Apa yang terjadi ketika sebuah perusahaan sedang merugi? PER (Price to Earnings Ratio) menjadi tidak terdefinisi atau negatif. EV/EBITDA pun bisa ikut negatif jika EBITDA-nya juga merah.
Lalu bagaimana cara menilai apakah saham perusahaan yang sedang rugi itu masih layak diperhatikan atau sudah sebaiknya dihindari?
Di sinilah Price to Sales (P/S) hadir sebagai solusi.
Apa Itu Price to Sales (P/S)?
Price to Sales (P/S) adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan pendapatan (penjualan) perusahaan.
Sederhananya, P/S menjawab pertanyaan: “Berapa rupiah investor bersedia membayar untuk setiap satu rupiah pendapatan perusahaan?”
Rumus P/S:
P/S = Harga Saham / Pendapatan per Saham
Atau secara total:
P/S = Kapitalisasi Pasar / Total Pendapatan (Penjualan)
Contoh Sederhana:
Perusahaan A (sedang untung):
- Harga saham = Rp2.000
- Pendapatan per saham = Rp500
- P/S = 2.000 / 500 = 4x
Perusahaan B (sedang rugi):
- Harga saham = Rp2.000
- Pendapatan per saham = Rp400
- P/S = 2.000 / 400 = 5x
Artinya: Investor membayar Rp4 (Perusahaan A) atau Rp5 (Perusahaan B) untuk setiap Rp1 pendapatan perusahaan.
Mengapa P/S Penting untuk Perusahaan Rugi?
PER tidak bisa digunakan ketika perusahaan rugi karena laba negatif. Tapi pendapatan (penjualan) hampir selalu positif selama perusahaan masih beroperasi.
Keunggulan P/S untuk perusahaan rugi:
- Selalu positif (selama perusahaan punya pendapatan)
- Tidak terpengaruh biaya non-tunai (depresiasi, amortisasi)
- Tidak terpengaruh struktur modal (utang vs ekuitas)
- Lebih stabil daripada laba yang fluktuatif
Karena alasan inilah P/S sering digunakan untuk menilai:
- Perusahaan teknologi yang masih berekspansi dan belum untung
- Perusahaan startup yang sudah go public
- Perusahaan yang sedang dalam masa turnaround (kebangkitan)
- Perusahaan siklikal yang sedang berada di palung laba
Interpretasi Nilai P/S
Seperti rasio lainnya, semakin rendah P/S, semakin “murah” saham secara teoritis.
| P/S | Interpretasi untuk Perusahaan Rugi |
|---|---|
| < 1x | Sangat murah. Pendapatan lebih besar dari kapitalisasi pasar. Jarang terjadi, biasanya karena perusahaan bermasalah serius. |
| 1x – 3x | Murah. Menarik untuk diselidiki, terutama jika potensi profit besar. |
| 3x – 6x | Wajar untuk sebagian besar perusahaan (tergantung industri). |
| 6x – 10x | Agak mahal. Investor membayar premium untuk pendapatan perusahaan. |
| > 10x | Mahal. Hanya wajar untuk perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan sangat tinggi (20-50%+ per tahun). |
Catatan penting: Patokan ini SANGAT tergantung industri. Margin laba setiap industri berbeda. Perusahaan dengan margin laba tinggi (teknologi, software) bisa punya P/S 10-20x sekalipun. Perusahaan dengan margin laba tipis (ritel, distribusi) jarang punya P/S di atas 1-2x.
Contoh Kasus: Perusahaan Teknologi yang Belum Untung
Skenario: Perusahaan Teknologi “TechInno”
| Tahun | Pendapatan | Laba Bersih | P/S | PER |
|---|---|---|---|---|
| 2023 | Rp100 M | -Rp20 M (rugi) | 8x | Negatif (tidak bermakna) |
| 2024 (proyeksi) | Rp180 M | Rp10 M (mulai untung) | 4,4x | 80x |
Analisis dengan P/S:
- P/S 8x di 2023 terlihat mahal untuk rata-rata industri. Tapi untuk perusahaan teknologi dengan pertumbuhan pendapatan 80% (dari 100M ke 180M), P/S 8x bisa jadi wajar.
- Jika proyeksi terpenuhi, P/S turun ke 4,4x di 2024, dan PER 80x (masih tinggi tapi mulai masuk akal).
Kesimpulan: P/S membantu investor menilai apakah harga saat ini masuk akal berdasarkan potensi pendapatan di masa depan, bukan berdasarkan kerugian saat ini.
Perbandingan P/S Antar Sektor
Sektor yang berbeda memiliki margin laba yang sangat berbeda. Jangan bandingkan P/S perusahaan teknologi dengan P/S perusahaan ritel.
| Sektor | Margin Laba Khas | Rata-rata P/S Wajar | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Teknologi (software) | 20-40% | 5x – 15x | Margin tinggi, P/S bisa tinggi |
| Farmasi | 15-25% | 3x – 8x | Tergantung pipeline produk |
| Consumer goods | 10-20% | 1,5x – 3x | Stabil, persaingan ketat |
| Ritel | 2-5% | 0,3x – 1x | Margin tipis, volume besar |
| Distributor | 1-3% | 0,1x – 0,5x | Margin sangat tipis |
| Perbankan | (tidak relevan) | (tidak relevan) | Pakai PBV untuk bank |
| Properti | 10-20% (fluktuatif) | 1x – 3x | Tergantung siklus |
Contoh perbandingan yang salah:
- Perusahaan software A: P/S 10x → “Wah mahal sekali!”
- Dibandingkan dengan distributor B: P/S 0,5x → “Ini lebih murah!”
Kesalahan: Software punya margin laba 30%, distributor margin 2%. P/S 10x untuk software mungkin wajar, P/S 0,5x untuk distributor juga wajar. Tidak bisa dibandingkan langsung.
Kapan P/S Sangat Berguna?
1. Perusahaan Teknologi atau Startup yang Masih Rugi
Contoh nyata (ilustrasi):
- Perusahaan e-commerce: pendapatan naik 100% per tahun, tapi masih rugi karena biaya pemasaran besar.
- Investor tidak bisa pakai PER. P/S menjadi alat utama untuk menilai valuasi.
- Biasanya P/S untuk perusahaan seperti ini: 3x – 15x tergantung tingkat pertumbuhan.
2. Perusahaan Siklikal yang Sedang di Palung
Contoh: Perusahaan batu bara atau sawit.
- Saat harga komoditas rendah, laba bisa kecil atau rugi.
- Tapi pendapatan masih ada (meskipun turun).
- P/S membantu membandingkan valuasi relatif dibandingkan saat siklus normal.
3. Perusahaan yang Sedang Turnaround (Kebangkitan)
Perusahaan yang baru saja rugi besar, melakukan restrukturisasi, mulai menunjukkan perbaikan pendapatan tapi laba belum pulih.
- P/S menunjukkan apakah pasar sudah terlalu optimis (P/S tinggi) atau masih skeptis (P/S rendah) terhadap perbaikannya.
4. Membandingkan Perusahaan di Industri yang Sama
P/S paling akurat digunakan untuk membandingkan perusahaan-perusahaan dalam satu industri yang sama. Contoh: membandingkan dua perusahaan ritel, atau dua perusahaan teknologi.
Kelemahan P/S yang Harus Dipahami
Meskipun berguna, P/S memiliki kelemahan serius:
1. Mengabaikan Profitabilitas
P/S yang rendah belum tentu bagus jika margin labanya juga rendah.
Contoh:
| Perusahaan A | Perusahaan B | |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp100 M | Rp100 M |
| Laba bersih | Rp20 M (margin 20%) | Rp2 M (margin 2%) |
| Kapitalisasi pasar | Rp400 M | Rp400 M |
| P/S | 4x | 4x (sama) |
P/S sama-sama 4x, tapi Perusahaan A 10 kali lebih menguntungkan! P/S tidak bisa menangkap ini.
Solusi: Gunakan P/S bersama dengan margin laba (NPM) atau EV/EBITDA.
2. Tidak Memperhitungkan Utang
Dua perusahaan dengan P/S sama, tapi perusahaan A punya utang besar, perusahaan B tanpa utang. P/S tidak membedakan ini.
Solusi: Periksa DER (Debt to Equity Ratio) juga.
3. Bisa Menyesatkan untuk Perusahaan dengan Pendapatan “Kotor”
Beberapa perusahaan mencatat pendapatan kotor yang besar tapi margin labanya sangat tipis (ritel, distributor). P/S rendah bisa jadi normal, bukan tanda murah.
4. Tidak Berguna untuk Perusahaan Keuangan (Bank, Asuransi)
Bank tidak memiliki “penjualan” seperti perusahaan biasa. Pendapatan bank berasal dari bunga pinjaman, yang tidak bisa dibandingkan dengan pendapatan perusahaan non-keuangan. Untuk bank, gunakan PBV dan PER.
Kombinasi P/S dengan Rasio Lain
Agar tidak keliru, kombinasikan P/S dengan rasio lain:
| Rasio Pendamping | Fungsinya |
|---|---|
| Margin Laba Bersih (NPM) | Mengetahui apakah P/S rendah karena margin tipis (wajar) atau karena undervalue (peluang) |
| Pertumbuhan Pendapatan | P/S tinggi bisa wajar jika pendapatan tumbuh cepat (30-50%+ per tahun) |
| DER (Debt to Equity) | Memastikan P/S rendah tidak disertai utang berbahaya |
| EV/EBITDA (jika EBITDA positif) | Melengkapi dari sisi nilai perusahaan dan kemampuan operasional |
Panduan Praktis untuk Pemula
Langkah 1: Pastikan P/S Relevan untuk Sektor Ini
Gunakan P/S terutama untuk:
- Teknologi
- Consumer goods (terutama yang sedang rugi sementara)
- Ritel
- Manufaktur
- Perusahaan siklikal
Jangan gunakan P/S untuk:
- Perbankan
- Asuransi
- Perusahaan keuangan lainnya
Langkah 2: Cek Margin Laba (NPM) Sebelum Rugi
Jika perusahaan sekarang rugi, lihat margin laba terakhir kali mereka untung. Berapa margin normalnya?
Contoh:
- Terakhir untung (2 tahun lalu): margin laba 15%
- Sekarang rugi karena kondisi pasar
- Jika P/S saat ini 4x, maka “normalized P/S” dengan margin 15% → EPS sekitar 15% x pendapatan → PER sekitar (4 / 0,15) = 26,7x
Jadi, P/S 4x dengan margin normal 15% setara dengan PER 26,7x. Itulah valuasi sebenarnya jika laba pulih ke normal.
Langkah 3: Bandingkan dengan Rata-Rata Industri
Jangan bandingkan P/S perusahaan teknologi dengan ritel. Cari rata-rata P/S untuk industri yang sama.
| Industri | Rata-rata P/S |
|---|---|
| E-commerce | 2x – 6x |
| Software as a Service (SaaS) | 8x – 15x |
| Ritel modern | 0,5x – 1,5x |
| Consumer goods | 1,5x – 3x |
Langkah 4: Perhatikan Tren Pertumbuhan Pendapatan
P/S yang tinggi bisa diterima jika pendapatan tumbuh sangat cepat.
Aturan praktis (untuk perusahaan rugi):
- Pertumbuhan pendapatan <10% per tahun → P/S wajar < 2x
- Pertumbuhan pendapatan 10-20% per tahun → P/S wajar 2x-4x
- Pertumbuhan pendapatan 20-40% per tahun → P/S wajar 4x-8x
- Pertumbuhan pendapatan >40% per tahun → P/S wajar 8x-15x
Ini hanya patokan kasar, sangat tergantung margin laba potensial.
Langkah 5: Cek Kapan Perusahaan Diprediksi Balik Untung
Jika perusahaan rugi terus tanpa prospek balik untung, P/S rendah sekalipun tidak berarti. Cari tahu dari laporan manajemen atau analis: kapan diperkirakan perusahaan bisa mencetak laba positif?
Contoh Kasus: Membedakan Peluang dan Jebakan dengan P/S
Kasus 1: Jebakan (Value Trap)
Perusahaan Ritel “Murah Mart” (fiktif):
| Data | Nilai |
|---|---|
| P/S | 0,3x (sangat rendah) |
| Margin laba historis (saat untung) | 2% (tipis) |
| Tren pendapatan | Turun 5% per tahun |
| Utang | DER 3x (besar) |
| Prospek | Kalah bersaing dengan e-commerce |
Analisis:
- P/S 0,3x terlihat sangat murah.
- Tapi margin laba hanya 2%, artinya jika laba pulih ke normal, PER = 0,3 / 0,02 = 15x (tidak terlalu murah).
- Pendapatan turun, utang besar, prospek suram.
- Kesimpulan: Jebakan. P/S rendah tapi tidak ada prospek perbaikan.
Kasus 2: Peluang
Perusahaan Teknologi “Cloud Cepat” (fiktif):
| Data | Nilai |
|---|---|
| P/S | 6x (cukup tinggi) |
| Margin laba target (2 tahun lagi) | 25% |
| Tren pendapatan | Naik 50% per tahun |
| Utang | DER 0,5x (sehat) |
| Prospek | Industri cloud growing fast |
Analisis:
- P/S 6x terlihat mahal dari sisi absolut.
- Tapi margin target 25% → PER potensial = 6 / 0,25 = 24x (wajar untuk teknologi).
- Pendapatan naik 50% per tahun, prospek cerah.
- Kesimpulan: Peluang. P/S tinggi karena pertumbuhan cepat dan potensi margin tinggi di masa depan.
Rumus Bantuan: Normalized PER
Untuk perusahaan yang sedang rugi tapi punya margin laba normal di masa lalu:
Estimasi PER (jika laba normal) = P/S / Margin Laba Normal
Contoh:
- P/S = 4x
- Margin laba normal (sebelum rugi) = 10% (0,10)
- Estimasi PER = 4 / 0,10 = 40x
Jika estimasi PER 40x dan rata-rata industri 20x, maka saham ini masih mahal meskipun lagi rugi. Jika estimasi PER 15x dan industri 20x, saham ini menarik.
Kesalahan Umum Pemula dengan P/S
1. Membandingkan P/S Antar Sektor Berbeda
P/S 10x untuk perusahaan software belum tentu mahal. P/S 1x untuk perusahaan distribusi belum tentu murah. Margin laba sangat berbeda.
2. Menganggap P/S Rendah Selalu Bagus
P/S 0,3x terlihat murah. Tapi jika margin laba hanya 1%, setara dengan PER 30x (tidak murah). Apalagi jika pendapatan sedang turun.
3. Mengabaikan Pertumbuhan Pendapatan
P/S 2x untuk perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan -5% per tahun lebih mahal daripada P/S 5x untuk perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan +40% per tahun.
4. Menggunakan P/S untuk Perusahaan Keuangan
Bank dengan P/S 4x? Angka ini tidak bermakna karena pendapatan bank berbeda konsepnya. Gunakan PBV untuk bank.
Ringkasan: Kapan P/S Bisa Diandalkan
| Kondisi | Bisa Pakai P/S? | Keterangan |
|---|---|---|
| Perusahaan rugi, PER tidak bermakna | ✅ Sangat berguna | P/S jadi andalan utama |
| Perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi | ✅ Sangat berguna | Standar industri |
| Perusahaan siklikal di palung laba | ✅ Berguna | Bandingkan dengan siklus normal |
| Perusahaan dengan margin laba stabil | ✅ Cukup berguna | Kombinasikan dengan margin |
| Perusahaan dengan margin laba sangat tipis | ⚠️ Hati-hati | P/S rendah bisa normal |
| Perusahaan keuangan (bank, asuransi) | ❌ Jangan pakai | Pakai PBV dan PER |
| Perusahaan dengan pendapatan tidak stabil | ⚠️ Hati-hati | Cek tren jangka panjang |
Kesimpulan untuk Pemula
Price to Sales (P/S) adalah rasio yang sangat berguna ketika PER tidak bisa digunakan karena perusahaan sedang rugi.
Pesan penting:
- P/S = Harga / Pendapatan (penjualan). Semakin rendah, secara kasar semakin murah.
- Paling berguna untuk: teknologi, startup, perusahaan siklikal yang sedang rugi, perusahaan turnaround.
- Jangan gunakan P/S untuk bank atau asuransi.
- P/S tidak bisa berdiri sendiri. Selalu kombinasikan dengan:
- Margin laba (potensi profitabilitas di masa depan)
- Pertumbuhan pendapatan (apakah P/S tinggi terbayar oleh growth?)
- Utang (DER)
- Bandingkan P/S dengan rata-rata industri yang sama, bukan lintas sektor.
- Untuk pemula, fokus pada perusahaan dengan P/S < 5x dan pertumbuhan pendapatan positif, lalu selidiki lebih dalam.
Dengan memahami P/S, Anda tidak akan bingung ketika menemukan saham yang sedang rugi tapi memiliki prospek cerah. Anda bisa menilai apakah harga saat ini terlalu mahal atau masih wajar berdasarkan potensi pendapatannya.
Selamat belajar dan tetap bijak dalam berinvestasi!
Artikel menarik lainnya:
- Investment Yield Asuransi: Senjata Rahasia di Balik Laba Emiten
- Jebakan Saham Gorengan Psikologis: Ketika Keserakahan Memasuki Perangkap yang Dirancang Rapi
- Memahami Pola Tiga Candlestick: Deliberation (Masa Pertimbangan)
- Momentum (MOM): Indikator Paling Sederhana untuk Mengukur Kecepatan Harga
- Net Premium Growth: Mesin Pertumbuhan Utama Emiten Asuransi
- Status Quo Bias: Bahaya Malas Menyeimbangkan Kembali Portofolio
- Counterattack Line, Pertarungan Dua Kekuatan yang Berakhir Seimbang
- Pengertian Dividen: Tunai, Saham, dan Cara Hitung untuk Pemula
- Rasio Market Value Added (MVA): Ukuran Kekayaan yang Diciptakan untuk Pemegang Saham
- Monte Carlo Simulation untuk Risiko Portofolio: Melihat Ribuan Kemungkinan Masa Depan