Update: Kamis, 30 April 2026

ADMR

PT. Alamtri Minerals Indonesia Tbk.

Rp 1.850
-0.54%
Volume
445.706 lot
MA 5
1.865
MA 20
1.855
RSI
58.75
High
1.875
Low
1.780
Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Uptrend
Volatility (Avg)
2.24%
Support (10d)
1.780
Resistance (10d)
1.950
Volume Trend (10d)
-49.6%
Score
80
Win Rate (30d)
50 %
P/L (30d)
-1.60 %
Sinyal Trading
Bullish MA Cross: Golden Cross (MA5 > MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Strong momentum (58.8)
Neutral Volume: Normal volume
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 58.060 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham ADMR saat ini menunjukkan kecenderungan uptrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 58.8, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.24%. Area support terdekat berada di sekitar Rp1.780, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp1.950.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 80 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang bullish kuat dan mendukung peluang kenaikan harga.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk BUY. Sinyal bullish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan momentum positif dengan rasio risk/reward yang menarik.

Strategi yang disarankan: Harga saat ini: 1.850 atau saat terjadi pullback ke MA5. Target harga berada di kisaran 2.128 - 2.313 (15-25%), dengan batas stop loss di sekitar 1.758 (5% below entry). Gunakan manajemen risiko (money management) dan pantau arus dana asing.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel Teknikal Analisis

Chaikin Money Flow (CMF) – Mengukur Tekanan Beli dan Jual Secara Periodik

Dalam analisis teknikal, salah satu pertanyaan paling sulit dijawab adalah: Apakah tekanan beli atau tekanan jual yang sedang mendominasi pasar? Indikator volume seperti OBV dan A/D Line memberikan gambaran kumulatif sejak awal data. Namun, pendekatan kumulatif memiliki kelemahan: ia tidak pernah "reset". Akibatnya, tren lama bisa terus mempengaruhi pembacaan saat ini. Marc Chaikin, sang maestro di balik A/D Line, menyadari keterbatasan ini. Ia kemudian mengembangkan Chaikin Money Flow (CMF) – sebuah indikator yang mengukur tekanan beli dan jual dalam periode tertentu (biasanya 20 atau 21 hari), bukan secara kumulatif tanpa batas. Hasilnya adalah indikator yang lebih responsif terhadap kondisi pasar terkini, dengan batas atas dan bawah yang jelas. Apa Itu Chaikin Money Flow (CMF)? Chaikin Money Flow adalah indikator osilator yang mengukur accumulation/distribution dari...

On-Neck Line, Sinyal Pembalikan yang Sering Disalahartikan

Dalam dunia analisis teknikal saham, pola candlestick memiliki beragam nama yang unik dan mudah diingat. Salah satu pola yang tergolong sederhana namun sering disalahartikan oleh trader pemula adalah On-Neck Line. Pola ini termasuk dalam kategori pola pembalikan (reversal pattern), tetapi dengan karakteristik yang sangat spesifik. Keunikan On-Neck Line terletak pada posisi penutupan lilin kedua yang tepat berada pada level yang sama dengan penutupan lilin pertama—seolah-olah "menempel di leher". Artikel ini akan membahas secara lengkap kedua versi pola On-Neck Line (bullish dan bearish), karakteristiknya, psikologi di baliknya, serta cara memanfaatkannya dalam trading saham. Apa Itu Pola On-Neck Line? On-Neck Line adalah pola candlestick yang terdiri dari dua batang lilin dan termasuk dalam kategori pola pembalikan. Namanya diambil dari posisi lilin kedua yang "menempel di leher"...

Stacked Trendline: Ketika Banyak Garis Menjadi Satu Kekuatan Dahsyat

Setiap trader yang pernah belajar analisis teknikal pasti mengenal garis tren (trendline). Satu garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi atau terendah, membantu menentukan arah dan momentum pasar. Namun, pernahkah Anda membayangkan apa yang terjadi ketika banyak garis tren yang berbeda justru bertumpuk di area yang sama? Fenomena ini disebut Stacked Trendline atau Trendline Stack. Ia terjadi ketika beberapa garis tren dari periode waktu berbeda, kerangka waktu berbeda, atau titik referensi berbeda, semuanya berkumpul di area harga yang sempit. Stacked trendline bukanlah kebetulan. Ini adalah pertemuan kekuatan analitis yang memberi sinyal bahwa suatu level harga memiliki signifikansi luar biasa. Ketika banyak garis tren "menumpuk" di satu area, level tersebut menjadi seperti tembok benteng—sangat sulit ditembus. Dan ketika akhirnya ditembus, pergerakan yang terjadi biasanya eksplosif. Apa Itu...

Artikel menarik lainnya:

  1. Mengenal Alligator: Rahasia Bill Williams untuk Mengikuti Pasar yang "Bangun"
  2. Mengenal ADX: Mengukur Kekuatan Tren dengan Plus DI dan Minus DI
  3. Falling Broadening Wedge: Pola Ekspansi yang Menjadi Kontraksi
  4. Rising Wedge: Wedge Naik yang Menjebak Trader Optimis
  5. Memahami Pola Doji: Sinyal Netral yang Bisa Menjadi Pembalik Tren
  6. Mengenal Moving Average: SMA, EMA, WMA, dan HMA – Panduan Lengkap untuk Trader
  7. Market Facilitation Index (MFI) Bill Williams: Membaca Hubungan Harga dan Volume
  8. ATR (Average True Range) – Tidak Ada Pola, Tapi untuk Stop Loss
  9. High Node dan Low Node: Membaca Peta Kepadatan Volume untuk Menangkap Pergerakan Harga
  10. Upside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bullish yang Jarang Dikenal

TradingView Chart - ADMR