Teknikal
Teknikal.Net / Artikel / Point and Figure – Trading dengan Kolom X dan O yang Tak Lekang Waktu

Point and Figure – Trading dengan Kolom X dan O yang Tak Lekang Waktu

Di era digital dengan chart berwarna-warni dan puluhan indikator, ada satu metode analisis teknikal yang terlihat “kuno” namun tetap digunakan oleh trader profesional hingga hari ini. Metode ini tidak menggunakan candlestick, tidak memiliki sumbu waktu, dan hanya terdiri dari dua huruf: X dan O.

Metode itu adalah Point and Figure (P&F) Chart.

Dikembangkan pada akhir abad ke-19, Point and Figure adalah salah satu metode analisis teknikal tertua yang masih relevan. Ia digunakan oleh trader legendaris seperti Charles Dow (pendiri Dow Jones) dan Jesse Livermore (trader terhebat sepanjang masa). Bahkan hingga saat ini, banyak hedge fund dan trader institusional masih mengandalkan P&F untuk mengidentifikasi level supply dan demand murni.

Apa Itu Point and Figure Chart?

Point and Figure Chart adalah jenis chart yang hanya mencatat perubahan harga yang signifikan, mengabaikan waktu dan volume. Ia menggunakan:

  • X untuk mewakili kenaikan harga
  • O untuk mewakili penurunan harga

Filosofi dasar:

  • Harga adalah segalanya. Waktu tidak penting.
  • Hanya pergerakan harga yang mencapai “box size” yang dicatat.
  • Pergerakan kecil yang tidak signifikan diabaikan.
  • Tidak ada noise, tidak ada fluktuasi acak.

Perbedaan dengan chart lain:

AspekCandlestickRenkoKagiPoint & Figure
SimbolCandleBataGaris tebal/tipisX (naik), O (turun)
Sumbu waktuAdaTidakTidakTidak
Informasi volumeBisa ditambahkanTidakTidakTidak
Informasi waktuAdaTidakTidakTidak
Usia~1990~1960~1800-an~1890-an

Komponen Dasar Point and Figure

1. Box Size (Ukuran Kotak)

Box size adalah nilai harga minimum yang harus dilewati untuk menggambar satu X atau satu O.

Contoh: Jika box size = 100 poin, maka:

  • Harga harus naik 100 poin dari X terakhir untuk menggambar X baru
  • Harga harus turun 100 poin dari O terakhir untuk menggambar O baru

2. Reversal Amount (Jumlah Pembalikan)

Reversal amount adalah jumlah box yang harus dilewati harga untuk berbalik arah dan memulai kolom baru. Biasanya 3 box.

Contoh: Jika box size = 100 poin dan reversal amount = 3 box, maka:

  • Untuk berubah dari kolom X ke kolom O: harga harus turun 300 poin (3 x 100) dari X tertinggi di kolom tersebut
  • Untuk berubah dari kolom O ke kolom X: harga harus naik 300 poin (3 x 100) dari O terendah di kolom tersebut

3. Kolom (Column)

  • Kolom X: Kolom yang berisi X (harga sedang naik)
  • Kolom O: Kolom yang berisi O (harga sedang turun)

Setiap kali harga berbalik arah sebesar reversal amount, kolom baru dimulai di samping kolom sebelumnya.

Cara Membangun Point and Figure Chart

Mari kita bangun P&F chart langkah demi langkah dengan contoh sederhana.

Parameter:

  • Box size = 100 poin
  • Reversal amount = 3 box
  • Harga awal = 10.000

Langkah-langkah:

Langkah 1 – Kolom pertama (naik)
Harga naik dari 10.000 ke 10.300. Karena box size 100, ini berarti:

  • 10.000 → 10.100 (X pertama)
  • 10.100 → 10.200 (X kedua)
  • 10.200 → 10.300 (X ketiga)

Kolom pertama: tiga X ke atas.

Langkah 2 – Penentuan pembalikan
Harga sekarang di 10.300.
Untuk berbalik arah (dari X ke O), harga harus turun minimal 300 poin (3 x box size).

Langkah 3 – Harga turun
Harga turun ke 10.000 (turun 300 poin). Ini memenuhi reversal amount.

Kolom baru (O) dimulai di samping kanan kolom X.
Kita gambar O dari 10.300 ke bawah:

  • 10.300 → 10.200 (O pertama)
  • 10.200 → 10.100 (O kedua)
  • 10.100 → 10.000 (O ketiga)

Langkah 4 – Terus berlanjut
Setiap kali harga naik/turun sebesar box size dalam arah yang sama, tambahkan X/O di kolom yang sama.
Setiap kali harga berbalik sebesar reversal amount, mulai kolom baru.

Visualisasi Sederhana

Berikut bagaimana P&F chart terlihat (dengan box size 100, reversal 3):

text
Harga
10.600 |       X
10.500 |       X
10.400 |       X
10.300 |   X   X
10.200 |   X   X
10.100 |   X   X
10.000 |   X   O
 9.900 |       O
 9.800 |       O
 9.700 |       O
 9.600 |       O
 9.500 |       O
       -----------------
          Kolom1 Kolom2
          (X)    (O)

Dalam contoh ini:

  • Kolom 1: Harga naik dari 10.000 ke 10.500 (6 X)
  • Kolom 2: Harga turun dari 10.500 ke 9.500 (7 O, karena turun lebih jauh)

Parameter Kunci Point and Figure

Pemilihan box size dan reversal amount adalah keputusan paling penting dalam P&F.

Box Size

Metode PenentuanRumusContoh
Berdasarkan ATRBox = ATR(14) x 0.5-1.0ATR=200 → Box=100-200
Berdasarkan persentaseBox = 0.5%-2% hargaHarga 10.000 → Box=50-200
Fixed valueNilai tetap untuk semua saham100 poin (umum untuk IHSG)

Reversal Amount

NilaiKarakteristikCocok untuk
1 boxSangat sensitif, banyak sinyalScalping (jarang digunakan)
2 boxCukup sensitifDay trading
3 boxStandar, paling populerSwing trading
4-5 boxKurang sensitifPosition trading / investasi

Aturan standar yang paling banyak digunakan:

  • Box size = 1% dari harga (untuk saham)
  • Reversal amount = 3 box

Pola-Pola Dasar dalam Point and Figure

P&F memiliki pola-pola khas yang menjadi bahasa universal para penggunanya.

1. Double Top (Pola Beli)

Penampakan:

  • Kolom O (turun), lalu kolom X naik, lalu kolom O turun lagi, lalu kolom X naik lagi
  • Puncak kolom X kedua lebih tinggi dari puncak kolom X pertama

Sinyal: Bullish. Harga menembus level resistance dua kali.

Tindakan: Beli saat kolom X kedua melewati puncak kolom X pertama.

2. Double Bottom (Pola Jual)

Penampakan:

  • Kolom X (naik), lalu kolom O turun, lalu kolom X naik lagi, lalu kolom O turun lagi
  • Dasar kolom O kedua lebih rendah dari dasar kolom O pertama

Sinyal: Bearish. Harga menembus level support dua kali.

Tindakan: Jual saat kolom O kedua melewati dasar kolom O pertama.

3. Triple Top (Pola Beli Lebih Kuat)

Penampakan: Tiga puncak, masing-masing lebih tinggi dari sebelumnya.

Sinyal: Bullish sangat kuat. Breakout setelah tiga kali uji resistance.

4. Triple Bottom (Pola Jual Lebih Kuat)

Penampakan: Tiga dasar, masing-masing lebih rendah dari sebelumnya.

Sinyal: Bearish sangat kuat. Breakdown setelah tiga kali uji support.

5. Bullish Catapult

Penampakan:

  • Kolom X naik
  • Kolom O turun (tidak mencapai dasar sebelumnya)
  • Kolom X naik melewati puncak kolom X sebelumnya

Sinyal: Bullish. Mirip dengan “higher low” di chart biasa.

6. Bearish Catapult

Penampakan:

  • Kolom O turun
  • Kolom X naik (tidak mencapai puncak sebelumnya)
  • Kolom O turun melewati dasar kolom O sebelumnya

Sinyal: Bearish. Mirip dengan “lower high” di chart biasa.

Identifikasi Tren dengan Point and Figure

Salah satu keunggulan P&F adalah kemampuannya menunjukkan tren dengan sangat jelas.

Tren Naik (Bullish)

Karakteristik:

  • Kolom X lebih tinggi dari kolom X sebelumnya
  • Kolom O tidak turun lebih rendah dari kolom O sebelumnya
  • Secara visual: kolom X terus “memanjat” ke kanan atas

Tindakan: Fokus pada sinyal beli. Hindari posisi jual.

Tren Turun (Bearish)

Karakteristik:

  • Kolom O lebih rendah dari kolom O sebelumnya
  • Kolom X tidak naik lebih tinggi dari kolom X sebelumnya
  • Secara visual: kolom O terus “menurun” ke kanan bawah

Tindakan: Fokus pada sinyal jual. Hindari posisi beli.

Sideways (Tidak Tren)

Karakteristik:

  • Kolom X dan O bergantian dalam rentang harga terbatas
  • Tidak ada kolom X yang lebih tinggi dari kolom X sebelumnya
  • Tidak ada kolom O yang lebih rendah dari kolom O sebelumnya

Tindakan: Hindari trading. Tunggu breakout dari range.

Keunggulan Point and Figure Chart

KeunggulanPenjelasan
Menghilangkan noise totalHanya pergerakan signifikan yang tercatat. Fluktuasi 0.1% diabaikan.
Mudah melihat support/resistanceLevel-level di mana X/O berbalik arah menjadi support/resistance alami.
Sinyal beli/jual objektifPola double top/triple top memberikan sinyal yang tidak ambigu.
Tidak repaintTidak seperti Zig Zag, P&F tidak menggambar ulang masa lalu. Setelah dicatat, tetap.
Cocok untuk semua timeframeDari intraday hingga bulanan, parameter disesuaikan.
Mengabaikan manipulasi waktuManipulasi harga di menit-menit terakhir tidak mempengaruhi P&F jika tidak mencapai box size.

Kekurangan Point and Figure Chart

KekuranganPenjelasan
Kehilangan informasi detailAnda tidak tahu seberapa cepat pergerakan terjadi. Naik 1000 poin dalam 1 hari atau 1 bulan? Sama saja.
Parameter sangat kritisBox size terlalu kecil → noise; terlalu besar → melewatkan pergerakan.
Kurang populerBanyak trader muda tidak familiar dengan P&F. Komunitas terbatas.
Tidak tersedia di semua platformPlatform lokal Indonesia jarang yang menyediakan P&F.
Membutuhkan disiplinSinyal bisa jarang muncul. Trader yang suka aksi setiap hari akan bosan.

Strategi Trading dengan Point and Figure

Strategi 1: Double Top Breakout (Sinyal Beli)

Aturan:

  1. Identifikasi double top: dua puncak kolom X dengan lembah O di antaranya
  2. Puncak kedua harus setinggi atau lebih tinggi dari puncak pertama (idealnya lebih tinggi)
  3. Entry saat kolom X kedua menembus puncak kolom X pertama
  4. Stop loss di bawah dasar lembah O di antara kedua puncak
  5. Target: gunakan horizontal count atau vertical count (akan dijelaskan)

Strategi 2: Double Bottom Breakdown (Sinyal Jual)

Aturan:

  1. Identifikasi double bottom: dua dasar kolom O dengan punggung X di antaranya
  2. Dasar kedua harus serendah atau lebih rendah dari dasar pertama
  3. Entry saat kolom O kedua menembus dasar kolom O pertama
  4. Stop loss di atas puncak punggung X di antara kedua dasar
  5. Target: hitung menggunakan metode counting

Strategi 3: Trend Following (Sederhana)

Aturan:

  • Selama kolom X terus membuat higher high → hold posisi long
  • Selama kolom O terus membuat lower low → hold posisi short
  • Exit saat terjadi perubahan arah (reversal 3 box) yang signifikan

Strategi 4: Pullback Entry

Aturan:

  1. Identifikasi tren naik (deretan kolom X yang semakin tinggi)
  2. Tunggu kolom O (pullback) yang tidak melanggar struktur tren
  3. Entry saat kolom X berikutnya terbentuk
  4. Stop loss di bawah dasar kolom O pullback

Metode Counting (Menghitung Target) dalam P&F

Salah satu keunggulan utama P&F adalah kemampuannya memperkirakan target harga secara objektif.

Horizontal Count (untuk Double Top/Triple Top)

Langkah-langkah:

  1. Hitung jumlah kolom dalam basis (lebar pola)
  2. Kalikan dengan box size
  3. Tambahkan ke titik breakout

Rumus: Target = Breakout Price + (Jumlah Kolom Basis x Box Size x Reversal Amount)

Contoh:
Double top dengan basis 5 kolom, box size 100, reversal 3, breakout di 10.000.
Target = 10.000 + (5 x 100 x 3) = 10.000 + 1.500 = 11.500

Vertical Count (untuk Tren Berjalan)

Langkah-langkah:

  1. Ukur tinggi kolom X pertama setelah reversal
  2. Kalikan dengan box size
  3. Proyeksikan ke atas dari dasar kolom X tersebut

Rumus: Target = Low Kolom X + (Jumlah X di Kolom X x Box Size x Reversal Amount)

Contoh:
Kolom X pertama memiliki 6 X, box size 100, reversal 3, low kolom X = 9.000.
Target = 9.000 + (6 x 100 x 3) = 9.000 + 1.800 = 10.800

Catatan Metode Counting:

  • Ini adalah target minimum, bukan maksimum
  • Harga bisa (dan sering) melebihi target
  • Gunakan sebagai panduan take profit, bukan ramalan mutlak

Point and Figure untuk Saham Indonesia

Di bursa saham Indonesia, Point and Figure dapat digunakan dengan efektif pada:

Jenis SahamKeefektifanBox Size Rekomendasi
BBCABaik100-150 poin
BBRIBaik75-100 poin
TLKMBaik50-75 poin
ASIIBaik75-100 poin
ADROCukup baik50-75 poin
IHSGSangat baik50-75 poin
Saham mid capSedang1-2% dari harga
Saham small capRendahTidak disarankan

Catatan untuk Indonesia: Harga saham di BEI sangat bervariasi, dari Rp50 hingga Rp10.000+. Gunakan box size dalam persentase (1%) untuk konsistensi antar saham.

Box Size Dinamis vs Statis

Ada dua pendekatan dalam menentukan box size:

Box Size Statis

  • Nilai tetap untuk semua saham (misal 100 poin)
  • Kelebihan: Sederhana
  • Kekurangan: Tidak cocok untuk saham dengan rentang harga sangat berbeda

Box Size Dinamis (Persentase)

  • Box size = 1% dari harga saham
  • Kelebihan: Proporsional untuk semua saham
  • Kekurangan: Perlu dihitung ulang setiap kali harga berubah

Rekomendasi: Gunakan persentase jika menganalisis banyak saham dengan rentang harga lebar. Gunakan statis jika hanya fokus pada 1-2 saham blue chip.

Point and Figure di Platform Trading

PlatformDukungan P&FKeterangan
MetaTraderTerbatas (butuh indikator custom)Tidak built-in
TradingViewYaTersedia di menu chart types
StockCharts.comYaSangat baik, banyak fitur
ProRealTimeYa–
Platform lokal IndonesiaUmumnya Tidak–

Rekomendasi: Gunakan TradingView versi gratis untuk analisis P&F, lalu eksekusi di platform trading utama Anda.

Kesalahan Umum dalam Menggunakan Point and Figure

  1. Memilih box size terlalu kecil. Ini akan membuat chart penuh dengan kolom pendek, sama noise-nya dengan candlestick.
  2. Memilih box size terlalu besar. Chart jarang bergerak, sinyal sangat jarang, melewatkan banyak peluang.
  3. Mengabaikan reversal amount. 3 box adalah standar. Jangan gunakan 1 box (terlalu sensitif) atau 5 box (terlalu lambat) tanpa alasan kuat.
  4. Entry tanpa konfirmasi pola. Double top harus memiliki lembah O di antaranya. Jangan asal beli setiap kali kolom X baru muncul.
  5. Mengabaikan tren utama. Di tengah downtrend, sinyal double top lebih mungkin gagal. Selalu lihat konteks.
  6. Menggunakan P&F untuk saham illiquid. Pergerakan harga yang tidak smooth akan menghasilkan pola yang tidak berarti.

Point and Figure vs Renko vs Kagi

Ketiganya adalah chart non-waktu, tetapi memiliki karakter berbeda:

AspekPoint & FigureRenkoKagi
SimbolX dan OBataGaris tebal/tipis
Parameter utamaBox size + reversal amountBox sizeReversal amount
Informasi arahKolom X/OWarna bataKetebalan garis
Metode countingYa (horizontal/vertical)TidakTidak
Tingkat kesulitan belajarSedangMudahSulit
PopularitasSedangSedangRendah

Kesimpulan: Renko paling mudah untuk pemula. P&F paling kuat untuk analisis target harga. Kagi paling unik untuk sentimen.

Contoh Studi Kasus Lengkap

Skenario:
Anda ingin trading IHSG menggunakan Point and Figure.

  • Box size = 50 poin
  • Reversal amount = 3 box
  • Data: pergerakan IHSG 3 bulan terakhir

Chart P&F yang terbentuk (sederhanakan):

Kolom1 (X): 6.800 ke 7.000 (4 X)
Kolom2 (O): 7.000 ke 6.800 (3 O) → reversal
Kolom3 (X): 6.800 ke 7.200 (8 X) → double top? Puncak 7.200 > 7.000
Kolom4 (O): 7.200 ke 6.900 (4 O) → pullback, tidak lebih rendah dari 6.800
Kolom5 (X): 6.900 ke 7.400 (10 X) → triple top? Puncak 7.400 > 7.200

Analisis:

  • Terjadi double top di kolom3 (breakout 7.000)
  • Kemudian triple top di kolom5 (breakout 7.200)

Strategi:

  1. Sinyal beli pertama di 7.000 (double top)
  2. Tambah posisi di 7.200 (triple top)
  3. Stop loss di 6.800 (dasar kolom O terendah setelah pola)
  4. Hitung target (horizontal count):
    • Basis double top: 3 kolom (O, X, O) = 3 kolom
    • Target = 7.000 + (3 x 50 x 3) = 7.000 + 450 = 7.450
  5. Trailing stop setelah mencapai target

Hasil:
IHSG naik ke 7.600. Target 7.450 tercapai. Anda mengambil profit di sekitar 7.500.

Kesimpulan

Point and Figure Chart adalah salah satu alat analisis teknikal tertua namun tetap relevan hingga saat ini. Dengan menggunakan X dan O di kolom-kolom vertikal, P&F menghilangkan noise, mengabaikan waktu, dan hanya fokus pada pergerakan harga signifikan.

Empat poin utama yang harus Anda ingat tentang Point and Figure:

  1. X = harga naik, O = harga turun. Kolom bergantian setiap kali terjadi reversal sebesar reversal amount (biasanya 3 box).
  2. Box size dan reversal amount adalah parameter paling kritis. Box size biasanya 1% dari harga, reversal amount 3 box adalah standar.
  3. Pola utama: double top (beli) dan double bottom (jual). Pola triple top/bottom lebih kuat. Hindari sinyal tanpa pola yang jelas.
  4. Metode counting memberikan target harga objektif. Horizontal count untuk pola basis, vertical count untuk tren berjalan. Gunakan sebagai panduan take profit.

Point and Figure bukan untuk semua orang. Ia membutuhkan kesabaran (sinyal tidak setiap hari) dan akses ke platform yang mendukung. Namun, bagi trader yang menghargai objektivitas, kejelasan, dan kemampuan menghitung target, P&F adalah alat yang sangat berharga.

Mulailah dengan mempraktikkan P&F pada IHSG (karena lebih smooth dari saham individual) di platform seperti TradingView. Gunakan box size 50 poin dan reversal 3 box. Amati bagaimana pola double top dan double bottom terbentuk. Seiring waktu, Anda akan mulai melihat struktur pasar yang tidak terlihat di chart candlestick biasa.

Artikel menarik lainnya:

  1. Dragonfly Doji: Pola Satu Candlestick yang Menandakan Potensi Pembalikan Bullish
  2. Mengenal Pola Bearish Pennant dalam Analisis Teknikal Saham
  3. Separating Lines: Garis Pemisah yang Justru Menegaskan Tren
  4. Hammer (Bullish): Pola Satu Candlestick Andalan untuk Mendeteksi Pembalikan Harga
  5. Gann Fan – Kipas Geometris yang Membaca Jiwa Pasar
  6. Hook Reversal: Pola Sederhana yang Bisa Selamatkan Anda dari Jeratan Tren
  7. Mengenal Williams %R: Satu Langkah Menuju Overbought dan Oversold
  8. Mengenal Alligator: Rahasia Bill Williams untuk Mengikuti Pasar yang “Bangun”
  9. Stacked Imbalance: Membaca Sinyal Ketidakseimbangan Order
  10. Mengenal Aroon: Menangkap Momentum dengan Crossover Aroon Up dan Aroon Down

Teknikal

    Platform analisa teknikal saham harian.


  • Halaman Depan
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

  • Volume Spike
  • Top Win Rate
  • Top Profit
  • Top Gainer
  • Top Loser
  • Top Value
  • Top Volume
  • Top Frekuensi
  • Top Pembelian Asing

  • Top Penjualan Asing
  • Top Asing Net Buy
  • Top Asing Net Sell
  • Top Volume (Pasar Nego & Tunai)
  • Top Transaksi (Pasar Nego & Tunai)
  • Saham Termahal
  • Saham Termurah
  • Semua Saham

© 2025 Teknikal.Net - All rights reserved. Data provided for educational purposes only.
Dukung kami untuk mengelola website ini dengan membelikan secangkir kopi melalui Saweria. Terima kasih