuat, lebih jarang)
  • S3 → Support ketiga (jarang, biasanya setelah berita besar)
  • R1 → Resistance pertama
  • R2 → Resistance kedua
  • R3 → Resistance ketiga

Aturan empiris:

  • 80% waktu, harga bergerak antara S1 dan R1
  • 15% waktu, harga bergerak antara S2 dan R2
  • 5% waktu, harga bergerak ke S3/R3 atau lebih

3. Strategi Entry

Strategi pullback (dalam tren):

  • Jika PP menunjukkan bullish bias dan harga turun ke S1 → cari sinyal beli
  • Jika PP menunjukkan bearish bias dan harga naik ke R1 → cari sinyal jual

Strategi breakout:

  • Jika harga menembus R1 dan PP bullish → sinyal beli (target R2/R3)
  • Jika harga menembus S1 dan PP bearish → sinyal jual (target S2/S3)

Strategi fade (range market):

  • Beli di S1 (atau S2 jika saham volatil), jual di R1
  • Hanya untuk saham yang jelas-jelas sideways

4. Menempatkan Stop Loss

PosisiTempat Stop Loss
Long (beli) di S1Di bawah S2 (atau di bawah S1 jika ingin ketat)
Long di breakout R1Di bawah R1 (konversi ke support)
Short (jual) di R1Di atas R2 (atau di atas R1 jika ketat)
Short di breakdown S1Di atas S1 (konversi ke resistance)

Kesalahan Umum dalam Menggunakan Pivot Point

  1. Menggunakan pivot point di timeframe di bawah 1 jam. Pivot point dirancang untuk timeframe harian (menggunakan data kemarin untuk hari ini). Di timeframe intraday, maknanya berbeda.
  2. Memperlakukan level sebagai garis mutlak. Harga bisa menyentuh level kemudian memantul, tetapi juga bisa menembusnya. Beri toleransi (misalnya 0.1-0.3%).
  3. Mengganti metode setiap hari. Pilih satu metode dan konsisten. Mengganti-ganti metode hanya akan membingungkan dan tidak memberikan data historis yang konsisten.
  4. Mengabaikan konteks tren yang lebih luas. Pivot point hanya untuk trading harian. Jangan gunakan untuk melawan tren mingguan atau bulanan yang kuat.
  5. Entry hanya karena harga menyentuh level. Selalu tunggu konfirmasi candle (reversal pattern seperti pin bar, engulfing, atau hammer) sebelum entry.

Contoh Perbandingan Antar Metode

Misalkan saham ASII pada hari sebelumnya memiliki data:

  • High = 6.000
  • Low = 5.800
  • Close = 5.900
  • Open (untuk DeMark) = 5.850
MetodePPR1S1
Standard(6000+5800+5900)/3 = 5.900(2×5900)-5800 = 6.000(2×5900)-6000 = 5.800
Fibonacci5.9005900 + (0.382×200) = 5.9765900 – (0.382×200) = 5.824
Woodie(6000+5800+2×5900)/4 = 5.900(2×5900)-5800=6.000(2×5900)-6000=5.800
Camarilla5.9005900 + (200×1.1/12)=5.9185900 – (200×1.1/12)=5.882
DeMark(close<open? ya) X=6000+2×5800+5900=23.500; PP=23.500/4=5.875X/2 – low = 11.750-5800=5.950X/2 – high = 11.750-6000=5.750

Perhatikan bahwa kelima metode menghasilkan angka yang berbeda. Tidak ada yang “benar” atau “salah”. Pilih salah satu dan gunakan konsisten.

Pivot Point untuk Saham Indonesia

Di bursa saham Indonesia (BEI), Pivot Point Standard adalah yang paling populer. Banyak platform trading lokal (seperti RTI Business, Stockbit, IPOT) menyediakan pivot point standar secara otomatis.

Tips untuk saham Indonesia:

  • Saham blue chip (BBCA, BBRI, TLKM, ASII) → Pivot point bekerja sangat baik
  • Saham mid cap → Bekerja cukup baik, tetapi level S2/R2 sering tidak tercapai
  • Saham small cap → Kurang cocok karena volatilitas tinggi dan volume tipis
  • IHSG → Pivot point sangat baik untuk memprediksi pergerakan indeks harian

Kesimpulan

Pivot Point adalah alat analisis teknikal yang sederhana namun sangat powerful untuk menentukan level support dan resistance harian. Lima metode yang dibahas masing-masing menawarkan pendekatan berbeda:

  1. Standard – Yang paling populer, cocok untuk semua trader dan semua kondisi.
  2. Fibonacci – Menggabungkan rasio emas, cocok untuk saham trending.
  3. Woodie – Memberi bobot lebih pada harga close, cocok untuk trader yang percaya penutupan penting.
  4. Camarilla – Dirancang untuk range market, unggul dalam strategi reversal.
  5. DeMark – Paling kompleks, memperhitungkan open, cocok untuk gap dan pembalikan.

Tidak ada yang terbaik secara mutlak. Pilih satu metode yang paling sesuai dengan gaya trading Anda, pelajari dengan sungguh-sungguh, dan gunakan secara konsisten. Seiring waktu, Anda akan memahami karakteristik level-level pivot point pada saham-saham favorit Anda.

Ingatlah selalu: Pivot point adalah alat bantu, bukan ramalan. Ia memberikan probabilitas, bukan kepastian. Kombinasikan selalu dengan analisis harga, volume, dan manajemen risiko yang baik.

Artikel menarik lainnya:

  1. Mengenal TMA (Triangular Moving Average): Rata-rata Bergerak yang Paling Halus
  2. Fibonacci Time Zone – Kapan Waktu yang Tepat untuk Pergerakan Besar?
  3. Money Flow Index (MFI): RSI yang Memperhitungkan Volume
  4. Gann Grid – Kotak Geometris yang Memetakan Waktu dan Harga
  5. Memahami Pola Bearish Engulfing: Sinyal Bahaya Saat Harga Akan Terjun
  6. Gartley: Formasi Harmonis yang Memadukan Geometri dan Fibonacci
  7. Parabolic SAR: Titik-Titik yang Menunjukkan Arah Tren dan Titik Balik
  8. Momentum (MOM): Indikator Paling Sederhana untuk Mengukur Kecepatan Harga
  9. Pivot Point – Lima Metode Menghitung Level Support dan Resistance Harian
  10. VSA (Volume Spread Analysis) – Membaca Niat Pelaku Pasar Melalui Volume dan Spread

Teknikal

    Platform analisa teknikal saham harian.


  • Halaman Depan
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

  • Volume Spike
  • Top Win Rate
  • Top Profit
  • Top Gainer
  • Top Loser
  • Top Value
  • Top Volume
  • Top Frekuensi
  • Top Pembelian Asing

  • Top Penjualan Asing
  • Top Asing Net Buy
  • Top Asing Net Sell
  • Top Volume (Pasar Nego & Tunai)
  • Top Transaksi (Pasar Nego & Tunai)
  • Saham Termahal
  • Saham Termurah
  • Semua Saham

© 2025 Teknikal.Net - All rights reserved. Data provided for educational purposes only.
Dukung kami untuk mengelola website ini dengan membelikan secangkir kopi melalui Saweria. Terima kasih