Update: Kamis, 30 April 2026

RSCH

PT. Charlie Hospital Semarang Tbk.

Rp 274
-2.84%
Volume
235.834 lot
MA 5
280
MA 20
313
RSI
25.00
High
288
Low
270
Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
2.92%
Support (10d)
268
Resistance (10d)
366
Volume Trend (10d)
-1.2%
Score
45
Win Rate (30d)
40 %
P/L (30d)
-23.46 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (25.0) - Potential reversal
Bullish Volume: Volume spike - High activity
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -2.017 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham RSCH saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 25.0, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 2.92%. Area support terdekat berada di sekitar Rp268, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp366.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 45 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang relatif netral dan belum menunjukkan arah pasti.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Kecenderungan masih bearish, namun momentum melemah; rasio risk–reward kurang menarik.

Strategi yang disarankan: Exit jika terjadi rally menuju resistance. Target harga berada di kisaran Evaluasi kembali pada level support: 268, dengan batas stop loss di sekitar Batas risiko: di atas level tertinggi terbaru. Tetap menunggu sampai muncul sinyal yang lebih jelas.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel Teknikal Analisis

ATR (Average True Range) – Tidak Ada Pola, Tapi untuk Stop Loss

Dalam dunia trading saham, banyak sekali indikator teknikal yang digunakan untuk mengenali pola, tren, atau sinyal beli dan jual. Mulai dari Moving Average, RSI, MACD, hingga Bollinger Bands. Namun, ada satu indikator yang kerap dianggap unik karena fungsinya tidak untuk mencari pola. Indikator itu adalah ATR (Average True Range). ATR tidak pernah memberi tahu Anda apakah harga saham akan naik, turun, atau sideways. ATR tidak menghasilkan garis support-resistance dinamis, dan tidak memberikan sinyal overbought atau oversold. Lalu, untuk apa ATR digunakan? Jawabannya sederhana: ATR dirancang khusus untuk mengelola volatilitas dan menentukan stop loss yang adaptif. Apa Itu ATR (Average True Range)? Dikembangkan oleh Welles Wilder (tokoh di balik RSI dan Parabolic SAR), ATR mengukur seberapa besar pergerakan harga suatu saham dalam periode tertentu. Wilder...

Rounding Top (Dome): Kubah yang Menandai Perlahan Berakhirnya Tren Naik

Dalam analisis teknikal saham, sebagian besar pola pembalikan terbentuk secara tajam dan drastis. Namun, ada satu pola yang sangat berbeda: ia terbentuk secara perlahan, bertahap, dan sering kali tidak disadari oleh banyak trader. Pola itu adalah Rounding Top, yang juga dikenal sebagai Dome atau Inverse Saucer. Rounding Top adalah pola yang menggambarkan perubahan psikologi pasar secara gradual, dari euphoria menjadi apatis, lalu menjadi pesimisme. Tidak seperti Double Top atau Head and Shoulders yang terbentuk dengan gerakan harga yang jelas naik-turun, Rounding Top membentuk kurva yang melengkung halus seperti kubah atau setengah lingkaran. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang Rounding Top, mulai dari karakteristik, psikologi di baliknya, cara identifikasi, hingga strategi trading yang efektif. Apa Itu Pola Rounding Top? Rounding Top adalah pola pembalikan...

Downside Gap Three Methods: Pola Kelanjutan Bearish yang Sering Disalahartikan

Dalam analisis teknikal candlestick, kebanyakan trader lebih fokus mencari sinyal pembalikan (reversal). Mereka ingin tahu kapan harga akan berbalik arah. Namun, ada kalanya justru sinyal kelanjutan (continuation) yang lebih berharga, karena memungkinkan trader ikut mengendarai tren yang sudah berjalan. Salah satu pola kelanjutan bearish yang paling menarik namun jarang dibahas adalah Downside Gap Three Methods. Pola multi candlestick ini adalah "saudara" dari Upside Gap Two Crows, tapi dengan cerita yang berbeda. Mari kita bedah. Apa Itu Downside Gap Three Methods? Downside Gap Three Methods adalah pola kelanjutan bearish (bearish continuation) yang terdiri dari empat candlestick dan muncul setelah downtrend yang sudah berlangsung. Namanya cukup deskriptif: Downside: mengarah ke bawah (bearish) Gap: ada celah harga Three Methods: tiga metode/candlestick tambahan setelah gap Pola ini menceritakan...

Artikel menarik lainnya:

  1. Stacked Imbalance: Membaca Sinyal Ketidakseimbangan Order
  2. Gartley: Formasi Harmonis yang Memadukan Geometri dan Fibonacci
  3. Negative Volume Index (NVI) dan Positive Volume Index (PVI) – Membaca Cerdas di Hari Sepi
  4. Fibonacci Retracement – Level-Level Ajaib untuk Pullback dan Reversal
  5. Downside Tasuki Gap: Pola Lanjutan Bearish yang Mematikan
  6. Chaikin Volatility – Mengukur Kecepatan Perubahan Harga
  7. Churning: Volume Besar, Range Kecil sebagai Tanda Distribusi dan Akumulasi
  8. Mengintip Aliran Uang di Dalam Candle: Memahami Footprint Chart
  9. Falling Broadening Wedge: Pola Ekspansi yang Menjadi Kontraksi
  10. The Hook Pattern: Versi Lain dari Hook Reversal dalam Sistem Joe Ross

TradingView Chart - RSCH