Update: Kamis, 30 April 2026

CLAY

PT. Citra Putra Realty Tbk.

Rp 2.840
0.00%
Volume
239 lot
MA 5
2.836
MA 20
2.756
RSI
77.50
High
2.850
Low
2.820
Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Uptrend
Volatility (Avg)
1.29%
Support (10d)
2.650
Resistance (10d)
2.850
Volume Trend (10d)
-13.8%
Score
40
Win Rate (30d)
53.33 %
P/L (30d)
2.16 %
Sinyal Trading
Bullish MA Cross: Golden Cross (MA5 > MA20)
Bullish Price Position: Price above MA5 (Short-term bullish)
Bearish RSI: Overbought (77.5) - Potential correction
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -3 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham CLAY saat ini menunjukkan kecenderungan strong uptrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 77.5, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh beli (overbought) sehingga berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.29%. Area support terdekat berada di sekitar Rp2.650, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp2.850.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 40 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 2.650, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel Teknikal Analisis

The Inside Bar: Range di Dalam Range Sebelumnya sebagai Sinyal Konsolidasi

Dalam analisis teknikal, pasar tidak selalu bergerak dalam tren yang jelas. Sebagian besar waktu, harga bergerak sideways dalam fase konsolidasi—naik turun dalam rentang yang sempit. Di sinilah Inside Bar berperan. Inside Bar adalah pola candlestick di mana seluruh rentang harga (high dan low) dari sebuah periode berada sepenuhnya di dalam rentang harga periode sebelumnya. Pola ini sangat populer di kalangan swing trader dan breakout trader karena Inside Bar sering muncul tepat sebelum harga melepaskan diri dari konsolidasi dan memulai pergerakan besar. Jika Outside Bar adalah "ledakan" volatilitas, maka Inside Bar adalah "ketenangan sebelum badai". Karakteristik Inside Bar Inside Bar adalah pola dua candlestick di mana candlestick kedua (inside bar) memiliki high yang lebih rendah dari high candlestick pertama, dan low yang lebih tinggi dari...

Mengenal Bollinger Bands: Squeeze, Walking the Band, dan Double Bottom di Lower Band

Dalam analisis teknikal saham, ada satu indikator yang sangat populer karena kemampuannya menggabungkan konsep volatilitas, support/resistance dinamis, dan overbought/oversold dalam satu tampilan. Indikator itu adalah Bollinger Bands (Pita Bollinger). Bollinger Bands dikembangkan oleh John Bollinger pada tahun 1980-an. Indikator ini terdiri dari tiga garis yang mengelilingi pergerakan harga, membentuk seperti pita. Keunikan Bollinger Bands adalah lebarnya yang berubah-ubah mengikuti volatilitas pasar – ketika volatilitas tinggi, pita melebar; ketika volatilitas rendah, pita menyempit. Bollinger Bands memiliki tiga pola paling terkenal yang wajib dikuasai setiap trader: Squeeze (perubahan volatilitas), Walking the Band (trend kuat), dan Double Bottom di Lower Band (pola reversal). Artikel ini akan membahas ketiganya secara lengkap. Apa Itu Bollinger Bands? Bollinger Bands adalah indikator yang terdiri dari tiga garis: Komponen Parameter Standar Warna...

Ending Volume: Volume Mengecil di Akhir Tren sebagai Tanda Kelelahan

Dalam analisis teknikal, volume adalah cerminan dari antusiasme dan partisipasi pelaku pasar. Ketika tren sedang berlangsung kuat, volume cenderung tinggi atau setidaknya konsisten. Namun, ada kondisi di mana volume mulai mengecil secara bertahap di akhir sebuah tren—baik tren naik maupun tren turun. Kondisi ini dikenal sebagai Ending Volume atau Volume Contraction. Ending volume adalah sinyal bahwa tren sedang kehilangan "bahan bakar". Semakin sedikit partisipasi, semakin lemah momentum. Ketika volume terus menurun sementara harga masih bergerak dalam satu arah, itu adalah peringatan bahwa tren tidak lagi didukung oleh keyakinan yang kuat—dan koreksi atau pembalikan mungkin sudah dekat. Karakteristik Ending Volume Ending volume adalah pola di mana volume perdagangan menurun secara bertahap dalam beberapa periode terakhir dari sebuah tren, sementara harga masih bergerak dalam arah yang...

Artikel menarik lainnya:

  1. Ladder Top: Pola Bearish Lima Candlestick yang Jarang Tapi Mematikan
  2. Negative Volume Index (NVI) dan Positive Volume Index (PVI) – Membaca Cerdas di Hari Sepi
  3. Rainbow Moving Average: Membaca Kekuatan Tren dengan Lapisan Ganda
  4. Upside Gap Two Crows: Pola Gagak yang Membawa Kabar Buruk bagi Harga Saham Anda
  5. Tristar: Pola Tiga Doji yang Menandakan Titik Balik Pasar
  6. Double Top: Sinyal Pembalikan Bearish yang Tak Boleh Diabaikan
  7. Mat Hold: Pola Kelanjutan Tren Paling Kuat yang Jarang Diketahui
  8. Churning: Volume Besar, Range Kecil sebagai Tanda Distribusi dan Akumulasi
  9. Seasonal Pattern: Januari, Ramadhan, dan Efek Kalender dalam Saham
  10. Time Series Forecast: Memprediksi Harga Masa Depan dari Pola Masa Lalu

TradingView Chart - CLAY