Update: Rabu, 13 Mei 2026

CRSN

PT. Carsurin Tbk.

Rp 109
-2.68%
Volume
1.814 lot
MA 5
114
MA 20
116
RSI
40.00
High
112
Low
109
Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.22%
Support (10d)
109
Resistance (10d)
128
Volume Trend (10d)
+57.3%
Score
10
Win Rate (30d)
36.67 %
P/L (30d)
3.81 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Neutral RSI: Neutral (40.0)
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -249 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham CRSN saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 40.0, yang menandakan bahwa momentum pergerakan harga masih tergolong stabil di area netral.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.22%. Area support terdekat berada di sekitar Rp109, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp128.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 10 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 104 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Ketika Suku Bunga Naik, Siapa yang Paling Terluka? Analisis Sensitivitas Beban Keuangan dalam Saham

Tahun 2022 hingga 2024 menjadi periode yang tidak terlupakan bagi investor saham global dan domestik. Bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga acuan secara dramatis untuk memerangi inflasi. Di Indonesia, BI Rate naik dari level historis rendah 3,5% ke kisaran 6%. Akibatnya? Banyak perusahaan yang sebelumnya nyaman dengan utang berbunga rendah, tiba-tiba menghadapi lonjakan beban bunga yang menggerus laba bersih. Fenomena ini mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua saham bereaksi sama terhadap perubahan suku bunga. Perusahaan dengan utang besar dan sensitivitas tinggi akan babak belur, sementara perusahaan tanpa utang hampir tidak terdampak. Artikel ini akan membahas bagaimana menganalisis sensitivitas beban keuangan perusahaan terhadap perubahan suku bunga, langkah-langkah perhitungan, indikator kunci yang harus dipantau, serta strategi investasi di berbagai siklus suku bunga. Mengapa Suku Bunga...

Artikel menarik lainnya:

  1. The False Bar: Breakout Palsu di Timeframe Kecil
  2. Rasio Likuiditas Cepat (Acid Test Ratio): Detektor Kebenaran Kemampuan Bayar Utang Perusahaan
  3. Unbilled Revenue: Jendela Menuju Pendapatan Masa Depan Konstruksi
  4. Ichimoku Kinko Hyo: Awan yang Menunjukkan Support, Resistance, dan Momentum
  5. Margin Trading: Kelebihan dan Bahaya yang Wajib Diketahui Investor
  6. Portfolio Rebalancing: Bulanan vs Tahunan, Mana yang Lebih Menguntungkan?
  7. Pola AB=CD: Formasi Harmonic Paling Dasar yang Wajib Dikuasai
  8. Double Top: Sinyal Pembalikan Bearish yang Tak Boleh Diabaikan
  9. Upside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bullish yang Jarang Dikenal
  10. Extended Wave: Ketika Satu Gelombang Memanjang di Antara Gelombang Lainnya

TradingView Chart - CRSN