Update: Rabu, 13 Mei 2026

KBLV

PT. First Media Tbk.

Rp 106
-0.93%
Volume
22.882 lot
MA 5
110
MA 20
121
RSI
17.95
High
108
Low
105
Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.41%
Support (10d)
104
Resistance (10d)
126
Volume Trend (10d)
-54.4%
Score
55
Win Rate (30d)
40 %
P/L (30d)
0.95 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (18.0) - Potential reversal
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bullish Foreign Flow: Foreign net buying (Last 5 days avg: 2.918 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham KBLV saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 18.0, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.41%. Area support terdekat berada di sekitar Rp104, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp126.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 55 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk HOLD. Sinyal campuran muncul. Pasar menunjukkan ketidakpastian tanpa arah yang jelas saat ini.

Strategi yang disarankan: Tunggu breakout diatas 126 (resistance). Target harga berada di kisaran Target setelah terjadi breakout: 139, dengan batas stop loss di sekitar Dibawah 104 (support). Dibutuhkan kesabaran. Pantau lonjakan volume dan konfirmasi arah tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel

Regret Aversion: Ketika Ketakutan Akan Penyesalan Melumpuhkan Keputusan Investasi Anda

Seorang investor telah mengamati harga saham PT Teknologi selama tiga bulan. Ia yakin secara fundamental saham ini bagus. Ia sudah siap membeli. Tapi ia tidak jadi membeli. "Mungkin lebih baik tunggu koreksi dulu," pikirnya. Minggu berlalu. Harga terus naik. Ia masih menunggu. Harga naik lagi. Ia tidak pernah membeli. Enam bulan kemudian, saham tersebut telah naik 80%. Investor itu hanya bisa menyesal. "Seharusnya saya beli dulu," keluhnya. Di lain waktu, investor yang sama memiliki saham yang sudah turun 15% dari harga belinya. Ia tahu secara analisis bahwa sebaiknya cut loss. Tapi ia tidak melakukannya. "Bagaimana kalau saya jual, lalu harganya naik lagi? Saya akan menyesal seumur hidup," pikirnya. Ia mempertahankan saham tersebut. Harga terus turun hingga 50%. Kini kerugiannya sudah terlalu besar untuk dipotong. Inilah...

Artikel menarik lainnya:

  1. Price to GMV: Tolok Ukur Valuasi untuk E-commerce dan Marketplace
  2. Membangun Portofolio dengan ETF Saham: Praktis, Murah, dan Modern
  3. Double Bottom: Sinyal Pembalikan Bullish yang Wajib Diketahui Trader
  4. Strategi Barbell: Keseimbangan Ekstrem untuk Hasil Optimal
  5. Rasio ROE (Return on Equity) untuk Screening Saham
  6. Cara Membeli Saham Pertama Kali di Sekuritas: Panduan Langkah demi Langkah untuk Pemula
  7. Triple Bottom: Tiga Lembah yang Menandai Awal Tren Naik
  8. Cash Conversion Cycle (CCC): Mengukur Efisiensi Arus Kas dari Hulu ke Hilir
  9. Perbedaan Day Trader vs Investor: Dua Dunia, Dua Psikologi yang Berbeda
  10. Alternate AB=CD: Ketika AB Tidak Lagi Sama dengan CD

TradingView Chart - KBLV