Update: Kamis, 30 April 2026

MBAP

PT. Mitrabara Adiperdana Tbk.

Rp 1.650
-1.20%
Volume
421 lot
MA 5
1.663
MA 20
1.745
RSI
18.75
High
1.710
Low
1.650
Harga, MA, RSI
Indikator Teknis
Trend
Strong Downtrend
Volatility (Avg)
1.38%
Support (10d)
1.625
Resistance (10d)
1.770
Volume Trend (10d)
-19.4%
Score
30
Win Rate (30d)
40 %
P/L (30d)
-7.30 %
Sinyal Trading
Bearish MA Cross: Death Cross (MA5 < MA20)
Bearish Price Position: Price below MA5 (Short-term bearish)
Bullish RSI: Oversold (18.8) - Potential reversal
Bearish Volume: Low volume - Weak momentum
Bearish Foreign Flow: Foreign net selling (Last 5 days avg: -32 lot)

Berdasarkan hasil perhitungan indikator teknikal, saham MBAP saat ini menunjukkan kecenderungan strong downtrend pada periode perdagangan terakhir. Nilai RSI saat ini adalah 18.8, yang menandakan bahwa saham berada pada kondisi jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah ke atas.

Tingkat volatilitas rata-rata dalam beberapa hari terakhir tercatat sebesar 1.38%. Area support terdekat berada di sekitar Rp1.625, sementara area resistance terdekat berada di kisaran Rp1.770.

Skor teknikal keseluruhan saat ini adalah 30 poin, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang cenderung bearish dan berisiko mengalami tekanan jual.

Berdasarkan analisa tersebut, sistem memberikan rekomendasi untuk SELL. Sinyal bearish kuat terdeteksi; beberapa indikator menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut.

Strategi yang disarankan: Keluar pada harga saat ini atau saat terjadi rebound menuju MA5. Target harga berada di kisaran Pertimbangkan masuk kembali di 1.544 (near support), dengan batas stop loss di sekitar Minimalkan kerugian, keluar saat harga menguat. Hindari membeli saat harga masih turun. Tunggu konfirmasi pembalikan tren.

TradingView Chart
Memuat grafik...
Volume & Frekuensi
Foreign Net Buy (lot)
Pasar Nego & Pasar Tunai (Non Regular)
Artikel Teknikal Analisis

Keltner Channel: Pita yang Mengikuti Volatilitas dengan Lebih Halus

Dalam analisis teknikal saham, setelah mempelajari Bollinger Bands yang menggunakan standar deviasi, kini saatnya mengenal saudaranya yang menggunakan konsep berbeda: Keltner Channel (atau Keltner Channels). Keltner Channel dikembangkan oleh Chester Keltner pada tahun 1960-an, kemudian dimodifikasi oleh Linda Bradford Raschke pada tahun 1980-an menjadi versi yang populer saat ini. Berbeda dengan Bollinger Bands yang menggunakan standar deviasi (dipengaruhi oleh volatilitas ekstrem), Keltner Channel menggunakan Average True Range (ATR) untuk menentukan lebar pita. Hasilnya adalah pita yang lebih halus, tidak se-"ekstrem" Bollinger Bands, tetapi sangat baik untuk mengidentifikasi tren dan breakout dalam konteks volatilitas yang lebih stabil. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang Keltner Channel, mulai dari cara perhitungan, perbedaan dengan Bollinger Bands, interpretasi dasar, pola-pola penting, hingga strategi trading yang efektif. Apa Itu...

The 2B Pattern: Pola False Breakout Reversal dari Joe Ross

Dalam analisis teknikal, salah satu momen paling menegangkan adalah ketika harga menembus level support atau resistance yang penting. Apakah ini awal dari tren baru, atau hanya jebakan (false breakout)? Joe Ross, trader legendaris yang juga mengembangkan The 1-2-3 Pattern, memiliki jawabannya: The 2B Pattern. Pola 2B adalah salah satu kontribusi paling berharga dari Joe Ross. Nama "2B" berasal dari "2nd Breakout" atau "Breakout Failure"—menggambarkan situasi di mana harga mencoba menembus level tertinggi atau terendah sebelumnya (breakout) tetapi gagal bertahan, kemudian berbalik arah dengan cepat. Bagi trader yang ingin menghindari jebakan breakout dan justru memanfaatkannya untuk entry di awal pembalikan, The 2B Pattern adalah alat yang sangat efektif. Karakteristik The 2B Pattern The 2B Pattern adalah pola reversal yang terjadi ketika harga sejenak menembus level...

Mengenal Aroon: Menangkap Momentum dengan Crossover Aroon Up dan Aroon Down

Dalam analisis teknikal saham, sebagian besar indikator dirancang untuk mengikuti harga atau mengukur momentum setelah pergerakan terjadi. Namun, ada satu indikator yang unik karena ia mengukur berapa lama harga telah mencapai titik tertinggi atau terendah dalam periode tertentu. Indikator itu adalah Aroon. Aroon dikembangkan oleh Tushar Chande pada tahun 1995. Nama "Aroon" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "fajar" atau "awal dari sesuatu". Nama ini dipilih karena indikator ini dirancang untuk mendeteksi awal dari sebuah tren baru – seperti fajar yang menandai awal dari hari baru. Aroon berbeda dari indikator lain karena ia tidak menggunakan harga penutupan (close) secara langsung. Ia hanya menghitung berapa lama sejak harga mencapai titik tertinggi (high) dan titik terendah (low) dalam periode tertentu. Semakin baru titik ekstrem tersebut, semakin...

Artikel menarik lainnya:

  1. Mengenal Stochastic: Fast, Slow, Full – dan Pola Crossover
  2. Extended Wave: Ketika Satu Gelombang Memanjang di Antara Gelombang Lainnya
  3. Stacked Imbalance: Membaca Sinyal Ketidakseimbangan Order
  4. Gann Emblem: Simbol Harmoni Harga dan Waktu
  5. Harami Bullish: Sinyal Kehamilan yang Menandakan Kelahiran Tren Baru
  6. Thrusting Pattern, Sinyal Kelanjutan yang Sering Disangka Pembalikan
  7. Andrews' Pitchfork – Garpu Tala yang Mengukur Irama Harga
  8. Meeting Lines: Ketika Bull dan Bear Bertemu di Titik yang Sama
  9. Cypher: Sandi Rahasia Pembalikan Harga yang Akurat
  10. Symmetrical Triangle: Segitiga Simetris yang Netral Namun Penuh Peluang

TradingView Chart - MBAP